alexametrics
20.9C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

NAJAB

Kecelakaan laut di Plawangan, Puger, bukan hal baru. Hampir tiap tahun terjadi. Namun, hingga kini masih banyak nelayan yang enggan mengenakan pelampung. Banyak faktor yang menjadi penyebab. Mulai dari alasan teknis, hingga keyakinan lokal yang disebut Najab. Bagaimana seharusnya pemerintah memandang kearifan lokal itu dalam program keselamatan untuk nelayan?

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sederet faktor ditengarai jadi penyebab kenapa hingga kini problem keselamatan nelayan belum juga terpecahkan. Meski pemerintah telah membangun breakwater atau pemecah ombak, dan membeli pelampung untuk dibagikan kepada nelayan. Namun, sampai saat ini, kasus kecelakaan di jalur Plawangan yang memakan korban jiwa masih saja terjadi. Terbaru adalah kasus hilangnya Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Malang, yang tenggelam setelah perahunya terbalik di Plawangan.

Beragam spekulasi pun mencuat. Salah satu yang santer adalah, selama ini pemerintah cenderung mengabaikan kepercayaan lokal nelayan Puger dalam setiap program pembangunan yang dilakukan. Pemerintah terlalu percaya diri menggunakan pendekatan teknis-birokratis.

Pemerintah menganggap, apa yang mereka lalukan dapat menjawab persoalan nelayan. Padahal sebaliknya. Dua kegagalan pemerintah dalam mencegah terjadinya kecelakaan laut di Plawangan adalah kurang efektifnya pembangunan breakwater menghalau ombak, dan pengadaan pelampung. Program itu dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan nelayan, karena berbenturan dengan kearifan lokal.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ya, di jalur Plawangan inilah banyak nelayan yang celaka. Siapa sangka, lokasi yang menjadi spot andalan para pemancing itu rupanya banyak menyimpan petaka. Biasanya kapal karam, menewaskan ABK dan nelayan. Padahal, tepat di Plawangan itu, breakwater sudah dibuat untuk menjinakkan kegarangan ombak laut selatan. Namun nahas, korban laka laut terus ada.

Kerapnya intensitas laka laut di Plawangan itu sontak mendapat sorotan. Apa sebenarnya faktor yang mendasari. Dan sudah tepatkah program yang dijalankan pemerintah selama ini? Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah nelayan. Berikut penuturan para tetua atau nelayan kawakan, serta ketua forum komunikasi nelayan di Puger.

Rata-rata mereka menyebut, dua tahun belakangan, laka laut memang banyak terjadi di Plawangan. Belum terdengar kabar kecelakaan terjadi di tengah laut. “Paling sering perahu atau jukung nelayan karam di Plawangan ini,” ucap Catur, nelayan yang tinggal persis tak jauh dari Plawangan.

Padahal, jika diamati di lokasi sekitar Plawangan, jalur itu cukup ramai dilewati jukung atau perahu nelayan. Siang, sore, malam hari, bahkan pagi hari sepulang nelayan pulang melaut. “Mereka yang kelihatan aman-aman saja, sudah ada perhitungan matang ketika melewati Plawangan itu,” timpal Tomiri, nelayan lain asal Puger Wetan yang juga ditemui Jawa Pos Radar, kemarin (4/4).

Perhitungan matang yang dimaksudnya itu menarik. Sebab, disebut sebagai salah satu dari sekian faktor keselamatan nelayan saat berangkat dan pulang melaut. “Mereka yang karam di Plawangan, mungkin nelayan anak-anak muda. Kebanyakan juga nelayan pendatang,” sambungnya.

Seperti halnya berkendara motor, melaut juga membutuhkan aspek atau pertimbangan keamanan. Bahkan wajib. Namun, hal itu belum sepenuhnya menjadi prioritas nelayan. Sebab, ada rumor yang berkembang di warga atau nelayan Puger, menjaga diri dengan seperangkat alat keselamatan, misalnya pelampung, justru dianggap mengundang bala atau musibah yang bisa menimpa mereka. Kepercayaan lokal itu, nelayan Puger menyebutnya dengan istilah najab.

Salim, nelayan kawakan yang sejak era 60-an telah melaut di pantai selatan Puger, menjelaskan mengenai keyakinan lokal bernama najab itu. “Najab artinya wani (berani, Red). Maksudnya, keberanian yang tanpa didasari niat luhur dan tata krama,” jelasnya.

Filosofi najab belum terhenti sampai di situ. Kakek 79 tahun yang juga Ketua RW 03 Puger Wetan itu menjelentrehkan, sebenarnya najab menjadi keyakinan masyarakat atau nelayan Puger sudah sejak lama. Ia tidak menyebut pasti, namun sejak era 60-an, keyakinan itu sudah ada. “Sejak zaman pascakemerdekaan, ada Gestapu zaman dulu, najab sudah ada,” ungkapnya.

Keyakinan tentang najab mengakar kuat di zaman Salim. Kepercayaan lokal itu membentuk cara berpikir warga, bahwa urusan keselamatan itu sudah ada yang mengatur. Karena itu, tidak perlu alat keselamatan seperti pelampung. “Kami hanya ikhtiar saja. Dengan cara niat dan tatak rama yang baik saat berangkat dan pulang melaut,” ucap kakek 12 cucu itu.

Oleh karenanya, saat melaut di zaman dia dulu, nelayan hanya berbekal niat dan tata krama yang baik. Selebihnya, ikhtiar itu diterjemahkan dengan kemampuan berenang, menyelam, kemampuan membaca arah mata angin, membaca pergerakan ombak, dan memprediksi gerombolan ikan di tengah laut. Tanpa mesin atau pelampung. “Karena kalau alat-alat keamanan itu dipersiapkan, kami justru rentan lupa diri saat di laut. Dan itu yang mengundang bala dan mara bahaya datang,” jelasnya.

Ia meyakini, ukuran niat dan tata krama nelayan saat melaut itu menentukan keselamatan mereka selanjutnya. Apakah selamat, atau pulang tinggal nama. Selain itu, lanjut Salim, ada keyakinan bahwa daratan Puger dan pantai selatan itu ada yang ngerekso atau menjaga. “Begitu pun dengan laut. Juga ada yang ngingoni (merawat dan menjaga, Red). Karenanya, beberapa nelayan sini, tiap Jumat legi atau malamnya, selalu selametan di sekitar Plawangan,” ujarnya.

Nelayan lain yang percaya terhadap najab itu juga menyebutkan hal serupa. Nelayan-nelayan yang kerap diempaskan ombak, kebanyakan adalah nelayan yang baru belajar, anak muda, dan beberapa orang luar Puger. Bisa jadi, mereka gagal memahami arah pergerakan mata angin, atau gagal memahami pergerakan ombak, dan tidak memiliki kemampuan khusus yang dimiliki sebagai seorang nelayan. Seperti menyelam dan berenang. Bahkan, Salim meyakini, kalau orang Puger asli, sudah tentu paham dengan tindak-tanduk dan adab saat melaut atau di tengah laut.

Pemaparan Salim, yang merupakan tokoh sekaligus sesepuh nelayan setempat, menengarai bahwa kecelakaan laut yang terjadi itu karena kelengahan dari nelayan sendiri. Sebab, etika melaut dan kemampuan khusus nelayan dianggap modal utama menjaga keselamatan diri saat menyeberangi Plawangan. Etika melaut ini berkaitan dengan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal tadi. Seperti laut dan daratan ada yang menjaga dan merawat.

Di zaman modern dengan peralatan serba canggih, keyakinan lokal itu belum sepenuhnya buyar. Banyak nelayan ang memercayai, meski ada juga yang menganggap biasa saja. Sebagai keyakinan lokal yang sudah mengakar di masyarakat, yang jelas najab masih eksis hingga kini.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi tambatan jukung dan perahu nelayan di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, banyak perahu milik nelayan yang hanya menyediakan ban sebagai sarana keselamatan. Itu pun beberapa terpasang di dek samping kapal. Ada yang terpasang hanya satu atau dua ban saja.

Bahkan, ada pula yang tidak terpasang ban sama sekali. Selain itu, tak satu pun terlihat jaket pelampung yang kabarnya tahun lalu sempat ada pengadaan puluhan ribu pelampung ke nelayan Puger. Di sudut-sudut dek kapal tidak ada pelampung sama sekali. Hanya drum berukuran sedang tempat ikan yang banyak berjejeran di perahu-perahu tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi menjelaskan, sebenarnya kepercayaan lokal bernama najab itu sudah ada sejak lama. Namun, tidak semua nelayan. Rata-rata, nelayan masih bersepakat dengan aspek kesopanan dan tata krama saat melaut. “Kami melaut itu kan seperti tamu, jadi jangan sembrono. Minimal, saat di tengah laut, dijaga atau saat melewati Plawangan perbanyak salawat,” ujarnya.

Tokoh nelayan itu menceritakan, saking kuatnya pengaruh najab itu ke cara pandang nelayan. Pada era akhir 70-an silam, mesin untuk perahu sudah mulai ada, tapi ada nelayan yang memang enggan menggunakan mesin. Bahkan, ia sendiri sempat berpikir, jika ada mesin, tentu memudahkan pekerjaan. Terlebih lagi, kata Hanafi, dinas perikanan terkait saat itu tengah gencar menyosialisasikan penggunaan mesin untuk perahu nelayan. “Kala itu, saya sampai berutang demi bisa dapat mesin itu,” kenangnya.

Sejak saat itu, lanjut Hanafi, penggunaan mesin mulai banyak digandrungi nelayan, meski keyakinan najab tidak juga sirna. Cara berpikir nelayan saat itu sudah selangkah lebih maju. Mereka mau menggunakan kecanggihan teknologi untuk memudahkan pekerjaan.

Selain itu, mengenai Plawangan, Puger, memang banyak rumor yang beredar di masyarakat. Dari yang mistis sampai yang karena faktor alam. Ia menilai, nelayan yang baru atau belum memiliki pengalaman jam terbang tinggi di tengah laut, pasti akan waswas dan khawatir tatkala melintas di jalur maut itu. “Saat takut dan khawatir, tenaga kita sudah terkuras 50 persen,” kata Hanafi.

Perkataan Hanafi mengisyaratkan bahwa nelayan tak cukup bermodal niat dan tata krama saja. Namun, yang tak kalah penting kemampuan khusus yang wajib dimiliki. Ia mencontohkan, kemampuan menyelam dan berenang harus dimiliki oleh semua nelayan. Minimal, harus kuat sejauh satu mil atau setara hampir dua kilometer.

Terlebih, saat melintas di Plawangan, Hanafi mengaku, ia sering bersama rekan nelayan lainnya turun dari kapal dan menyelam di perairan Plawangan itu. Tujuannya bukan apa. Ia hanya memastikan kondisi ketinggian pasir di pertemuan dua muara sungai dan laut itu. Sebab, jika pasir tertumpuk di tengah Plawangan hingga menyisakan ketinggian 5-7 meter saja, maka itu dipastikan pecah ombak akan besar dan cukup kuat membalikkan jukung jenis speed sampai karam.

Ia menyebut, pendangkalan muara itu menjadi biang ombak begitu besar dan rawan membuat jukung terbalik. Karenanya, di situlah kemampuan individu seorang nelayan diuji. Bagaimana mereka bisa membaca arah pergerakan ombak dan menemukan peluang atau celah melintas. Terlebih lagi, pada jam dan waktu-waktu tertentu, angin barat berembus begitu besar. “Karena itu, percaya ke najab ya sah-sah saja. Namun, tidak kalah penting pengetahuan dan kemampuan tentang melaut itu benar-benar dikuasai nelayan,” bebernya.

Hanafi dan nelayan setempat sebenarnya sudah paham betul, bagaimana pendangkalan muara di Plawangan. Meskipun ada breakwater atau pemecah ombak, itu sudah dirasa baik. “Namun kurang efektif, karena pasir yang dihempaskan justru tertumpuk di tengah muara. Pasir yang mengarah ke sempadan itu sedikit,” jelasnya.

Saat ditanya, apakah ada peranti pendukung keselamatan lainnya yang juga penting saat melaut, Hanafi menjawab santai. “Ada, ban atau pelampung,” katanya. Meski itu dirasa penting, namun baginya itu nomor sekian. Terlebih, ia menilai, pelampung yang ada hari ini atau pelampung yang sempat diberikan oleh pemerintah daerah, tahun lalu, sama sekali tidak layak. Alias kurang standar. Sebab, beberapa nelayan sempat mencoba dan membuktikan penggunaan pelampung itu, namun kurang efektif. Hanya bertahan beberapa menit mengambang di air. “Pelampung itu harus standar laut. Jangan pelampung standar kolam,” tegasnya.

Ia juga berharap, sosialisasi keselamatan untuk nelayan di Jember lebih gencar dilakukan. Terlepas itu melalui pelampung atau peranti keselamatan lainnya yang sejenis. Agar kejadian serupa bisa diminimalisasi.

 

 

 

Jurnalis :Maulana
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sederet faktor ditengarai jadi penyebab kenapa hingga kini problem keselamatan nelayan belum juga terpecahkan. Meski pemerintah telah membangun breakwater atau pemecah ombak, dan membeli pelampung untuk dibagikan kepada nelayan. Namun, sampai saat ini, kasus kecelakaan di jalur Plawangan yang memakan korban jiwa masih saja terjadi. Terbaru adalah kasus hilangnya Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Malang, yang tenggelam setelah perahunya terbalik di Plawangan.

Beragam spekulasi pun mencuat. Salah satu yang santer adalah, selama ini pemerintah cenderung mengabaikan kepercayaan lokal nelayan Puger dalam setiap program pembangunan yang dilakukan. Pemerintah terlalu percaya diri menggunakan pendekatan teknis-birokratis.

Pemerintah menganggap, apa yang mereka lalukan dapat menjawab persoalan nelayan. Padahal sebaliknya. Dua kegagalan pemerintah dalam mencegah terjadinya kecelakaan laut di Plawangan adalah kurang efektifnya pembangunan breakwater menghalau ombak, dan pengadaan pelampung. Program itu dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan nelayan, karena berbenturan dengan kearifan lokal.

Mobile_AP_Half Page

Ya, di jalur Plawangan inilah banyak nelayan yang celaka. Siapa sangka, lokasi yang menjadi spot andalan para pemancing itu rupanya banyak menyimpan petaka. Biasanya kapal karam, menewaskan ABK dan nelayan. Padahal, tepat di Plawangan itu, breakwater sudah dibuat untuk menjinakkan kegarangan ombak laut selatan. Namun nahas, korban laka laut terus ada.

Kerapnya intensitas laka laut di Plawangan itu sontak mendapat sorotan. Apa sebenarnya faktor yang mendasari. Dan sudah tepatkah program yang dijalankan pemerintah selama ini? Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah nelayan. Berikut penuturan para tetua atau nelayan kawakan, serta ketua forum komunikasi nelayan di Puger.

Rata-rata mereka menyebut, dua tahun belakangan, laka laut memang banyak terjadi di Plawangan. Belum terdengar kabar kecelakaan terjadi di tengah laut. “Paling sering perahu atau jukung nelayan karam di Plawangan ini,” ucap Catur, nelayan yang tinggal persis tak jauh dari Plawangan.

Padahal, jika diamati di lokasi sekitar Plawangan, jalur itu cukup ramai dilewati jukung atau perahu nelayan. Siang, sore, malam hari, bahkan pagi hari sepulang nelayan pulang melaut. “Mereka yang kelihatan aman-aman saja, sudah ada perhitungan matang ketika melewati Plawangan itu,” timpal Tomiri, nelayan lain asal Puger Wetan yang juga ditemui Jawa Pos Radar, kemarin (4/4).

Perhitungan matang yang dimaksudnya itu menarik. Sebab, disebut sebagai salah satu dari sekian faktor keselamatan nelayan saat berangkat dan pulang melaut. “Mereka yang karam di Plawangan, mungkin nelayan anak-anak muda. Kebanyakan juga nelayan pendatang,” sambungnya.

Seperti halnya berkendara motor, melaut juga membutuhkan aspek atau pertimbangan keamanan. Bahkan wajib. Namun, hal itu belum sepenuhnya menjadi prioritas nelayan. Sebab, ada rumor yang berkembang di warga atau nelayan Puger, menjaga diri dengan seperangkat alat keselamatan, misalnya pelampung, justru dianggap mengundang bala atau musibah yang bisa menimpa mereka. Kepercayaan lokal itu, nelayan Puger menyebutnya dengan istilah najab.

Salim, nelayan kawakan yang sejak era 60-an telah melaut di pantai selatan Puger, menjelaskan mengenai keyakinan lokal bernama najab itu. “Najab artinya wani (berani, Red). Maksudnya, keberanian yang tanpa didasari niat luhur dan tata krama,” jelasnya.

Filosofi najab belum terhenti sampai di situ. Kakek 79 tahun yang juga Ketua RW 03 Puger Wetan itu menjelentrehkan, sebenarnya najab menjadi keyakinan masyarakat atau nelayan Puger sudah sejak lama. Ia tidak menyebut pasti, namun sejak era 60-an, keyakinan itu sudah ada. “Sejak zaman pascakemerdekaan, ada Gestapu zaman dulu, najab sudah ada,” ungkapnya.

Keyakinan tentang najab mengakar kuat di zaman Salim. Kepercayaan lokal itu membentuk cara berpikir warga, bahwa urusan keselamatan itu sudah ada yang mengatur. Karena itu, tidak perlu alat keselamatan seperti pelampung. “Kami hanya ikhtiar saja. Dengan cara niat dan tatak rama yang baik saat berangkat dan pulang melaut,” ucap kakek 12 cucu itu.

Oleh karenanya, saat melaut di zaman dia dulu, nelayan hanya berbekal niat dan tata krama yang baik. Selebihnya, ikhtiar itu diterjemahkan dengan kemampuan berenang, menyelam, kemampuan membaca arah mata angin, membaca pergerakan ombak, dan memprediksi gerombolan ikan di tengah laut. Tanpa mesin atau pelampung. “Karena kalau alat-alat keamanan itu dipersiapkan, kami justru rentan lupa diri saat di laut. Dan itu yang mengundang bala dan mara bahaya datang,” jelasnya.

Ia meyakini, ukuran niat dan tata krama nelayan saat melaut itu menentukan keselamatan mereka selanjutnya. Apakah selamat, atau pulang tinggal nama. Selain itu, lanjut Salim, ada keyakinan bahwa daratan Puger dan pantai selatan itu ada yang ngerekso atau menjaga. “Begitu pun dengan laut. Juga ada yang ngingoni (merawat dan menjaga, Red). Karenanya, beberapa nelayan sini, tiap Jumat legi atau malamnya, selalu selametan di sekitar Plawangan,” ujarnya.

Nelayan lain yang percaya terhadap najab itu juga menyebutkan hal serupa. Nelayan-nelayan yang kerap diempaskan ombak, kebanyakan adalah nelayan yang baru belajar, anak muda, dan beberapa orang luar Puger. Bisa jadi, mereka gagal memahami arah pergerakan mata angin, atau gagal memahami pergerakan ombak, dan tidak memiliki kemampuan khusus yang dimiliki sebagai seorang nelayan. Seperti menyelam dan berenang. Bahkan, Salim meyakini, kalau orang Puger asli, sudah tentu paham dengan tindak-tanduk dan adab saat melaut atau di tengah laut.

Pemaparan Salim, yang merupakan tokoh sekaligus sesepuh nelayan setempat, menengarai bahwa kecelakaan laut yang terjadi itu karena kelengahan dari nelayan sendiri. Sebab, etika melaut dan kemampuan khusus nelayan dianggap modal utama menjaga keselamatan diri saat menyeberangi Plawangan. Etika melaut ini berkaitan dengan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal tadi. Seperti laut dan daratan ada yang menjaga dan merawat.

Di zaman modern dengan peralatan serba canggih, keyakinan lokal itu belum sepenuhnya buyar. Banyak nelayan ang memercayai, meski ada juga yang menganggap biasa saja. Sebagai keyakinan lokal yang sudah mengakar di masyarakat, yang jelas najab masih eksis hingga kini.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi tambatan jukung dan perahu nelayan di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, banyak perahu milik nelayan yang hanya menyediakan ban sebagai sarana keselamatan. Itu pun beberapa terpasang di dek samping kapal. Ada yang terpasang hanya satu atau dua ban saja.

Bahkan, ada pula yang tidak terpasang ban sama sekali. Selain itu, tak satu pun terlihat jaket pelampung yang kabarnya tahun lalu sempat ada pengadaan puluhan ribu pelampung ke nelayan Puger. Di sudut-sudut dek kapal tidak ada pelampung sama sekali. Hanya drum berukuran sedang tempat ikan yang banyak berjejeran di perahu-perahu tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi menjelaskan, sebenarnya kepercayaan lokal bernama najab itu sudah ada sejak lama. Namun, tidak semua nelayan. Rata-rata, nelayan masih bersepakat dengan aspek kesopanan dan tata krama saat melaut. “Kami melaut itu kan seperti tamu, jadi jangan sembrono. Minimal, saat di tengah laut, dijaga atau saat melewati Plawangan perbanyak salawat,” ujarnya.

Tokoh nelayan itu menceritakan, saking kuatnya pengaruh najab itu ke cara pandang nelayan. Pada era akhir 70-an silam, mesin untuk perahu sudah mulai ada, tapi ada nelayan yang memang enggan menggunakan mesin. Bahkan, ia sendiri sempat berpikir, jika ada mesin, tentu memudahkan pekerjaan. Terlebih lagi, kata Hanafi, dinas perikanan terkait saat itu tengah gencar menyosialisasikan penggunaan mesin untuk perahu nelayan. “Kala itu, saya sampai berutang demi bisa dapat mesin itu,” kenangnya.

Sejak saat itu, lanjut Hanafi, penggunaan mesin mulai banyak digandrungi nelayan, meski keyakinan najab tidak juga sirna. Cara berpikir nelayan saat itu sudah selangkah lebih maju. Mereka mau menggunakan kecanggihan teknologi untuk memudahkan pekerjaan.

Selain itu, mengenai Plawangan, Puger, memang banyak rumor yang beredar di masyarakat. Dari yang mistis sampai yang karena faktor alam. Ia menilai, nelayan yang baru atau belum memiliki pengalaman jam terbang tinggi di tengah laut, pasti akan waswas dan khawatir tatkala melintas di jalur maut itu. “Saat takut dan khawatir, tenaga kita sudah terkuras 50 persen,” kata Hanafi.

Perkataan Hanafi mengisyaratkan bahwa nelayan tak cukup bermodal niat dan tata krama saja. Namun, yang tak kalah penting kemampuan khusus yang wajib dimiliki. Ia mencontohkan, kemampuan menyelam dan berenang harus dimiliki oleh semua nelayan. Minimal, harus kuat sejauh satu mil atau setara hampir dua kilometer.

Terlebih, saat melintas di Plawangan, Hanafi mengaku, ia sering bersama rekan nelayan lainnya turun dari kapal dan menyelam di perairan Plawangan itu. Tujuannya bukan apa. Ia hanya memastikan kondisi ketinggian pasir di pertemuan dua muara sungai dan laut itu. Sebab, jika pasir tertumpuk di tengah Plawangan hingga menyisakan ketinggian 5-7 meter saja, maka itu dipastikan pecah ombak akan besar dan cukup kuat membalikkan jukung jenis speed sampai karam.

Ia menyebut, pendangkalan muara itu menjadi biang ombak begitu besar dan rawan membuat jukung terbalik. Karenanya, di situlah kemampuan individu seorang nelayan diuji. Bagaimana mereka bisa membaca arah pergerakan ombak dan menemukan peluang atau celah melintas. Terlebih lagi, pada jam dan waktu-waktu tertentu, angin barat berembus begitu besar. “Karena itu, percaya ke najab ya sah-sah saja. Namun, tidak kalah penting pengetahuan dan kemampuan tentang melaut itu benar-benar dikuasai nelayan,” bebernya.

Hanafi dan nelayan setempat sebenarnya sudah paham betul, bagaimana pendangkalan muara di Plawangan. Meskipun ada breakwater atau pemecah ombak, itu sudah dirasa baik. “Namun kurang efektif, karena pasir yang dihempaskan justru tertumpuk di tengah muara. Pasir yang mengarah ke sempadan itu sedikit,” jelasnya.

Saat ditanya, apakah ada peranti pendukung keselamatan lainnya yang juga penting saat melaut, Hanafi menjawab santai. “Ada, ban atau pelampung,” katanya. Meski itu dirasa penting, namun baginya itu nomor sekian. Terlebih, ia menilai, pelampung yang ada hari ini atau pelampung yang sempat diberikan oleh pemerintah daerah, tahun lalu, sama sekali tidak layak. Alias kurang standar. Sebab, beberapa nelayan sempat mencoba dan membuktikan penggunaan pelampung itu, namun kurang efektif. Hanya bertahan beberapa menit mengambang di air. “Pelampung itu harus standar laut. Jangan pelampung standar kolam,” tegasnya.

Ia juga berharap, sosialisasi keselamatan untuk nelayan di Jember lebih gencar dilakukan. Terlepas itu melalui pelampung atau peranti keselamatan lainnya yang sejenis. Agar kejadian serupa bisa diminimalisasi.

 

 

 

Jurnalis :Maulana
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sederet faktor ditengarai jadi penyebab kenapa hingga kini problem keselamatan nelayan belum juga terpecahkan. Meski pemerintah telah membangun breakwater atau pemecah ombak, dan membeli pelampung untuk dibagikan kepada nelayan. Namun, sampai saat ini, kasus kecelakaan di jalur Plawangan yang memakan korban jiwa masih saja terjadi. Terbaru adalah kasus hilangnya Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Malang, yang tenggelam setelah perahunya terbalik di Plawangan.

Beragam spekulasi pun mencuat. Salah satu yang santer adalah, selama ini pemerintah cenderung mengabaikan kepercayaan lokal nelayan Puger dalam setiap program pembangunan yang dilakukan. Pemerintah terlalu percaya diri menggunakan pendekatan teknis-birokratis.

Pemerintah menganggap, apa yang mereka lalukan dapat menjawab persoalan nelayan. Padahal sebaliknya. Dua kegagalan pemerintah dalam mencegah terjadinya kecelakaan laut di Plawangan adalah kurang efektifnya pembangunan breakwater menghalau ombak, dan pengadaan pelampung. Program itu dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan nelayan, karena berbenturan dengan kearifan lokal.

Ya, di jalur Plawangan inilah banyak nelayan yang celaka. Siapa sangka, lokasi yang menjadi spot andalan para pemancing itu rupanya banyak menyimpan petaka. Biasanya kapal karam, menewaskan ABK dan nelayan. Padahal, tepat di Plawangan itu, breakwater sudah dibuat untuk menjinakkan kegarangan ombak laut selatan. Namun nahas, korban laka laut terus ada.

Kerapnya intensitas laka laut di Plawangan itu sontak mendapat sorotan. Apa sebenarnya faktor yang mendasari. Dan sudah tepatkah program yang dijalankan pemerintah selama ini? Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah nelayan. Berikut penuturan para tetua atau nelayan kawakan, serta ketua forum komunikasi nelayan di Puger.

Rata-rata mereka menyebut, dua tahun belakangan, laka laut memang banyak terjadi di Plawangan. Belum terdengar kabar kecelakaan terjadi di tengah laut. “Paling sering perahu atau jukung nelayan karam di Plawangan ini,” ucap Catur, nelayan yang tinggal persis tak jauh dari Plawangan.

Padahal, jika diamati di lokasi sekitar Plawangan, jalur itu cukup ramai dilewati jukung atau perahu nelayan. Siang, sore, malam hari, bahkan pagi hari sepulang nelayan pulang melaut. “Mereka yang kelihatan aman-aman saja, sudah ada perhitungan matang ketika melewati Plawangan itu,” timpal Tomiri, nelayan lain asal Puger Wetan yang juga ditemui Jawa Pos Radar, kemarin (4/4).

Perhitungan matang yang dimaksudnya itu menarik. Sebab, disebut sebagai salah satu dari sekian faktor keselamatan nelayan saat berangkat dan pulang melaut. “Mereka yang karam di Plawangan, mungkin nelayan anak-anak muda. Kebanyakan juga nelayan pendatang,” sambungnya.

Seperti halnya berkendara motor, melaut juga membutuhkan aspek atau pertimbangan keamanan. Bahkan wajib. Namun, hal itu belum sepenuhnya menjadi prioritas nelayan. Sebab, ada rumor yang berkembang di warga atau nelayan Puger, menjaga diri dengan seperangkat alat keselamatan, misalnya pelampung, justru dianggap mengundang bala atau musibah yang bisa menimpa mereka. Kepercayaan lokal itu, nelayan Puger menyebutnya dengan istilah najab.

Salim, nelayan kawakan yang sejak era 60-an telah melaut di pantai selatan Puger, menjelaskan mengenai keyakinan lokal bernama najab itu. “Najab artinya wani (berani, Red). Maksudnya, keberanian yang tanpa didasari niat luhur dan tata krama,” jelasnya.

Filosofi najab belum terhenti sampai di situ. Kakek 79 tahun yang juga Ketua RW 03 Puger Wetan itu menjelentrehkan, sebenarnya najab menjadi keyakinan masyarakat atau nelayan Puger sudah sejak lama. Ia tidak menyebut pasti, namun sejak era 60-an, keyakinan itu sudah ada. “Sejak zaman pascakemerdekaan, ada Gestapu zaman dulu, najab sudah ada,” ungkapnya.

Keyakinan tentang najab mengakar kuat di zaman Salim. Kepercayaan lokal itu membentuk cara berpikir warga, bahwa urusan keselamatan itu sudah ada yang mengatur. Karena itu, tidak perlu alat keselamatan seperti pelampung. “Kami hanya ikhtiar saja. Dengan cara niat dan tatak rama yang baik saat berangkat dan pulang melaut,” ucap kakek 12 cucu itu.

Oleh karenanya, saat melaut di zaman dia dulu, nelayan hanya berbekal niat dan tata krama yang baik. Selebihnya, ikhtiar itu diterjemahkan dengan kemampuan berenang, menyelam, kemampuan membaca arah mata angin, membaca pergerakan ombak, dan memprediksi gerombolan ikan di tengah laut. Tanpa mesin atau pelampung. “Karena kalau alat-alat keamanan itu dipersiapkan, kami justru rentan lupa diri saat di laut. Dan itu yang mengundang bala dan mara bahaya datang,” jelasnya.

Ia meyakini, ukuran niat dan tata krama nelayan saat melaut itu menentukan keselamatan mereka selanjutnya. Apakah selamat, atau pulang tinggal nama. Selain itu, lanjut Salim, ada keyakinan bahwa daratan Puger dan pantai selatan itu ada yang ngerekso atau menjaga. “Begitu pun dengan laut. Juga ada yang ngingoni (merawat dan menjaga, Red). Karenanya, beberapa nelayan sini, tiap Jumat legi atau malamnya, selalu selametan di sekitar Plawangan,” ujarnya.

Nelayan lain yang percaya terhadap najab itu juga menyebutkan hal serupa. Nelayan-nelayan yang kerap diempaskan ombak, kebanyakan adalah nelayan yang baru belajar, anak muda, dan beberapa orang luar Puger. Bisa jadi, mereka gagal memahami arah pergerakan mata angin, atau gagal memahami pergerakan ombak, dan tidak memiliki kemampuan khusus yang dimiliki sebagai seorang nelayan. Seperti menyelam dan berenang. Bahkan, Salim meyakini, kalau orang Puger asli, sudah tentu paham dengan tindak-tanduk dan adab saat melaut atau di tengah laut.

Pemaparan Salim, yang merupakan tokoh sekaligus sesepuh nelayan setempat, menengarai bahwa kecelakaan laut yang terjadi itu karena kelengahan dari nelayan sendiri. Sebab, etika melaut dan kemampuan khusus nelayan dianggap modal utama menjaga keselamatan diri saat menyeberangi Plawangan. Etika melaut ini berkaitan dengan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal tadi. Seperti laut dan daratan ada yang menjaga dan merawat.

Di zaman modern dengan peralatan serba canggih, keyakinan lokal itu belum sepenuhnya buyar. Banyak nelayan ang memercayai, meski ada juga yang menganggap biasa saja. Sebagai keyakinan lokal yang sudah mengakar di masyarakat, yang jelas najab masih eksis hingga kini.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi tambatan jukung dan perahu nelayan di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, banyak perahu milik nelayan yang hanya menyediakan ban sebagai sarana keselamatan. Itu pun beberapa terpasang di dek samping kapal. Ada yang terpasang hanya satu atau dua ban saja.

Bahkan, ada pula yang tidak terpasang ban sama sekali. Selain itu, tak satu pun terlihat jaket pelampung yang kabarnya tahun lalu sempat ada pengadaan puluhan ribu pelampung ke nelayan Puger. Di sudut-sudut dek kapal tidak ada pelampung sama sekali. Hanya drum berukuran sedang tempat ikan yang banyak berjejeran di perahu-perahu tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi menjelaskan, sebenarnya kepercayaan lokal bernama najab itu sudah ada sejak lama. Namun, tidak semua nelayan. Rata-rata, nelayan masih bersepakat dengan aspek kesopanan dan tata krama saat melaut. “Kami melaut itu kan seperti tamu, jadi jangan sembrono. Minimal, saat di tengah laut, dijaga atau saat melewati Plawangan perbanyak salawat,” ujarnya.

Tokoh nelayan itu menceritakan, saking kuatnya pengaruh najab itu ke cara pandang nelayan. Pada era akhir 70-an silam, mesin untuk perahu sudah mulai ada, tapi ada nelayan yang memang enggan menggunakan mesin. Bahkan, ia sendiri sempat berpikir, jika ada mesin, tentu memudahkan pekerjaan. Terlebih lagi, kata Hanafi, dinas perikanan terkait saat itu tengah gencar menyosialisasikan penggunaan mesin untuk perahu nelayan. “Kala itu, saya sampai berutang demi bisa dapat mesin itu,” kenangnya.

Sejak saat itu, lanjut Hanafi, penggunaan mesin mulai banyak digandrungi nelayan, meski keyakinan najab tidak juga sirna. Cara berpikir nelayan saat itu sudah selangkah lebih maju. Mereka mau menggunakan kecanggihan teknologi untuk memudahkan pekerjaan.

Selain itu, mengenai Plawangan, Puger, memang banyak rumor yang beredar di masyarakat. Dari yang mistis sampai yang karena faktor alam. Ia menilai, nelayan yang baru atau belum memiliki pengalaman jam terbang tinggi di tengah laut, pasti akan waswas dan khawatir tatkala melintas di jalur maut itu. “Saat takut dan khawatir, tenaga kita sudah terkuras 50 persen,” kata Hanafi.

Perkataan Hanafi mengisyaratkan bahwa nelayan tak cukup bermodal niat dan tata krama saja. Namun, yang tak kalah penting kemampuan khusus yang wajib dimiliki. Ia mencontohkan, kemampuan menyelam dan berenang harus dimiliki oleh semua nelayan. Minimal, harus kuat sejauh satu mil atau setara hampir dua kilometer.

Terlebih, saat melintas di Plawangan, Hanafi mengaku, ia sering bersama rekan nelayan lainnya turun dari kapal dan menyelam di perairan Plawangan itu. Tujuannya bukan apa. Ia hanya memastikan kondisi ketinggian pasir di pertemuan dua muara sungai dan laut itu. Sebab, jika pasir tertumpuk di tengah Plawangan hingga menyisakan ketinggian 5-7 meter saja, maka itu dipastikan pecah ombak akan besar dan cukup kuat membalikkan jukung jenis speed sampai karam.

Ia menyebut, pendangkalan muara itu menjadi biang ombak begitu besar dan rawan membuat jukung terbalik. Karenanya, di situlah kemampuan individu seorang nelayan diuji. Bagaimana mereka bisa membaca arah pergerakan ombak dan menemukan peluang atau celah melintas. Terlebih lagi, pada jam dan waktu-waktu tertentu, angin barat berembus begitu besar. “Karena itu, percaya ke najab ya sah-sah saja. Namun, tidak kalah penting pengetahuan dan kemampuan tentang melaut itu benar-benar dikuasai nelayan,” bebernya.

Hanafi dan nelayan setempat sebenarnya sudah paham betul, bagaimana pendangkalan muara di Plawangan. Meskipun ada breakwater atau pemecah ombak, itu sudah dirasa baik. “Namun kurang efektif, karena pasir yang dihempaskan justru tertumpuk di tengah muara. Pasir yang mengarah ke sempadan itu sedikit,” jelasnya.

Saat ditanya, apakah ada peranti pendukung keselamatan lainnya yang juga penting saat melaut, Hanafi menjawab santai. “Ada, ban atau pelampung,” katanya. Meski itu dirasa penting, namun baginya itu nomor sekian. Terlebih, ia menilai, pelampung yang ada hari ini atau pelampung yang sempat diberikan oleh pemerintah daerah, tahun lalu, sama sekali tidak layak. Alias kurang standar. Sebab, beberapa nelayan sempat mencoba dan membuktikan penggunaan pelampung itu, namun kurang efektif. Hanya bertahan beberapa menit mengambang di air. “Pelampung itu harus standar laut. Jangan pelampung standar kolam,” tegasnya.

Ia juga berharap, sosialisasi keselamatan untuk nelayan di Jember lebih gencar dilakukan. Terlepas itu melalui pelampung atau peranti keselamatan lainnya yang sejenis. Agar kejadian serupa bisa diminimalisasi.

 

 

 

Jurnalis :Maulana
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran