Pembangunan Permanen Jompo Terancam Gagal

HATI-HATI: Pasca-pembukaan separuh Jalan Jompo, diharapkan tidak ada kendaraan parkir sembarangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan darurat ambruknya pertokoan Jompo terus dilakukan dan hampir tuntas. Bahkan, separuh Jalan Raya Sultan Agung Jember juga telah dibuka. Akan tetapi, di tengah penanganan Covid-19, kondisi Jompo ikut terdampak. Bekas pertokoan ambruk dan dirobohkan itu terancam tidak bisa ditangani permanen pada 2020 ini.

IKLAN

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII Kementerian PUPR Ahmad Subki menjelaskan, Jompo untuk sementara waktu masih ditangani secara darurat. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan agar bisa dilewati sebagian.

“Tujuannya mengamankan pengguna jalan. Soalnya, eco bag dan jumbo bag berfungsi sebagai penahan jalan. Selain itu, juga berfungsi sebagai tangkis sungai. Jadi, itu penanganan pertama untuk menyelamatkan pengguna jalan,” ungkapnya, belum lama ini.

Sementara, untuk penanganan permanen, menurutnya, masih harus menunggu anggaran dari APBN. “Dalam menyiapkan penanganan permanen, kami sedang melakukan penyelidikan tanah. Jembatan nanti juga diganti. Untuk taman juga sudah mulai didesain,” papar Subki.

Sementara itu, APBN yang dikelola pemerintah pusat banyak difokuskan pada penanganan Covid-19. Dengan demikian, penanganan permanen pada bekas pertokoan Jompo dengan panjang sekitar 170 meter tersebut sejauh ini belum ada kabar. Artinya, bisa jadi penanganan Jompo secara permanen terancam tidak dapat dilakukan tahun ini.

Dikonfirmasi terkait apakah Jompo akan ditangani permanen pada 2020 atau di tahun setelahnya, Subki belum merespons saat dihubungi wartawan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (1/4).

Di sisi lain, berkaitan dengan masih berfungsinya separuh jalan Jompo, warga berharap agar tidak ada pengendara yang parkir sembarangan. Sebab, berpotensi menyebabkan kepadatan arus kendaraan yang menuju arah kota. “Termasuk jangan parkir sampai dua deret. Karena kondisi jalan yang berfungsi hanya separuh,” kata Hasanuddin, warga Kaliwates.

Reporter : Nur Hariri, Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih