Dulu Minat Baca Tinggi, Beda dengan Sekarang

Kisah Kakek Mustaqim Bertahan Menjual Buku

MASIH BERTAHAN: Mustaqim, salah seorang kakek penjual buku yang masih bertahan hingga saat ini.

RADAR JEMBER.ID – Ruang tamu Mustaqim, di Kampung Ledok Kelurahan Jember Kidul dipenuhi dengan berbagai buku. Buku-buku tersebut tak hanya menjadi perpustakaan, namun juga diperjualbelikan. Sambil menunggu pembeli, pria 70 tahun itu terus membaca buku.

IKLAN

Begitulah rutinitas keseharian Mustaqim di rumahnya. Membaca sudah tak bisa dipisahkan lagi dalam perjalanan hidupnya. Anak muda sepertinya harus belajar darinya soal keistiqamahannya membaca buku.

Meskipun usianya sudah tak muda lagi, namun rasa cintanya pada buku begitu mendalam. Setiap sudut ruangan, buku-bukunya tertata dengan rapi. Tak tanggung, jumlahnya mencapai ribuan.

Uniknya, koleksi buku Mustaqim merupakan buku-buku kuno yang terbit sekitar tahun 1940 hingga 1950. Selain itu, ada juga buku yang terbit sekitar sepuluh tahun belakangan. Buku itu juga dijualnya, sebagai aktivitas ekonomi Mustaqim.

Koleksi buku itu dimulai sejak tahun 1963 lalu. Kegiatan itu berawal dari tuntutan keluarga untuk bekerja. Saat itu, dia masih belum memiliki penghasilan. Sementara itu, orang tuanya sudah meninggal dunia. Akibatnya, Mustaqim kecil tidak bisa mengenyam bangku pendidikan.

“Saya tidak sekolah, saya tidak baca, apalagi nulis,” katanya. Namun, Mustaqim tak menerima kondisi itu begitu saja. Mustaqim mengawalinya dengan mencoba peruntungan lain dengan berjualan koran bekas.

Setiap hari, dia menggunakan sepeda ontel untuk menjual koran. Penghasilan menjual koran dikumpulkan, lalu digunakan untuk membeli buku-buku bekas yang saat itu diambil di Pasar Tanjung. “Saya beli bukunya sekaligus saya pelajari,” akunya.

Lambat laun, dia berhenti berjualan koran dan berganti berjualan buku. Bahkan, dirinya bisa menghabiskan puluhan buku dalam satu minggu. “Karena orang dulu minat bacanya tinggi. Beda dengan orang sekarang,” imbuhnya lagi.

Sambil berjualan, dia memberanikan diri belajar membaca dan menulis sendiri. Padahal, dia tidak pernah mengetahui judul apalagi isi buku-buku yang dijualnya. Sebab, memang tidak bisa membaca, apalagi menulis.

Puncak bisnis jual bukunya, kata dia, saat  ditawar oleh salah seorang pustakawan agar menjualkan ribuan buku-bukunya yang tersimpan di perpustakaan. Bahkan, dirinya sempat wira-wiri ke Surabaya melangsungkan usaha jual buku itu. Namun, sekitar tahun 1984, usaha jual bukunya itu mulai goyah. “Pada Tahun itu banyak penerbit menjual buku langsung ke sekolah-sekolah, sehingga mematikan usaha buku saya,” jelas pria lima anak itu.

Bisnisnya yang sempat dilanda krisis itu membuat perekonomian keluarga mulai goyah. Tak jarang, lanjut Mustaqim, dia harus menjual sejumlah barang-barang pribadinya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak. Bahkan, salah satu putra sulungnya harus putus kuliah saat masuk pertengahan semester di salah satu perguruan tinggi di Jember.

Sayangnya, bisnis Mustaqim terpengaruh dengan perkembangan zaman. Bukunya mulai tidak laku di pasaran. “Sejak saat itu, banyak tekanan sana-sini. Akhirnya, buku saya jual kiloan habis semuanya,” ungkapnya.

Beberapa tahun kemudian, dia kembali merintis usaha menjual buku sampai sekarang. Namun, usaha tidak seperti dulu yang berkembang. “Saya menyesal karena tidak adanya keahlian lain,” pungkasnya. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Bagus Supriadi