Terinspirasi Sang Anak, Dirikan Sekolah Khusus Penyandang Disabilitas

Kiprah Adenovita Bantilan, Pendiri Yayasan Matahariku

Menjadi orang tua adalah kebanggaan. Mereka rela melakukan apa saja agar si buah hati dapat terpenuhi kebutuhannya, termasuk pendidikan. Inilah yang diusahakan Adenovita Bantilan. Ibu 47 tahun ini berkomitmen menyediakan pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhkan khusus, juga untuk anak penyandang disabilitas yang lain.

PEJUANG SOSIAL: Adenovita Bantilan, Pendiri Yayasan Matahariku SLB Starkids di Kecamatan Sumbersari.

RADAR JEMBER.ID – Ungkapan sosok ibu merupakan malaikat bagi anak, nyata adanya. Pandangan itu melekat pada Adenovita Bantilan. Perempuan kelahiran Yogyakarta ini seolah tak ingin menyerah dengan takdir. Dia mencoba bangkit memperbaiki nasib anaknya, hingga saat ini dirinya mampu bertahan dan dibutuhkan oleh banyak orang.

IKLAN

Sosok ibu yang sekaligus pendiri Yayasan Matahariku di Kecamatan Sumbersari itu, menceritakan perjalanannya dalam merintis lembaga. Tepat 11 tahun yang lalu, saat anaknya baru berusia 18 bulan, dia didiagnosis menyandang autisme. Perasaan tak menentu sempat dirasakannya.

“Pada tahun tersebut tempat terapi atau sekolah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) belum ada. Makanya kemudian saya berfikir bagaimana tetap bisa memberikan wadah kepada anak saya,” ungkapnya.

Kemudian, dia berinisiatif mendatangkan terapis dari Solo. Dua terapis itu merupakan lulusan Sarjana Okupasi Terapi dan Fisioterapi asal Politeknik Solo. “Kami bermodal sendiri. Pada saat itu, saya baru PNS dengan gaji masih Rp 600 ribu,” imbuh perempuan yang akrab disapa Bunda Ade tersebut.

Meski anaknya ditangani dua terapi sekaligus, dia tetap bersyukur masih bisa memberikan pendidikan untuk sang buah hati. Termasuk masalah pembiayaan yang selalu mendapat dukungan dari orang tuanya. Bahkan, Bunda Ade sempat cuti dari kerjanya selama beberapa tahun hanya untuk mendampingi anaknya tersebut.

Selang berjalannya waktu, Bunda Ade mulai berniat mengembangkan niatnya menyediakan lembaga pendidikan bagi ABK. Dia mengaku, berkeinginan untuk menjadi fasilitator dan merangkul yang lain. Pada saat anaknya berusia tujuh tahun, dirinya mulai merintis Yayasan Matahariku. Dan berkomitmen membantu sesama yang memiliki buah hati sepertinya.

Hingga saat ini, lembaga yang beralamatkan di Jalan Letjen Suprapto XVIII No 4 Kelurahan Kebonsari itu telah tumbuh pesat. Ade mengatakan, jumlah siswanya sekitar 40 anak dan 25 guru. “Jadi satu guru pegang dua anak. Kalau prinsip one on one (satu guru satu anak, Red) itu hanya berlaku di klinik,” ucapnya.

Perempuan lulusan Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu juga mengatakan, dalam menjalankan mode pendidikan untuk ABK, dia memberlakukan sistem subsidi silang. “Jadi yang miskin digratiskan. Orang-orang mampu kita terapkan SPP,” tambahnya.

Dia meyakini, sebenarnya naluri para orang tua selalu sayang dan peduli pada anak-anaknya. Namun mereka seringkali abai dalam urusan pendidikan. Terlebih bagi mereka para orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. “Ketika saya sudah tidak mampu mengurusnya lagi, saya yakin yayasan dan lembaga saya bisa diteruskan oleh orang-orang yang benar-benar amanah,” harapnya. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih