Pesantren Juga Butuh New Normal

Berharap Dukungan Pemerintah dalam Menyiapkan Protokol Medis

SEGERA MONDOK LAGI: Suasana pemulangan santri di Pondok Pesantren Al-Amin Ambulu saat merebaknya wabah korona pada awal April lalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana kenormalan baru atau new normal masih hangat di sejumlah daerah, tak terkecuali di Jember. Sektor pasar tradisional mengawali hal itu. Namun untuk lembaga pendidikan masih belum ada titik terang. Pasalnya, dalam edaran Pemkab Jember beberapa waktu lalu, masa pembelajaran di rumah kembali diperpanjang hingga 20 Juni mendatang.

IKLAN

Sejumlah lembaga pendidikan yang berada dalam naungan pondok pesantren juga menantikan kenormalan baru itu. Terlebih lagi santri, yang memiliki kewajiban mengaji sekaligus bersekolah. Ketua Asosiasi Perhimpunan Pesantren Nahdlatul Ulama atau Rabithah Ma’ahid al Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Jember Fuad Achsan menuturkan, pesantren juga menjadi unsur yang sangat mengharapkan adanya kenormalan itu.

Menurutnya, pesantren sudah cukup lama mengalami kekosongan aktivitas yang membuat adanya beban moral yang besar kepada wali santri yang telah mengamanahkan putra putri mereka. “Namun persoalannya, banyak pesantren tidak punya sarana yang cukup untuk menjalani tatanan normal baru itu,” ujarnya.

Dalam pandangannya, perlu ada keterlibatan pemerintah dalam menyiapkan kenormalan baru itu untuk lembaga pendidikan, khususnya di pesantren. Sehingga bisa melanjutkan aktivitas belajar kembali. Sebab, beberapa santri tersebar di berbagai daerah bahkan hingga dari luar Pulau Jawa.

Sekembalinya mereka ke pesantren itu, kata dia, perlu disiapkan protokol medis yang memadai. “Protokol medis itu wajib hukumnya. Dan itu yang juga perlu dipikirkan ada keterlibatan pemerintah juga,” imbuhnya.

Salah satu pengasuh di Pesantren Al Amin Sabrang, Ambulu, itu juga menambahkan, sejak awal pemulangan santri pada awal April lalu, mereka dijadwalkan kembali ke pesantren pada 10 Syawal atau pada pekan ini. “Namun sampai sekarang belum ada sinyal bagaimana new normal diterapkan di lembaga pendidikan. Tentu tidak mungkin santri kembali ke pondok dengan membawa risiko terjangkit Covid-19,” paparnya.

Dia meyakini banyak pesantren lain di Jember yang juga tengah menantikan lampu hijau dari pemerintah agar turut ambil peran dalam menjalankan new normal tersebut. Terlebih lagi, upaya itu sudah diawali untuk pasar tradisional yang telah kembali dibuka, Sabtu kemarin. “Sekarang giliran pesantren,” harapnya.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Maulana
Fotografer: Istimewa