Dua Persen Balita Berisiko Covid-19

Balita 1,5 Tahun di Jember Positif Korona (dekker)

JAGA BUAH HATI: Meski ancamannya tergolong rendah, namun orang tua tetap diminta waspada penularan virus korona kepada balita. Sebab, di Jember telah ada balita yang terkonfirmasi positif Covid-19.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penularan Covid-19 di Jember masih belum bisa dikendali. Bahkan, yang terbaru, 31 Mei kemarin, terdapat penambahan 8 pasien korona dan salah satunya adalah balita berusia 1,5 tahun. Walau begitu, insiden balita terinfeksi korona masih lebih sedikit sekitar 2 persen.

IKLAN

Rilis Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemkab Jember menyebutkan, dari delapan kasus positif baru berdasarkan rilis tanggal 31 Mei, satu di antaranya merupakan balita berusia 1,5 tahun. Balita asal Dusun Krajan, Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, itu tercatat sebagai kasus positif ke-35.

Awalnya, balita tersebut berstatus orang tanpa gejala (OTG), dia dinyatakan punya kontak erat dengan pasien korona kasus ke-22. Orang tua balita tersebut juga positif korona dengan pasien 34 yang juga kontak erat dengan pasien korona ke-22.

Dokter spesialis anak dari Universitas Jember (Unej) dr M Ali Shodikin SpA mengatakan, untuk balita yang terinfeksi korona berdasarkan insidennya lebih sedikit ketimbang usia dewasa dan lanjut usia (lansia). “Kejadiannya sekitar dua persen dari seluruh yang terkonfirmasi positif Covid-19,” jelasnya.

Namun, jika yang positif itu semakin banyak, maka juga semakin banyak pula kasus korona yang menimpa bayi, balita, hingga anak. Walau kasus korona pada balita itu sedikit, tapi orang tua tetap tidak boleh lengah dan menyepelekan. Sebab, kasus pernafasan pada bayi dan balita, yaitu Pnenomia, menjadi angka tertinggi penyebab kematian di dunia. Terlebih, korona adalah virus baru yang juga menyerang pernafasan.

Sementara itu, dokter spesialis anak yang lain, Dr dr Aman B Pulungan, seperti dilansir laman Seminar Ngobrol Bareng di Ayah Bunda Magz, mengatakan, untuk data anak, baik mulai dari positif korona, orang dalam pemantauan (ODP), hingga pasien dalam pengawasan (PDP), di Indonesia masih rendah. “Mungkin DKI Jakarta yang bisa menyajikan data anak terkait korona,” ujarnya.

Sehingga, kata dr Aman, yang juga Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia tersebut, berinisiatif mengumpulkan seluruh dokter anak yang merawat untuk pengumpulan data. Data-data tersebut selanjutnya terus dievaluasi. Dia mengakui, angka korona untuk anak termasuk under-estimasi atau yang terendah bila dibandingkan dengan tingkatan usia remaja, dewasa, ataupun lansia.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih