Sediakan Bilik Asmara bagi Napi

Wacana Pemenuhan Hak Penghuni Lapas

PEMENUHAN HAK NAPI: Foto yang diambil Oktober lalu ini menunjukkan sejumlah narapidana Lapas Kelas II A Jember sedang berkumpul di depan bilik penjara. Baru-baru ini, wacana penyediaan bilik asmara bagi napi kembali mencuat. Hanya saja, di Jember belum terealisasi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana penyediaan bilik asmara bagi narapidana (napi) di lembaga pemasyarakatan (lapas) kembali mencuat. Adanya ruangan khusus bagi penghuni lapas untuk menyalurkan hasrat seksual itu dinilai penting, karena terkait penyaluran kebutuhan biologis para napi yang sudah menikah. Terlebih di Lapas Kelas II A Jember belum memiliki sarana tersebut.

IKLAN

Setidaknya, sudah ada tiga lapas di Indonesia yang memiliki fasilitas bilik asmara. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, sejak tahun lalu bilik asmara itu ada di Lapas Ciangir Banten, Lapas Terbuka Kendal, dan Lapas Nusa Kambangan. Dua lapas terakhir berada di wilayah Jawa Tengah.

Fasilitas itu dapat digunakan oleh napi yang berada di lapas dengan kategori minimum security. Di bilik asmara itu, napi diperkenankan untuk menyalurkan hasrat biologisnya di ruangan tersebut saat sang istri sedang berkunjung.

Pembahasan mengenai bilik asmara untuk diterapkan di seluruh lapas Indonesia juga sudah sampai di DPR RI. Bahkan, DPR meminta langsung kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) mengenai penyediaan bilik asmara di lapas.

Bagaimana dengan Lapas Kelas II A Jember? Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Lapas Jember Sukamto mengatakan, hingga kini Lapas Jember memang belum menyediakan bilik asmara bagi napi. Sebab, kata dia, penyediaan sarana itu memerlukan formula dan kebijakan yang pas. Ini agar nantinya tak menjadi permasalahan baru di dalam lapas atau di luar lapas.

Sukamto mencontohkan, dampak negatifnya bila tak diberi bilik asmara di tiap lapas, bisa-bisa ada penyimpangan perilaku seksual terhadap napi. Seperti yang terjadi di salah satu LP yang berada di Jawa Barat.

“Memang soal itu pernah diwacanakan. Tapi masih belum terealisasi. Kalau di Lapas Jember sekarang ini belum ada,” tutur Sukamto. Hanya saja, Sukamto mendukung keputusan yang terbaik dengan ada atau tidaknya bilik asmara tersebut.

Sementara itu, akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember M Muhib Alwi menuturkan, sebenarnya wacana bilik asmara itu bukan hal yang baru. Beberapa tahun lalu juga sudah diwacanakan. “Bahkan, sudah ada beberapa lapas yang mencoba memberikan ruangan khusus bilik asmara,” ucapnya.

Namun, dia mengungkapkan, evaluasi dari bilik asmara itu ada yang tidak efektif. Entah karena faktor apa. Yang pasti, kata dia, tak berjalannya bilik asmara itu berkaitan dengan teknis bagaimana napi melakukannya. “Otomatis ada rasa malu untuk melakukan berhubungan,” ungkap dosen yang juga Kepala Program Studi (Kaprodi) Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah tersebut.

Jika memang Lapas Jember mau menyediakan bilik asmara, maka yang menjadi pekerjaan rumah adalah mengurangi rasa malu itu. Semisal perlu menyediakan ruangan khusus penyalur hasrat yang lebih privat. Ini agar sang napi bersama istrinya tetap terjaga privasinya. “Mungkin tempatnya harus privasi. Tapi harus ada pantauan juga,” katanya.

Tak bisa dimungkiri, seksualitas sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Bagi napi yang belum berumah tangga, tentu tidak seberapa bermasalah. “Tapi berbeda bagi yang sudah berumah tangga. Karena sudah menjadi kebutuhan dasar bagi mereka yang sudah merasakan untuk disalurkan,” bebernya.

Penyaluran hasrat itu, dia berkata, juga sebagai hak asasi pemenuhan kebutuhan biologis. Muhib menjelaskan, ada beberapa kemungkinan yang terjadi bila napi sudah lama tak menyalurkan hasrat seksual, ketika menjalani masa hukuman di dalam lapas. Apalagi, bagi mereka yang mendapat hukuman berat dengan masa tahanan di atas sepuluh tahun.

“Pertama, kecenderungannya akan mudah terjadi penyimpangan perilaku seksual. Sebab, napi itu bertemu dengan orang yang sama-sama butuh. Pada posisi tinjauan dorongan psikologis, hal ini menjadi wajar,” paparnya.

Kemungkinan lain, Muhib menambahkan, selama napi tidak bertemu dengan orang yang sama-sama butuh, dia bakal melampiaskannya dengan cara individual. “Dan itu tidak hanya terjadi di lapas pria, juga sama di lapas perempuan,” katanya.

Bahkan, ketika Muhib berkunjung ke salah satu lapas, di lapas perempuan juga terjadi hubungan sesama jenis. “Selain itu, orang yang tertekan kebutuhan biologisnya secara emosional lebih labil. Kalau dibandingkan dengan orang yang hasrat seksualnya tersalurkan,” pungkas dia.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih