Gus Baiqun: Ajaran Mereka Meresahkan, Minta Pemerintah Cepat Bersikap

JUMAI/RADAR JEMBER GESEKAN: Gus Baiqun (dua dari kiri) saat menyampaikan orasi di depan kantor Pemkab Jember, kemarin. Aksi kelompok yang mengatasnamakan Topi Bangsa ini kemarin digelar di dua titik, depan kantor pemkab dan gedung DPRD. 

RADARJEMBER.ID- Ratusan massa yang mengatasnamakan kelompok Tolak Penjajahan Ideologi (topi) Bangsa kemarin menggeruduk kantor Pemkab dan gedung DPRD Jember. Mereka menolak menyebarnya paham ataupun ajaran yang meresahkan warga.

IKLAN

Koordinator aksi, Baiquni Purnomo alias Gus Baiqun menyebutkan, aksi itu didasari keresahan warga akan ajaran yang disampaikan pihak Yayasan Imam Syafi’i dan Ma’had As-Salafi di Gladak Pakem. Mereka menilai paham yang disebarkan bertentangan dengan akidah ahlussunnah waljamaah. Dalam tuntutannya, massa meminta Pemerintah Kabupaten Jember membekukan seluruh kegiatan Yayasan Imam Syafi’i (STDI) dan Ma’had As-salafi tersebut.

Menurut Gus Baiqun, mereka meresahkan karena membagi-bagikan buletin yang berisi tulisan yang dinilai menyamakan kiai dengan dukun. “Mendatangi kiai pahalanya ditolak 40 hari, mendatangi kiai terancam kafir atau musyrik, ajaran mereka ini meresahkan. Ini yang kami tolak,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan bahwa satu hal lagi yang membuat masyarakat resah. Yakni mengatakan bahwa majelis selawat adalah zindiq, artinya menampakkan keislaman untuk menyembunyikan kekafiran. Seakan-akan mereka menuduh para kiai yang di dalamnya mengajarkan agama dan menyampaikan agama lewat majelis selawat. “Nanti akan kami serahkan buletin yang mereka sebar kepada pemerintah dan dewan,” ucapnya.

Dalam aksi itu pula, Iwan yang ditunjuk mewakili warga untuk menyampaikan aspirasinya, membacakan tuntutan yang terdiri dari tiga poin. Yakni menolak keberadaan Yayasan Imam Syafi’i dengan segala aktivitasnya serta lembaga pendidikan yang didirikan, yakni STDI, TK, SD, SMP Islam Imam Syafi’i. Meminta kepada Bupati Jember untuk membekukan izin operasional TK dan SD Imam Syafi’i karena jarak TK dan SD kurang dari satu meter. Tidak mengeluarkan izin operasional SMPI Imam Syafi’i, yang sekarang telah ada kegiatan.

Massa yang berjumlah lebih dari 400 orang berkumpul di alun-alun depan Kantor Pemda Jember pada pukul 10.00 WIB. Mereka menggunakan motor bahkan truk untuk bisa mencapai lokasi. Sebelum melakukan aksi, para peserta melaksanakan Salat Jumat di masjid Jamik Al Baitul Amin. Setelah Salat Jumat, masa langsung berkumpul kembali di depan Kantor Pemkab Jember. Kemudian mereka aksi dengan orasi sekaligus menyampaikan aspirasinya sambil melantunkan selawat.

Setelah selesai menyampaikan aspirasinya, sekitar pukul 14.00, massa langsung menuju gedung DPRD Jember. Di sana mereka juga menyuarakan untuk segera menindak cepat aktivitas Yayasan Imam Syafi’i agar keresahan warga tidak berkelanjutan dan keamanan serta ketertiban masyarakat terwujud.

Sebelumnya, Pendiri Yayasan Imam Syafi’i DR Ali Musri angkat bicara soal rencana aksi unjuk rasa yang akan dilakukan masyarakat. Ali membantah jika lembaganya dituding memicu terjadinya konflik dan menimbulkan keresahan di masyarakat sekitar. “Aksi unjuk rasa menyampaikan aspirasi boleh saja, karena dilindungi undang-undang,” tutur Ali Musri.

Namun, pihaknya merasa alasan yang dipakai sebagai dasar aksi unjuk rasa tersebut masih kurang pas. Apalagi, salah satunya tudingan buletin STDI yang dianggap menyimpang. Contohnya untuk Maulid Nabi, pihaknya tidak pernah menuduh masyarakat yang merayakan Maulid Nabi Muhammad termasuk golongan zindiq.

“Tulisan di buletin hanya menceritakan sejarah dimulainya perayaan Maulid Nabi,” jelasnya. Tentang sejarah Maulid Nabi yang dilakukan oleh orang-orang zindiq sesuai dengan isi dalam kitab Bidaiyah Wal Inayah. Juga dirinya mengatakan tidak ada tuduhan menyamakan kiai dengan dukun atau peramal.

“Itu dianggap, kan banyak orang yang datang ke tukang sihir, karena orang awam tidak paham, mengakui dia kiai. Jadi bukan menuduh,” jelasnya. Bukannya kiai sesungguhnya, tetapi penyebutan kiai terhadap orang yang memiliki kelebihan khusus oleh orang awam.

Ali menjelaskan, sejak merintis berdirinya STDI pada tahun 2007 hingga sekarang, pihak kampus tidak punya permasalahan apa pun dengan masyarakat sekitar. Pihaknya juga melakukan berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat seperti buka puasa bersama, penyaluran daging hewan kurban di setiap Iduladha, penyaluran zakat mal, pengobatan dan khitan gratis, pasar murah, lomba anak saleh, dan sebagainya.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai, Mg2
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :