Tinggal di Dekat Hutan, Kampanyekan Cinta Lingkungan lewat Corak Kain

Upaya Perajin Batik Wonoasri Jaga Kelestarian Alam

Batik tak sekadar busana yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga menjadi khazanah lokal dan identitas suatu daerah. Salah satunya adalah batik alam Meru Betiri yang baru-baru ini diresmikan. Tampil dengan berbagai motif dan corak berbeda, batik tersebut mengusung misi cinta lingkungan dan kelestarian hutan.

KREATIF: Sejumlah perajin tengah mencanting untuk membuat sebuah motif batik bertema alam.

RADAR JEMBER.ID – Jika mendengar Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, mungkin yang terlintas di pikiran orang kebanyakan adalah desa yang lokasinya tersisih jauh dari perkotaan. Yaitu di kawasan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Karena lokasi yang berada di dekat hutan itu, sejumlah perajin batik terinspirasi menjaga potensi alam mereka melalui corak khas yang disebut Batik Meru Betiri.

IKLAN

Kepala Desa Wonoasri Sugeng Priyadi mengatakan, batik di desanya memang tergolong unik karena motifnya terinspirasi dari alam. Dia pun mengapresiasi pihak-pihak yang turut serta membantu mengenalkan produk unggulan di desanya tersebut. “Desa Wonoasri tidak memiliki sumber daya alam (hutan, Red). Tapi dengan kreativitas dan sumber daya manusia yang ada, kami mampu menciptakan produk batik yang khas. Ini menurut kami sudah luar biasa,” katanya.

Menurut dia, selama ini segala hal yang berkaitan dengan TNMB dinilai tak menjadi potensi yang bagus untuk perkembangan desanya. Namun, melalui sentuhan tangan-tangan kreatif, nama Meru Betiri bisa dikenalkan ke khalayak lebih luas melalui produk batik. Bahkan, peluncurannya (launching) dilakukan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro.

Sugeng meyakini, setelah diresmikan oleh menteri, batik khas desanya itu bakal memiliki pengaruh kuat untuk mendongkrak perekonomian desa. “Kalau ekonomi suatu desa meningkat, otomatis desa tersebut juga terangkat,” tambahnya.

Dalam mengembangkan potensi desanya itu, lanjut Sugeng, dia akan mendorong upaya meningkatkan perekonomian desa. Sebab, batik tersebut, kata dia, tidak hanya menjadi ikon desa, tapi juga Kabupaten Jember. Dia menambahkan, bentuk dukungan yang dilakukan salah satunya adalah dengan mengalokasikan Anggaran Dana Desa (ADD) Wonoasri untuk meningkatkan produksi dan kualitas batik.

Tak hanya itu, pihaknya juga berkolaborasi dengan Universitas Jember melalui program pendampingan untuk membentuk batik cap, batik tulis, maupun batik kolaborasi. “Kami tetap meminta dukungan berbagai pihak. Karena di desa sendiri, tidak hanya batik, banyak produk lainnya yang itu semua bersumber dari alam sekitar Meru Betiri sekitar yang ada di Wonoasri,” jelasnya.

Pengembangan potensi desa ini dilakukan sejak awal 2018 dengan membentuk berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE). KUBE tersebut tak hanya memproduksi yang menggunakan pewarna alam, tapi juga minuman herbal, hingga camilan khas Desa Wonoasri.

Harapan yang sama juga disampaikan para perajin Batik Meru Betiri. Salah satunya adalah Tutik Irawati. Menurutnya, peresmian batik tak hanya menjadi acara seremonial untuk mengukuhkan eksistensi Batik Wonoasri, namun juga menginformasikan ke masyarakat bahwa sumber daya alam yang ada di lingkungan hutan itu bisa dioptimalkan tanpa harus merusak.

Tutik memaparkan, bahan-bahan yang digunakan dalam kain batik ini sebagian besar berasal dari hutan. Seperti kulit kayu jambal, akar dan batang tanaman bakau, daun jati, tumbuhan putri malu, dan sebagainya. Bahan-bahan itu diolah untuk menjadi pewarna yang digoreskan di kain batik. “Sehingga ramah lingkungan. Dan memang ini tujuannya agar bisa menjaga kelestarian hutan dan lingkungan,” pungkasnya.

Tak hanya bahan, corak batik juga mengusung tema alam dan lingkungan. Ada 13 motif batik yang bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Baik flora maupun fauna. Seperti motif Samber Elang, Lembah Padmosari, Jejak Matul, dan Siput Meru. Selain itu, juga ada motif Botol Cabe, Rekahan Rafflesia, Pucuk Cabe Jawa, Kuncup Cabe, Kepak Elang, Tapak Asri, Lebah Meru, hingga Alas Meru. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih