alexametrics
20.9C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Lebih Baik Mati Tenggelam

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

Sementara itu, berbeda bagi nelayan dari suku Jawa yang cenderung kurang berani melaut bila dibandingkan nelayan dari Madura dan Bugis. “Nelayan Jawa itu punya hitung-hitungan. Seperti neptu atau apesnya,” jelasnya. Menurutnya, orang Bugis dan Madura memiliki jiwa pelaut dan tidak punya hitung-hitungan hari nahas atau lainnya. “Makanya mereka dikenal tekadnya kuat saat melaut,” tuturnya.

Nelayan Puger juga diprediksikan sama tuanya dengan nelayan di Muncar, Banyuwangi. Muncar dulu bernama pelabuhan Ulu Pampang. Sebab, Muncar dulu juga pelabuhan militer zaman penjajahan. Namun, dari segi kotanya antara Puger dengan Muncar lebih tua Puger. Sebab, Sadeng, Puger, sudah ada setidaknya abad 14. Dalam kitab Nagarakretagama pada abad 14, juga menyebutkan sungai terkenal di Puger, yaitu Sungai Basini yang sekarang disebut Besini.

Sementara itu, dosen Pendidikan Sejarah Universitas Jember, Sumarjono mengatakan, kepercayaan semacam ini masih diyakini oleh beberapa komunitas nelayan di Puger. “Memang masih ada sampai sekarang beberapa komunitas saja,” ungkapnya, melalui sambungan telepon, Minggu (4/4). Sayangnya, masih sedikit pegiat sejarah yang fokus untuk mengkaji fenomena tersebut.

 

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Mobile_AP_Half Page

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

Sementara itu, berbeda bagi nelayan dari suku Jawa yang cenderung kurang berani melaut bila dibandingkan nelayan dari Madura dan Bugis. “Nelayan Jawa itu punya hitung-hitungan. Seperti neptu atau apesnya,” jelasnya. Menurutnya, orang Bugis dan Madura memiliki jiwa pelaut dan tidak punya hitung-hitungan hari nahas atau lainnya. “Makanya mereka dikenal tekadnya kuat saat melaut,” tuturnya.

Nelayan Puger juga diprediksikan sama tuanya dengan nelayan di Muncar, Banyuwangi. Muncar dulu bernama pelabuhan Ulu Pampang. Sebab, Muncar dulu juga pelabuhan militer zaman penjajahan. Namun, dari segi kotanya antara Puger dengan Muncar lebih tua Puger. Sebab, Sadeng, Puger, sudah ada setidaknya abad 14. Dalam kitab Nagarakretagama pada abad 14, juga menyebutkan sungai terkenal di Puger, yaitu Sungai Basini yang sekarang disebut Besini.

Sementara itu, dosen Pendidikan Sejarah Universitas Jember, Sumarjono mengatakan, kepercayaan semacam ini masih diyakini oleh beberapa komunitas nelayan di Puger. “Memang masih ada sampai sekarang beberapa komunitas saja,” ungkapnya, melalui sambungan telepon, Minggu (4/4). Sayangnya, masih sedikit pegiat sejarah yang fokus untuk mengkaji fenomena tersebut.

 

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

Sementara itu, berbeda bagi nelayan dari suku Jawa yang cenderung kurang berani melaut bila dibandingkan nelayan dari Madura dan Bugis. “Nelayan Jawa itu punya hitung-hitungan. Seperti neptu atau apesnya,” jelasnya. Menurutnya, orang Bugis dan Madura memiliki jiwa pelaut dan tidak punya hitung-hitungan hari nahas atau lainnya. “Makanya mereka dikenal tekadnya kuat saat melaut,” tuturnya.

Nelayan Puger juga diprediksikan sama tuanya dengan nelayan di Muncar, Banyuwangi. Muncar dulu bernama pelabuhan Ulu Pampang. Sebab, Muncar dulu juga pelabuhan militer zaman penjajahan. Namun, dari segi kotanya antara Puger dengan Muncar lebih tua Puger. Sebab, Sadeng, Puger, sudah ada setidaknya abad 14. Dalam kitab Nagarakretagama pada abad 14, juga menyebutkan sungai terkenal di Puger, yaitu Sungai Basini yang sekarang disebut Besini.

Sementara itu, dosen Pendidikan Sejarah Universitas Jember, Sumarjono mengatakan, kepercayaan semacam ini masih diyakini oleh beberapa komunitas nelayan di Puger. “Memang masih ada sampai sekarang beberapa komunitas saja,” ungkapnya, melalui sambungan telepon, Minggu (4/4). Sayangnya, masih sedikit pegiat sejarah yang fokus untuk mengkaji fenomena tersebut.

 

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Membumikan Pendidikan Toleransi

Sempat Naik, Daging Ayam Turun

Banyak Permintaan ke Luar Kota

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran