Cemaskan Keluarga di Palu

Jumai/Radar Jember TIDAK TENANG: Yani (kanan) dan Ida, Warga Dusun Krajan, Desa Tegalsari, Ambulu masih belum mendapatkan kabar keberadaan keluarganya yang di Palu, Sulawesi Tengah, pasca gempa Jumat lalu (29/9).

RADARJEMBER.ID – Tangannya memang terus mengulek adonan rujak yang ada di meja, namun jelas sekali pandangan perempuan ini sama sekali kosong. Sesekali dirinya kembali melamun dan hanya menjawab sekenanya pertanyaan yang diberikan oleh orang yang datang mengunjungi warung rujaknya di dekat Dam Renes, Desa Tegalsari, Ambulu ini.

IKLAN

Terlihat sekali wajah perempuan ini tidak tenang. Bagaimana Yani, penjual rujak ini, bisa tenang jika hingga kemarin dia dan keluarganya di Ambulu sama sekali belum mendapatkan kabar tentang kondisi Indah Dwi Wahyuni, adik kandungnya yang kini tengah merantau ke Palu.

Dirinya khawatir apakah adiknya bersama dengan Ifdan, suami Indah, dan dua keponakannya, Farira dan Adip (anak Indah) ikut menjadi korban atau tidak. “Sama sekali tidak ada kabar dari Indah setelah gempa, keluarga di sini sangat khawatir,” ujar Yani yang kemarin dibarengi adik bungsunya, Ida.

Pihaknya pun kebingungan untuk mencari kabar anggota keluarganya ini. Pasalnya, saat ditanyakan tentang alamat pasti adiknya di Palu, Yani sama sekali kebingungan. Dirinya tidak tahu alamat pasti adiknya yang memang ikut sang suami di sana. “Tidak tahu, pokoknya di Palu. Selama ini ya telepon saja,” terangnya.

Sempat ada pesan singkat yang masuk kepada ponsel Yani. Namun, dirinya tidak yakin jika itu yang mengirimkan adiknya. Karena sang adik jika mengabari biasanya memang selalu dengan menelepon.

Sebagai orang kecil, Yani pun tidak tahu harus ke mana untuk mencari dan melaporkan keberadaan keluarganya itu. “Untuk berangkat ke sana ya tidak mampu, kan biayanya pasti mahal,” ucap Yani. Tentu biaya ke Palu bagi orang kecil seperti dirinya adalah hal yang sulit diwujudkan.

Diakuinya, pihak desa sempat mendatangi dan bersedia memfasilitasi membantu melaporkan ke pihak berwenang. Saat ini masyarakat Jember yang membutuhkan informasi keluarganya bisa mendatangi Pusdalops BPBD (Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jember.

Namun, saat dijelaskan bahwa pihak BPBD sudah mengetahui hal ini, pihaknya kaget. Pihak keluarga diakuinya tidak pernah memberi tahu atau melaporkan keluarganya yang ada di Palu kepada siapa pun.

“Belum, kami belum laporan kepada pihak BPBD,” terang Yani. Namun, pihaknya mengaku berterima kasih jika kemudian ada kabar dari keluarganya di Palu itu. Hingga kini, Yani yakin jika keluarganya di Palu masih selamat.

“Saya yakin masih selamat. Jika selamat, nanti saya minta pulang saja ke Jember,” tuturnya mantap. Apalagi, dijelaskan Yani, Indah sudah merantau ke Palu sejak lama, yakni lima tahun yang lalu.

Kecemasan serupa juga sempat melanda Supiati, warga Jalan Teratai, Kelurahan  Gebang, Kecamatan Patrang. Salah satu putranya, Rahmad Hadiyanto, sedang berada di Palu ketika terjadi bencana gempa dan tsunami. Namun, kepanikan itu hilang setelah putranya memberi kabar.

“Gempa dan tsunami kan magrib, pagi sekitar jam 08.00 hanya kirim pesan pendek,” kata Rifka Fatmawati, adik kandung Rahmad. Pesan pendek itu berisikan kabar bahwa keluarga Rahmah baik-baik saja.

“Namun kam belum percaya, khawatir hanya untuk menenangkan saja,” tambahnya. Sebab, setelah mengirim pesan pendek itu, Rahmad tidak bisa dihubungi lagi. Rifka pun mencari informasi kepada berbagai relawan tentang keberadaan kakaknya.

Sebab, sang kakak sudah bekerja di Palu sekitar lima tahun sebagai pegawai salah satu perusahaan lampu. Tempat bekerjanya juga berada di lokasi terjadinya gempa. Keluarga pun semakin cemas karena tidak kunjung mendapat kabar.

Rahmad tidak sendiri merantau ke sana, dia bersama istri dan tiga anaknya. Tak heran, keluarganya yang di Jember merasakan kepanikan dan kekhawatiran. “Namun setelah menunggu, baru tadi malam (kemarin, Red) menelepon,” akunya.

Rahmad menghubungi keluarga setelah berada di bandara dan hendak pulang ke Jember. Sebab waktu itu, baterai dan sinyal gawainya lemah. Baru setelah ada di bandara bisa digunakan. “Mereka mau pulang masih antre, karena penumpang  sangat banyak,” paparnya.

Berdasarkan data dari Pusdalops BPBD Jember, sejumlah keluarga asal Jember berada di Palu ketika gempa dan tsunami melanda. Terdapat 18 orang yang belum diketahui kondisinya, 15 orang sudah diketahui selamat serta dua orang dikabarkan ditemukan meninggal dunia.

Warga Jember yang masih belum diketahui keberadaannya antara lain empat orang berasal dari Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu; empat orang dari Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Kaliwates. Kemudian, satu orang dari Desa Pakusari; dan empat orang dari Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan.

Sedangkan yang ditemukan selamat sebanyak 15 orang. Warga Jember yang meninggal dunia yakni Sulaiman dan Zubaidah, warga Desa Curah Lele, Kecamatan Balung.

Reporter : Rangga Mahardika, Bagus Supriadi, Jumai
Editor : Adi Faizin
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :