Keberatan Dakwaan, Siap Divonis Mati

 Terdakwa Pembunuhan Mayat Dicor di Ledokombo

SIDANG JARAK JAUH: Dua terdakwa pembunuhan, Bahar Mario dan Busani, dalam layar sidang telekonferensi di PN Jember, kemarin (2/4).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bahar Mario, satu dari dua terdakwa pembunuhan terhadap Surono, korban yang jasadnya dicor di bawah musala rumah di Ledokombo, mengaku keberatan dengan dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU). Dia meminta majelis hakim membebaskan ibunya, Busani. Busani juga menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan terhadap suaminya tersebut.

IKLAN

“Keberatan yang mulia. Seumpama bukti-bukti nanti itu sudah ada, saya siap divonis mati. Dan lepaskan ibu saya,” kata Bahar Mario, menjawab pertanyaan Jamuji, ketua majelis hakim pada sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Jember, kemarin sore (2/4).

Dalam persidangan via telekonferensi itu, terdakwa yang berusia 27 tahun ini bersama ibunya tak hadir di muka majelis hakim. Keduanya mengikuti agenda sidang dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember. Sementara itu, penasihat hukumnya hadir dalam persidangan di PN Jember.

Karena sidang jarak jauh, antara terdakwa dengan para pengacaranya, Feri Sagria untuk Busani dan Karuniawan Nurahmansyah yang membela Bahar Mario, sempat terjadi miss komunikasi. Sebab, mereka tidak bisa berdiskusi secara langsung apakah menerima atau keberatan atas dakwaan yang dibacakan oleh Yuri Andina Putra, JPU dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember.

Namun, dua penasihat terdakwa sama-sama kompak tidak mengajukan eksepsi maupun keberatan atas dakwaan JPU. Maka dari itu, hakim menunda persidangan tersebut dan digelar kembali pada Kamis (9/4) mendatang. “Koordinasikan ya. Kami beri kesempatan. Apakah dipergunakan apa tidak nanti. Sepertinya masih ada miss,” tutup Jamuji.

Seusai persidangan, Suparman, salah satu tim pengacara dari Busani, menekankan bahwa pihaknya menerima dakwaan dari JPU dan tidak mengajukan eksepsi. “Setelah pembacaan dakwaan, Busani ini tidak mengerti apa yang dimaksud dengan dakwaan. Apa yang dimaksud oleh hakim soal keberatan itu. Jadi, masih kurang memahami,” ucapnya.

Selanjutnya, tim pengacara terdakwa bakal menemui langsung kliennya di Lapas Kelas II A Jember, tempat para terdakwa ditahan sementara ini. “Sidang ini ditunda sampai pekan depan, karena memberi kesempatan kepada kami mengajukan keberatan atau tidak. Karena terdakwa sendiri masih belum paham,” tutur Suparman.

Apakah pada sidang pemeriksaan saksi mendatang pihaknya sudah memiliki saksi meringankan untuk diajukan? Suparman mengaku bakal mendiskusikan lebih lanjut mengenai hal itu. “Masalahnya, kejadian ini di dalam rumah dan tengah malam. Mungkin kami kalau mau ajukan saksi yang meringankan, dari pihak keluarga. Mengapa terdakwa bisa melakukan hal itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, kasus pembunuhan terhadap korban yang merupakan ayah dan suami para terdakwa ini terbongkar pada awal November 2019 lalu. Kasus itu sempat membikin publik di Jember gempar. Sebab, pembunuhan itu tergolong sadis. Selain dilakukan oleh keluarga dekat, jasad korban juga dikubur di pekarangan rumah yang belakangan didirikan musala di atasnya.

Kasus pembunuhan itu dilakukan pada Maret 2019 lalu sekitar pukul 23.00 di rumah pelaku maupun korban, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo. Terdakwa Bahar Mario menghabisi nyawa ayahnya menggunakan linggis seberat 10 kg. Bahar membunuh Surono ketika tertidur. Dia tak sendiri, melainkan dibantu Busani, ibu kandungnya.

Di belakang rumah, terdakwa sudah menyiapkan lubang sedalam 80 sentimeter dan satu karung semen. Lubang itu sebagai tempat mengubur jasad Surono. Jika Bahar sebagai eksekutor, perempuan 47 tahun itu ikut berperan dengan menyiapkan cangkul.

Setelah dikubur, Bahar melapisinya dengan cor-coran semen. Linggis yang digunakan juga ikut dikubur. Guna menutupi jejak, mereka mendirikan bangunan baru. Di antaranya kamar mandi, dapur, dan garasi motor. Persis di atas titik penguburan mayat Surono, para terdakwa membangun sebuah musala.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih