Pekerja Sektor Pertanian Turun 3.37 Persen

Pemuda Enggan Jadi Petani

PETANI MODERN: Muhammad Fieqih Hidayatullah bisa menjadi contoh bahwa bekerja di sektor pertanian tak identik dengan kotor dan kumal. Lewat konsep pertanian hidroponik, dia bisa menjadi inspirasi agar pemuda Jember mau bercocok tanam.

RADAR JEMBER.ID –Turunnya sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jember, ternyata tak hanya disebabkan lahan bercocok tanam yang menyusut. Ternyata ada faktor lain yang turut memengaruhi. Yakni minimnya minat generasi muda menjadi petani.

IKLAN

Kepala Badan Pusat Stastistik (BPS) Jember, Arif Joko Sutejo mengatakan, jika diukur dari PDRB, ekonomi Jember tahun 2018 memang mengalami peningkatan sebesar 5,23%. Meski sumbangsih tertinggi tetap dari sektor pertanian, tapi juka diperinci, angkanya terus menurun dari tahun ke tahun.

“Pertanian memang penyumbang teringgi di PDRB Jember. Tapi coba lihat dari tahun ke tahun, justru sektor pertanian yang didalamnya ada perikanan dan kehutanan tersebut terus turun,” terangnya.

Dia mengakui, salah satu faktor turunya sumbangsih sektor pertanian adalah mulai berkurangnya lahan pertanian. Namun, kata dia, tidak hanya itu saja ada faktor lain yang menjadikan pertanian Jember terus menurun. “Pertanian turun itu juga karena minat jadi petani juga turun,” ujarnya.

Anak muda sekarang, Arif Joko menuturkan, enggan meneruskan profesi orang tuanya menjadi petani. Mereka lebih banyak memilih di sektor lapangan kerja manufaktur maupun servis. Data dari BPS berdasar kategori lapangan kerja, sektor agrikultur tahun 2015 menunjukan angka 46,27%. Jumlah tersebut terus melorot sekitar 3.37% di tahun 2018, yang turun menjadi 42,90%.

Sedangkan lapangan kerja yang menunjukan tren peningkatan adalah manufaktur. Tahun 2015 saja, dia berkata, sektor manufaktur menyerap 15,42% tenaga kerja. Dari tahun ke tahun angkanya terus meningkat. Bahkan, pada 2018 kemarin, besaran persentasenya mencapai 21,14% dari total jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 1,22 juta jiwa.

Menanggapi hal itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengakui, tantangan terbesar pertanian adalah bagaimana anak muda itu mau jadi petani. “Petani sekarang sudah tua. Anak muda sekarang enggan meneruskan jadi petani. Mereka memilih bekerja di perusahaan. Padahal jika dihitung hasilnya lebih menggiurkan petani dari pada buruh,” ujarnya.

Pemuda tidak mau jadi petani, kata Jumantoro, karena sudah membayangkan jadi petani itu berat. Mereka masih beranggapan jadi petani itu identic dengan kepanasan, kotor, capek, dan tidak mendapat penghasilan rutin setiap bulan.

Oleh karenanya, Jumantoro menambahkan, agar pemuda Jember mau jadi penerus petani, salah satunya adalah memberikan konsep pertanian modern dengan keilmuan petani masa kini. Sehingga persepsi negatif soal petani bisa dihilangkan. “Petani itu harus keren. Dan di Jember sudah ada pemuda yang bercocok lewat hidroponik. Pemuda itu yang kami dorong untuk jadi contoh bagi pemuda lain agar mau jadi petani,” imbuhnya.

Dia mencontohkan, di luar negeri sudah banyak anak muda yang jadi petani. Mereka ke lahan pertanian. Penampilannya keren. Tak lagi memakai busana ala kadarnya. Fenomena di Amerika Serikat, kata Jumantoro, banyak anak muda di sana mulai sadar pentingnya pangan dan mahalnya suasana pertanian tersebut.

Sehingga, banyak pemuda ingin jadi petani, tapi sayangnya mereka harus mengeluarkan biaya sangat mahal. “Penyebabnya ya tidak punya lahan. Harus mengeluarkan uang banyak untuk bisa dapat mahal. Sedangkan di Jember, banyak anak muda itu punya lahan pertanian dari orang tuanya,” tuturnya.

Muhammad Fieqih Hidayatullah, pemuda asal Pakusari yang kini menjadi petani hidroponik mengatakan, untuk menjadi petani itu enak. “Dari pada kerja ikut orang, enak kerja sendiri,” katanya.

Tantangan terbesar untuk memulai jadi petani sesuai dengan keingiannya, sambung petani khusus sayur selada ini, adalah mendapatkan restu orang tua. “Pertanian saya memakai konsep hidroponik jadi lahan pertanian konvensional diubah jadi green house. Izin orang tua mengubah sawah jadi green house itu yang susah,” ungkapnya.

Apalagi, petani di Jember ini, khususnya di daerah Jember utara susah untuk diberi ilmu pertanian terbaru. “Kalau sudah ada yang sukses mereka baru mencontoh cara bercocok tanam itu seperti apa,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih