Racun Berasal dari Tongkol Tikus

250 Korban Makan Ikan Kondisi Rusak

JUMPA PERS: Dari kiri, Kepala Loka POM Jember Any Kusbudiwati, Plt Kepala Dinas Kesehatan Dyah Kusworini, Plt Kepala Dinas Perikanan Murtadlo, dan Humas Pemkab. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena keracunan yang membuat heboh warga Kabupaten Jember akhirnya terkuak. Sebanyak 250 orang yang tercatat sebagai korban (sebelumnya terdata 199 orang), seluruhnya diketahui mengonsumsi ikan tongkol. Ikan yang dikonsumsi tersebut adalah jenis tongkol tikus yang sudah rusak.

IKLAN

Dalam jumpa pers di Pemkab Jember, kemarin (2/1), Plt Kepala Dinas Perikanan Murtadlo menyampaikan, ikan tongkol jenis tikus sejatinya adalah ikan yang aman dikonsumsi. Akan tetapi, ikan ini memiliki ketahanan tubuh yang lemah dan relatif lebih cepat rusak.

“Di Puger, para nelayan memang panen ikan tongkol locot atau tongkol jenis tikus. Warna ikannya lebih hitam,” kata Murtadlo. Sebenarnya, kata dia, ikan ini tidak berbahaya. Tetapi, karena masyarakat tidak tahu cara menyimpannya, maka menimbulkan histamin atau racun yang ditimbulkan ikan.

Ikan tak bersisik seperti tongkol, menurutnya, memiliki ketahanan yang kalah tangguh dengan ikan bersisik. Sedangkan tongkol tikus merupakan ikan yang paling mudah rusak dibandingkan jenis ikan serupa. “Tiga sampai empat jam saja tongkol tikus ini bisa rusak. Kecuali disimpan menggunakan es, dimasukkan ke freezer, diasap, atau dioven,” ucapnya.

Insiden keracunan yang terjadi di masyarakat, menurut dia, karena banyak orang yang tidak mengetahui cara menyimpan ikan. Begitu mereka membeli tongkol tikus di Puger atau tempat lain, ikan tersebut dibiarkan begitu saja. Biasanya ikan itu dibeli pagi atau siang, kemudian tidak disimpan dengan es atau diawetkan dengan cara lain. “Begitu dibakar malam hari, kondisi ikan sudah rusak, berrek kata nelayan Puger,” jelas Murtadlo.

Pada waktu ikan dibiarkan lama tanpa diberi es, empat jam setelah itu tubuh ikan mengeluarkan racun histamin. Racun inilah yang kemudian membuat warga yang mengonsumsinya mengalami mual, pusing, dan sakit. “Ikan apa pun kalau sudah rusak juga bisa membuat orang alergi,” bebernya.

Murtadlo menyebut, kesalahan penyimpanan itu bukan pada nelayan atau pedagang tapi lebih ke konsumen. Sebab, dia mengklaim, seluruh nelayan dan pedagang sudah diberi pembinaan agar selalu menggunakan es untuk menyimpan ikan jenis apa pun. “Kalau pembinaan kepada nelayan sampai kepada pedagang yang keliling sudah. Tetapi, setelah dibeli, masyarakat ini yang kadang tidak menyimpan dengan cara yang benar,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Dyah Kusworini menyebutkan, hingga jumpa pers di pemkab sore kemarin, jumlah warga yang teridentifikasi keracunan ikan mencapai 250 orang. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan dan desa. “Dari 250 korban, 248 orang sudah sembuh dan pulang ke rumahnya masing-masing. Saat ini hanya ada dua yang masih menjalani perawatan,” paparnya.

Dyah menambahkan, keracunan ikan yang dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) tersebut terus menjadi perhatian. Oleh karena itu, pihaknya memberi penanganan dengan memberi pengobatan sampai selesai kepada pasien yang keracunan. “Untuk di puskesmas, semuanya gratis termasuk di rumah sakit pemerintah,” ucapnya.

Apakah racun histamin pada tongkol tikus berpotensi mematikan seseorang atau tidak, Dyah menyatakan tidak berpotensi. “Belum sampai ke arah situ. Jadi korban hanya sebatas mual, pusing dan gatal-gatal. Kalau ada bahan kimianya, mungkin,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember Any Kusbudiwati menyampaikan, beberapa sampel ikan telah diambil dan akan dikirim serta diperiksakan ke laboratorium di Surabaya. Menurutnya, beberapa sampel baru akan dikirimkan hari ini. “Belum dikirim, rencananya besok,” katanya.

Any menyebut, hasil pemeriksaan sampel ikan yang dikirim ke Surabaya baru akan diketahui paling lama 14 hari setelah pengiriman dilakukan. “Hasilnya apa, kami belum tahu karena akan dikirim. Paling lama 14 hari akan diketahui,” pungkasnya.

Sebelumnya, sebanyak 119 warga di Jember mengalami keracunan ikan tongkol. Mayoritas warga yang keracunan tersebut adalah mereka yang pesta bakar ikan pada malam tahun baru 2020. Jumlah it uterus bertambah hingga mencapai 250 orang.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih