Tabuh Beduknya, Ayo Takbir…!

SUDAH TRADISI: Dua remaja Masjid As-Shirotol Mustaqim, Kecamatan Rambipuji, belajar menabuh beduk untuk mengiringi gema takbir.

RADARJEMBER.ID – Gema takbir senantiasa berkumandang menyambut hari raya Idul Fitri. Suara beduk juga sempat menjadi tradisi untuk ditabuh mengiringi lantunan takbir. Saling bersahutan satu sama lain. Para orang tua, pemuda, remaja, dan senyum keceriaan anak-anak pun tidak ketinggalan untuk ikut melantunkan takbir.

IKLAN

Tradisi gema takbir dan tabuh beduk sayangnya akhir-akhir ini sudah mulai luntur alias jarang dilakukan. Maklum, di era sekarang banyak masjid yang tidak memiliki beduk. Sebut saja, Masjid Jamik Al-Baitul Amin Jember. Di masjid ini, hanya ada beduk lama di masjid yang lama. Sedangkan di masjid yang baru tidak ada beduknya.

Namun demikian, masih banyak masjid di Jember yang tetap mempertahankan tradisi tabuh beduk. Salah satunya yaitu Masjid As-Shirotol Mustaqim, Kecamatan Rambipuji. Sebelum takbir pun para remaja masjid sudah bersiap menyambut hari raya dengan mengumandangkan takbir. “Ini kami belajar untuk ditabuh saat takbir besok (nanti malam, Red),” kata Muhammad Zakaria yang belajar menabuh beduk bersama temannya, Akbar Maulana.

Data yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Jember, lunturnya tradisi takbir diiringi tabuhan beduk terjadi sejak tahun 1998 atau akhir masa Orde Baru. Saat itu, terjadi perbedaan penentuan hari raya Idul Fitri. Karena lamanya menunggu kepastian hari raya, sehingga beduk tak segera ditabuh alias tak segera bertakbir.

Insiden harus menunggunya penentuan hari raya Idul Fitri juga terjadi di tahun-tahun berikutnya. Alhasil, setelah tahun 1998, setidaknya ada tiga perbedaan jadwal hari raya. Yaitu di tahun 2006, 2007, serta tahun 2011. Hal tersebut kontan membuat banyak orang tidak langsung menabuh beduk untuk mengumandangkan takbir.

Menurut Ustad H Imam Syafi’i, bendahara Yayasan Masjid As-Shirotol Mustaqim, untuk takbir di masjid Kecamatan Rambipuji tersebut tetap mengumandangkan takbir dengan diiringi tabuhan beduk. “Kalau penabuh bisa siapa saja. Kebanyakan anak-anak remaja,” ujarnya.

Imam Syafi’i mengakui mulai lunturnya tabuhan beduk saat Lebaran. Menurutnya, hal itu terjadi tidak lepas karena seringnya perbedaan hari raya Idul Fitri, sehingga masyarakat harus menunggu sampai waktu malam.
“Kalau dulu, pada masa Orde Baru atau sebelum tahun 1998, masjid-masjid sudah melakukan takbir saat sore hari atau setelah salat Asar. Jadi, banyak anak-anak kecil yang datang ke masjid untuk ikut bertakbir,” ungkapnya.

Dengan beberapa kali terjadinya perbedaan hari raya, takbir pun akhirnya sangat jarang dilakukan sejak sore hari. Suara takbir rata-rata dilakukan pada malam hari setelah ada ketetapan pemerintah. Karena waktu mulainya takbir cukup malam, membuat anak-anak tak lagi ikut nimbrung di masjid untuk mengumandangkan takbir. “Zaman sekarang berbeda. Tetapi di sini tetap ada yang bertakbir diiringi beduk,” paparnya saat ditemui radarjember.id.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Hadi Sumarsono