Harga Anjlok karena Restoran Tutup

BUAH PEDAS: Seorang petani tengah memanen tanaman cabai di sawah. Saat ini, meski produksi cabai sedikit, namun harga di tingkat petani justru anjlok. Mereka mengaku rugi lantaran biaya produksi lebih besar ketimbang harga jual.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Meski Lebaran telah lewat, tapi masih banyak rumah makan yang belum buka normal. Sejumlah restoran, warung, dan rumah makan terpantau belum sepenuhnya melayani pengunjung. Kalaupun ada yang memilih buka, pengelola masih membatasi jam operasional. Bahkan, ada juga yang memilih tutup.

IKLAN

Kondisi ini berdampak terhadap sejumlah komoditas pertanian. Beberapa harga bahan pokok di pasar, seperti cabai berbagai jenis, mengalami penurunan. Sehingga beberapa petani cabai mengaku merugi lantaran harga jualnya masih jauh dengan biaya produksi. “Di tingkat petani, harga cabai rawit merah di kisaran Rp 7.000 per kilogram. Sedangkan cabai merah besar juga sama, tak sampai Rp 10 ribu per kilogram,” kata Mahmud, petani cabai asal Kecamatan Wuluhan.

Mahmud mengaku heran, kenapa harga cabai di tingkat petani sangat rendah. Padahal saat ini produksinya sedikit karena petani sulit membudidayakan tanaman pedas tersebut. Selain faktor cuaca yang tidak menentu, serangan hama kutu daun kapas juga membuat tanaman cabai menjadi kerdil dan sulit berbuah. “Kalau produksi melimpah, mungkin wajar harga murah. Tapi saat ini, budi daya cabai sulit, produksinya juga sedikit. Tapi harga malah anjlok. Ini kan aneh,” ucapnya.

Rupanya, selisih harga cabai di tingkat petani dan di pasar cukup jauh. Berdasarkan laman Siskaperbapo, website yang menampilkan harga bahan pokok ini mencatat, harga komoditas cabai berbagai jenis di tiga pasar besar di Jember berkisar antara Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Disparitas harga yang cukup jauh ini dinilai sangat merugikan petani. “Pemerintah harus turun tangan. Jangan sampai kondisi yang sulit ini, justru dimanfaatkan oleh tengkulak,” pinta Mahmud, setelah mengetahui daftar harga cabai di laman resmi milik Diperindag Jawa Timur tersebut.

Sementara itu, Septa, salah satu pedagang cabai di Pasar Tanjung, mengaku, harga normal cabai rawit berada di harga Rp 20 ribu per kilogram. Bahkan, sebelum Lebaran lalu harganya sempat naik mencapai Rp 25 ribu per kilogram. “Tapi sekarang ini anjlok jadi Rp 15 ribu per kilogramnya,” tutur Septa.

Dia mengaku, turunnya harga cabai itu dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya masa pembatasan operasional pasar selama masa pandemi virus korona ini, sehingga konsumsi masyarakat terhadap cabai semakin berkurang. “Apalagi masih banyak kafe, warung makan, maupun restoran yang masih tutup,” imbuh Septa.

Biasanya, kata dia, cabai di pasar Jember rata-rata didatangkan langsung dari Kabupaten Malang. Jika dinilai dari segi kualitas, cabai yang ada memang cukup bagus. Hanya saja, saat ini para pengepul cabai belum berani mengambil langsung dari Malang. Sebab, memang permintaan masih berkurang. Sehingga, pedagang masih mengandalkan pasokan cabai dari petani lokal.

Berbeda dengan harga cabai, harga bahan kebutuhan pokok lainnya semacam bawang merah sekarang ini justru naik. Dari harga Rp 40 ribu per kilogram menjadi Rp 60 ribu. Selain bawang merah, daging ayam juga mengalami kenaikan. Harga saat ini berada di kisaran Rp 35 ribu per kilogram dari harga biasanya Rp 20 ribu per kilogram.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Dwi Siswanto