Bukan Penyebab Retakan Jompo

SUDAH DIBONGKAR : Aspal Jl Sultan Agung ikut retak akibat insiden ambrolnya pertokoan Jompo, Senin (2/3). Desas desus terjadinya retakan pertama sempat dikaitkan dengan pembangunan Rien Collection, namun kabar miring tersebut dinyatakan tidak benar dan telah dibantah oleh owner Rien Collection.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Meski sudah dilakukan banyak kajian, namun spekulasi penyebab ambrolnya ruko Jompo masih juga berseliweran. Salah satunya adalah yang dikait-kaitkan dengan bangunan megah Rien Collection yang hanya sepelemparan batu dari lokasi bencana ruko ambrol.

IKLAN

Konon, pembangunan gedung megah empat lantai itu menjadi salah satu pemicu pergerakan tanah. Dampaknya, ruko Jompo menjadi labil, bahkan miring. Kabar yang beredar, saat membangun gedung pertokoan tersebut, pihak Rien Collection menggunakan tiang pancang. Aktivitas memasukkan tiang pancang ke dalam bumi ini yang disebut-sebut semakin memperparah kondisi ruko yang kala itu memang sudah mulai mengkhawatirkan kondisinya.

Benarkah? H Hendy Siswanto, owner Rien Collection, tegas menampik kabar miring itu. Kata dia, kabar itu memang sudah sejak lama dia dengar. Bahkan, jauh sebelum kejadian ambruknya ruko di kompleks pertokoan Jompo. Dia mengaku tak tahu dari mana sumbernya. Namun, sejauh ini memang pihaknya memilih diam. “Sebab, selain tidak betul, saya kira tak perlu ditanggapi saat itu,” katanya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Hendy menegaskan, pihaknya tidak pernah ceroboh dan gegabah membangun gedung Rien Collection di Jalan Sultan Agung. Hendy yang insinyur sipil ini mengatakan, sejak awal tidak pernah merencanakan membangun gedung yang sangat tinggi untuk menjalankan bisnisnya itu. “Hanya empat setengah lantai kok,” tukasnya.

Dengan konstruksi bangunan seperti itu, menurut dia, tidak perlu pemakaian tiang pancang. Sebab, hanya akan memboroskan dana dan sia-sia. “Fondasi saja cukup. Tak perlu tiang pancang. Itu mengapa kami tak memakainya (tiang pancang),” kata pria yang juga maju menjadi bakal calon bupati ini.

Jika bangunan melebihi sepuluh lantai, lanjut Hendy, baru tiang pancang itu diperlukan. Dan itu tidak asal juga mengaplikasikannya. Kontur tanah dan bangunan di sekitar area pertokoan Jompo sangat tidak layak jika memakai tiang pancang dengan model dipukul-pukul ketika memasukkan. Namun, harus menggunakan sistem bore pile. Yakni jenis fondasi yang diawali dengan membuat lubang di tanah dengan cara dibor. Kemudian, diisi besi tulangan untuk dilanjutkan dengan pengecoran. Kekuatan bore pile ini sama dengan tiang pancang. “Di sini bore pile yang cocok. Sebab, kalau pakai tiang pancang dan dipukul, getarannya akan ke mana-mana. Bisa retak-retak semua bangunan sekitar sini (Rien Collection),” tegasnya.

Dia lantas mencontohkan, aktivitas penghancuran dan pembersihan puing-puing bangunan ruko jompo yang roboh dengan menggunakan breaker sangat dirasakan dampaknya. Yakni, adanya getaran pada bangunan di sekitar ruko yang ambruk. Di Rien Collection, lanjut Hendy, sangat terasa getaran yang diakibatkan aktivitas breaker. Di lantai empat sampai empat setengah getaran itu terasa. “Itu hanya breaker. Bayangkan jika ada aktivitas memasukkan tiang pancang ke perut bumi,” katanya.

Untuk itu, dia mengajak semua pihak bisa bijak. Bencana ini tak lagi terus dipolemikkan. Tapi, lebih pada upaya mencari solusi bersama. Agar pembenahan cepat, aktivitas dan ekonomi warga juga kembali normal. Sebab, akibat bencana tersebut, banyak dampak yang dirasakan. Tak hanya aktivitas bisnis di seputaran Jalan Sultan Agung, tapi juga lalu lintas. “Kita jadikan bencana ini momen evaluasi dan introspeksi bersama,” katanya.

Sementara itu, wartawan Jawa Pos Radar Jember yang sempat berkomunikasi dengan pegawai BBPJN Jember menyebutkan, kalaupun ada pengeboran atau pemasangan paku bumi, tidak akan berpengaruh pada lokasi sekitar. Dijelaskannya, struktur tanah per meternya bisa berbeda-beda, sehingga lokasi pinggir sungai tidak akan sama dengan di tengah jalan atau di seberang jalan.

Retaknya jalan disebabkan karena struktur tanah yang gembur. Semakin diresapi air, maka akan semakin lembek. Hal itulah yang terjadi sebelum bangunan ambruk. Yakni beban bangunan pertokoan Jompo membuat tanah gembur, menjadikan aspal retak. Begitu intensitas hujan masuk ke jalan aspal, tanah di bawahnya semakin lembek. Sementara, pertokoan itu ambruk disebabkan karena tiang fondasi bangunan bagian belakang sudah menggantung di atas sungai sejak Maret 2019 lalu, bahkan sejak sebelumnya.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih