Harga Obral, Diawetkan Pakai Es

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Meski selama beberapa hari terakhir nelayan di Puger jarang melaut, ketersediaan tongkol di TPI Puger cukup melimpah. Bahkan, para pedagang mengobral harga tongkol tersebut hingga separuh dari harga biasanya. Lantas, dari mana ikan-ikan itu?

IKLAN

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Riyan Hidayatullah, salah seorang nelayan di Puger, mengungkapkan, sejak beberapa hari kemarin para nelayan di kampungnya jarang melaut. Namun, tingginya permintaan ikan saat malam pergantian tahun membuat pedagang di TPI mendatangkan ikan dari luar daerah.

“Paling banyak ikan tongkol yang dies (diawetkan dengan es, Red) itu didatangkan dari Probolinggo dan Pasuruan,” ungkapnya. Hanya saja, tongkol yang didatangkan itu termasuk jenis tongkol hitam yang oleh masyarakat di kawasan Puger dihindari. Biasanya, warga setempat mengonsumsi jenis tongkol putih yang populer disebut abon lorek.

Membanjirnya tongkol dari luar daerah itu membuat pedagang banting harga. Jika biasanya per kilogram berkisar antara Rp 20-26 ribu, saat menyambut tahun baru kemarin harga ikan dibanderol cukup murah. Hanya dengan Rp 70 ribu, pembeli bisa mendapat ikan tongkol sebanyak satu kresek merah besar atau hampir lima kilogram.

“Di rumah, kami tadi malam membeli Rp 130 ribu dapat dua kresek besar. Kami membeli langsung dari TPI Puger,” ungkap Ela Indriana Septiani, warga Perkebunan Sentul, Desa Suci, Kecamatan Panti. Ia mengaku, hampir semua orang yang membeli ikan di TPI tak menaruh curiga. Sebab, mereka merasa senang bisa membeli ikan segar dengan harga yang murah.

Namun, setelah mengonsumsi tongkol pada pesta bakar ikan, dirinya merasa mual, lemas, hingga tak sadarkan diri. “Beruntung, saya langsung diberi minum air kelapa. Jadi, bisa sadar dan tidak sampai dibawa ke puskesmas,” akunya.

Padahal malam itu, kata Ela, dia tak sendiri. Cukup banyak orang di daerah rumahnya yang juga menyantap tongkol bakar. Beberapa di antara mereka juga mengalami keracunan. Bahkan, ada yang sampai dibawa ke puskesmas, meski tak sampai menjalani rawat inap. “Tapi kami mengalami trauma dan syok,” paparnya.

Tak hanya keracunan, Ela dan beberapa tetangganya mengalami alergi. Kulitnya mengalami kemerah-merahan. Karena takut berdampak lebih luas, seketika orang-orang yang belum mengalami keracunan membuang tongkol yang telah dibakar itu.

Sementara itu, dr Heru Iskandar, dokter yang bertugas di Klinik Madinah Wuluhan, menuturkan, sejumlah warga di Kecamatan Wuluhan ada yang sempat masuk di kliniknya. Mereka, kata dia, mengalami keracunan, tapi ringan. “Jadi, mereka tertangani cukup dengan rawat jalan,” katanya.

Di kliniknya, lanjut Heru, total ada lima orang yang sempat mendapat perawatan. Tak menutup kemungkinan juga terdapat warga lain yang keracunan tongkol tersebut dan dirawat di puskesmas setempat.

Meski belum mengetahui penyebabnya secara langsung, dr Heru menambahkan bahwa tongkol hitam atau yang oleh masyarakat lokal disebut tongkol tikus memang bisa membuat gatal. Alergi yang membikin kulit berbintik kemerah-merahan, mual, lesu, sesak, dan berbagai indikasi lainnya. Terlebih ketika tongkol itu diawetkan menggunakan es.

“Sebenarnya kasus keracunan tongkol itu setiap tahun ada. Meski tak sebanyak kali ini. Apalagi hari ini cukup viral karena banyak warga mem-posting-nya ke media sosial,” tandas Heru.

Reporter : Maulana

Fotografer : Grafis Reza

Editor : Mahrus Sholih