Normal, Retakan di Jembatan Semanggi

Pasca-Penambahan Ornamen 18 Ton

NORMAL: Meski kapasitas kekuatan Jembatan Semanggi belum diketahui, munculnya retakan aspal di jembatan yang menuju kawasan kampus itu sempat membuat ramai warganet. Retakan semacam itu ada pada setiap jembatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembangunan ornamen warna-warni di Jembatan Semanggi memang mempercantik. Hiasan berupa besi yang didesain artistik itu juga kerap dibuat latar foto oleh warga yang melintas. Namun baru-baru ini, beredarnya foto retakan di badan jembatan sempat membuat ramai warganet. Ada yang khawatir retakan itu akibat penambahan beban di atasnya dan memengaruhi konstruksi jembatan.

IKLAN

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, kapasitas dan kekuatan Jembatan Semanggi belum diketahui secara pasti. Apakah jembatan itu hanya mampu menampung beban 20 ton, 30 ton, atau bisa sampai menahan beban 100 ton. Sebab, sejauh ini belum ada penjelasan memadai dari dinas terkait.

Informasi yang diperoleh, jembatan itu dibangun pada tahun 1980-an dan diperbarui tahun 1990-an. Setelah berjalan hampir tiga dekade, ada pemugaran lagi. Tapi bukan pada konstruksi, melainkan penambahan hiasan di atasnya. Berat ornamen yang dibangun dengan dana sebesar Rp 4,4 miliar tersebut mencapai sekitar 18 ton. Kondisi inilah yang memunculkan spekulasi bahwa retakan itu akibat konstruksi jembatan tak kuat menahan tambahan beban.

Ketua Komisi C David Handoko Seto menyebutkan, sejauh ini anggota dewan juga belum mengetahui berapa kapasitas kekuatan jembatan. Menurutnya, Komisi C meminta data terkait jembatan, namun hingga kini belum diberikan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Jember.

“Kami sempat sidak, memanggil, dan mendatangi dinas terkait. Tapi sampai sekarang data jembatan belum diberikan. Kami khawatir, pembangunan ornamen itu tidak dihitung. Berapa sebenarnya kapasitas kekuatan jembatan, kami juga belum tahu,” katanya.

Menurutnya, melalui penggunaan hak angket yang dilakukan DPRD, panitia angket akan memanggil pihak terkait. Hal itu untuk mengetahui berapa sebenarnya beban maksimal yang mampu ditahan oleh Jembatan Semanggi. “Dinas tidak memberikan data apa pun. Salah satu cara nanti akan kami panggil melalui angket. Agar semua masyarakat tahu berapa kapasitas kekuatan jembatan. Karena sekarang bebannya sudah bertambah,” ucapnya.

Mengonfirmasikan munculnya retakan di Jembatan Semanggi, Plt Kepala Dinas PU BMSDA Yessiana Arifah mengatakan, keretakan itu merupakan hal yang normal dan tidak ada kaitannya dengan pembangunan ornamen. Kata dia, kondisi seperti retak yang ada di Jembatan Semanggi yang melebar dari sisi kiri ke kanan merupakan ruang sambungan pelat jembatan atau yang disebut expansion joint. “Pada intinya fungsinya sama dengan ruang sambungan rel kereta api,” tuturnya.

Pada plat jembatan itu juga terdapat besi penguat yang bisa memuai apabila terkena panas atau menahan beban berat. “Pemuaian ini harus diberi ruang seperti besi pada rel kereta api,” jelasnya.

Dikatakannya, sambungan tersebut juga dilakukan pemeliharaan secara berkala. Yakni dengan mengganti aspal pelapis dan aspal khusus yang fleksibel untuk mengisi ruang pemuaian. “Bila pernah lewat jalan tol seperti Pasuruan-Probolinggo yang belum diaspal, akan menemui sambungan-sambungan. Dan itu juga akan terasa saat berada di mobil. Sambungan itu sama halnya seperti Jembatan Semanggi,” paparnya.

Secara teknis, lanjut Yessi, dengan adanya retakan tersebut, kekuatan jembatan tidak ada masalah, karena yang retak hanya pelapis aspalnya. Dia menegaskan, dalam melakukan pembangunan ornamen Jembatan Semanggi pihaknya tidak hanya mengedepankan nilai estetika atau keindahan. Lebih dari itu, juga mempertimbangkan kekuatannya. “Beban hiasan Jembatan Semanggi itu telah dihitung oleh konsultan perencana, termasuk juga menghitung beban lalu lintas,” jelasnya.

Beban hiasan seberat 18 ton itu bertumpu secara merata pada sisi kiri dan kanan jembatan. Namun demikian, Yessi tak menguraikan berapa sebenarnya kekuatan kapasitas jembatan untuk menahan beban maksimal.

Sementara itu, Wakil Ketua III Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Jember Adi Juwantoro mengungkapkan, jika melihat foto-foto yang beredar luas tentang keretakan Jembatan Semanggi, menurutnya bukan kesalahan konstruksi. Tapi kondisi itu merupakan hal yang normal terjadi pada sebuah jembatan. “Sepertinya, aspalnya minta diperbaiki,” paparnya.

Adi menyebut, fondasi Jembatan Semanggi itu kuat. Jembatan yang dibangun sekitar tahun 1980-an tersebut konstruksinya juga bagus. Dia pun membenarkan, jika retakan melebar adalah wajar pada bangunan jembatan. Sebab, jembatan juga perlu ruang pemuaian. “Fondasinya pakai balok-balok yang besar. Jadi, kalau menahan beban ornamen seperti itu tidak ada masalah. Apalagi, yang lewat juga bukan kendaraan besar,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, retakan yang sempat diperbincangkan warganet di jalan ke arah RS Jember Klinik tersebut tidak hanya retak melebar, tapi juga ada retak bagian aspalnya. Retak melebar juga terjadi di bagian tengah jembatan. Bahkan, di ujung retakan itu juga terlihat lempengan besi.

Reporter : Dwi Siswanto, Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih