Mungkinkah Menyusul Jadi Tersangka?

- Kejaksaan Periksa Tiga Pejabat Pemkab - Pengembangan Dugaan Korupsi Pasar Manggisan

IRIT BICARA: Kepala Dinas PU BMSDA Jember Yessiana Arifa keluar dari Kantor Kejaksaan Negeri Jember usai diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Manggisan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bola panas perkara korupsi revitalisasi Pasar Manggisan terus bergulir. Setelah menetapkan tiga tersangka beberapa waktu lalu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember kembali memeriksa sejumlah pejabat Pemkab Jember. Ini sebagai tindak lanjut dan pengembangan kasus dugaan rasuah tersebut.

IKLAN

Kemarin (4/2), korps adhyaksa ini memanggil empat saksi dari lingkungan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Jember. Namun, hanya tiga saksi saja yang hadir di kantor kejaksaan. Di antaranya adalah Achmad Imam Fauzi yang saat ini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Selain itu, kejaksaan juga memeriksa Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumberdaya Air (BMSDA) Yessyana Arrifah, dan Siti Nurul Qomariyah, mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) yang kini menduduki jabatan staf di Staf Ahli Bidang Pembangunan, Perekonomian, dan Keuangan Pemkab Jember.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jember Setyo Adhi Wicaksono mengonfirmasi hal itu. Dia mengatakan, tiga pejabat tersebut dipanggil sebagai saksi terkait kasus Pasar Manggisan. “Pemeriksaan saksi ini menjadi pengembangan perkara Manggisan,” tuturnya.

Menurut Setyo, ketiganya diduga menjadi para pihak yang terkait dan mengetahui proses terjadinya kegiatan pembangunan Pasar Manggisan. Kendati begitu, pihaknya masih belum memberitahukan hasil pemeriksaan kemarin. “Kalau itu menjadi substansi proses penyidikan kami,” bebernya.

Dari tiga saksi yang hadir, dua di antaranya, Fauzi dan Yesi, posisinya memang terkait dengan proyek fisik. Fauzi misalnya, bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pembangunan daerah. Sedangkan Yessy, pada 2018 lalu ketika proyek revitalisasi pasar itu berjalan, dirinya menjadi Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya. Hanya saja, kehadiran Nurul Qomariyah menyisakan pertanyaan. Sebab, saat proyek itu berlangsung, dirinya menjabat Kepala Dinas Kesehatan.

Lantas apakah ketiganya diperiksa oleh kejaksaan karena mereka masuk dalam unit kerja tim pengadaan barang dan jasa dalam proyek revitalisasi Pasar Manggisan itu? Mengenai hal ini, kejaksaan masih enggan mengungkapkan. “Kami belum bisa menjelaskan semua. Ini bagian dari teknik penyidikan,” ujar Setyo.

Setyo menegaskan, pihaknya bakal memanggil lagi saksi yang belum datang kemarin. Saksi yang mangkir dari panggilan itu berstatus sebagai ASN di lingkungan pemkab. Hanya saja, Setyo tak mau menyebut identitas saksi tersebut. “Ada beberapa pihak lagi. Tidak hanya satu yang akan kami panggil menjadi saksi,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, ketiga saksi tersebut datang ke Kantor Kejari Jember sejak pukul 09.00. Satu per satu mereka dipanggil masuk oleh tim penyidik. Pertama adalah Siti Nurul Qomariah yang masuk sekitar pukul 09.30. Satu jam kemudian, pukul 10.36, Yessiana Arrifah menyusul masuk. Terakhir adalah Achmad Imam Fauzi yang diperiksa pada pukul 11.22.

Para pejabat teras itu diperiksa cukup lama. Siti Nurul terlihat keluar dari Kantor Kejari Jember pukul 13.31 atau empat jam sejak dia dipanggil masuk. Mantan Kadinkes Jember ini tak mau menyampaikan materi apa saja yang ditanyakan oleh penyidik kejaksaan. Dia menutup mulut rapat-rapat saat Jawa Pos Radar Jember mewawancarainya. Nurul justru mengelak terkait kehadirannya di kantor kejaksaan tersebut. “Saya tidak ada acara apa-apa. Saya hanya jalan-jalan saja,” dalihnya.

Setelah Nurul, giliran Yessi yang keluar dari kantor kejaksaan. Perempuan itu keluar pukul 15.38 atau setelah lima jam pemeriksaan. Tak jauh berbeda, Yessi juga bungkam. Sembari berjalan cepat, dia ngeloyor menghindari awak media. Bahkan, sampai menuju kendaraannya, Yessi tak berkomentar apa pun.

Terakhir, barulah Achmad Imam Fauzi yang keluar pukul 17.10. Sama dengan sebelum-sebelumnya, pria yang akrab disapa Fauzi ini juga tak berkomentar banyak terkait pemanggilannya sebagai saksi. “Tanyakan ke penyidik saja,” timpalnya.

Pemeriksaan terhadap Fauzi memang paling lama dari dua saksi lainnya. Setyo pun membenarkan bahwa Fauzi paling terakhir dalam pemeriksaan. “Memang banyak yang kami tanyakan,” ujar Setyo. Tapi, dia tak memerinci mengapa Fauzi yang dikeluarkan paling akhir.

Sekadar informasi, tiga hari berturut-turut Kejari Jember menahan tiga tersangka pada kasus Pasar Manggisan ini. Mantan Kadis Disperindag Anas Ma’ruf ditetapkan sebagai tersangka pertama. Dia ditahan sementara di Lapas Jember pada 22 Januari lalu. Berselang sehari, konsultan perencanaan proyek ini Muhamad Fariz Nurhidayat menyusul menjadi tersangka. Sehari kemudian, giliran Edi Sandi yang menjadi tersangka. Dia berperan sebagai pelaksana proyek.

Dalam kasus Pasar Manggisan, Fariz meminjam bendera dari CV Menara Cipta Graha. Modus pinjam bendera tersebut diduga menjadi permainan Fariz dalam proyek pasar kali ini. Apalagi, Fariz juga diduga kuat meminjam bendera dalam proyek-proyek Pemkab Jember lainnya. Salah satunya pembangunan ruang terbuka hijau (RTH). Selain itu, nama Fariz pernah disebut dalam hearing DPRD Jember pada proyek renovasi Pendapa Kecamatan Jenggawah yang ambruk, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Edi Sandi menjadi mendapat kuasa dari Direktur PT Dira Putri Waranawa yang bertindak sebagai kontraktor proyek tersebut. Edi juga disebut bukan sebagai orang yang masuk kepengurusan PT pelaksana proyek ini. Dia hanya mendapat kuasa dan bertanggung jawab atas pengerjaan proyek itu.

Program revitalisasi pasar ini menjadi bagian program dari Bupati Jember Faida pada tahun 2018 silam. Anggaran sekitar Rp 100 miliar dari APBD dikucurkan untuk merevitalisasi 12 pasar tradisional.

Pihak kejari bakal terus mendalami perkara ini. Tak menutup kemungkinan ada tersangka baru dalam kasus tersebut. Setyo mengaku, kasus korupsi tak mungkin hanya dikerjakan satu orang saja, tapi dilakukan secara berjamaah. Namun, dia tak ingin berspekulasi karena tetap memegang asas praduga tak bersalah. Semua, kata dia, akan dibuktikan melalui fakta-fakta hukum dalam persidangan nanti.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih