ITR 2018, Tantangan Bagi Pelari

Sholikhul Huda/Radar Ijen RUNNER: Inilah para pelari yang melakoni even Ijen Trail Running Road to The Bluefire. Even ini diikuti 304 peserta dari 22 negara.

BONDOWOSO – Sebanyak 304 pelari yang berasal dari 22 negara turut serta dalam even Ijen Trail Running (ITR) 2018. Even ini diselenggarakan Jumat-Minggu kemarin (30/9). Antusiasme pelari sangat tinggi untuk mengikuti even tersebut. Mereka banyak memuji jalur yang menantang dan asyik di sekitar kawasan pegunungan Ijen.

IKLAN

Para pelari dilepas sesuai dengan kelas tempuhnya. Mereka semua dilepas di Lapangan Hasanuddin, Desa Kalisat, Ijen. Ada kelas 100 km, 70 km, 42 km dan 21 km. Setiap kelas, memiliki jalur berbeda-beda. Khusus 100 km dan 70 km, tracking-nya sampai ke Kawah Ijen. Jalurnya melewati Kawah Wurung, Perkebunan Kopi, Jabal Kirmit, sampai ke Kawah Ijen. Semua kelas finis kembali di tempat pemberangkatan, Lapangan Hasanuddin.

 Ganda Krisiandi, runner dari Surabaya yang menempuh kelas 100 km mengatakan, lari di kawasan Kecamatan Ijen sangat menantang. Selain medannya yang asyik, pemandangannya juga menarik. Dirinya tidak sekali ini ikut, namun sudah beberapa kali. “Tahun ini banyak rute beda, salah satunya sebelum Kawah Wurung, rutenya tidak sama dengan tahun lalu,” ujarnya.

 Medan yang menantang, banyak menguras kesabaran. Apalagi musimnya kemarau. Ada beberapa jalur yang terdiri dari padang savana, namun habis terbakar. Namun sulitnya jalur, bisa ditempuhnya bersama 42 teman lainnya. Ganda membutuhkan waktu 22 jam untuk menaklukkan medan sepanjang 100 km.

 Di kelas 42, ada Dewi Suhendri dari Jimbaran Bali. Dia baru pertama kali ikut ITR. Kesan pertama menurutnya, begitu menggoda. Sebab tahun depan rencananya dia akan ikut kelas 70 km. Sebab rute di Kecamatan Ijen sangat menantang dan menarik. “Pemandangannya bagus, keren. Tak terasa lari satu jam, dan sudah jauh,” ujarnya di tengah-tengah istirahat.

 Perlu diketahui, ITR 2018 ini dibuka Bupati KH Salwa Arifin. Dia membuka bersama Forkopimda. Pembukaan itu diiringi dengan tarian khas Bondowoso yang dibawakan oleh para penari lokal. Selain itu ada penyulutan obor oleh Kepala Disparpora Harry Patriantono.

 KH Salwa mengungkapkan, even yang melibatkan banyak negara ini adalah even yang bagus. Pihaknya memberi motivasi kepada para pelari untuk terus semangat. Lari dengan jarak yang dikategorikan di ITR ini, bukan hal gampang. Butuh latihan. “Kami mengucapkan selamat menikmati Bondowoso, bagi para pelari yang selama ini sudah melakukan latihan,” jelasnya.

 Sementara Kepala Disparpora Harry Patriantono mengatakan, ITR merupakan even lari yang sudah masuk dalam kalender Asia Trail Master. Karenanya peminatnya selalu banyak. Mereka adalah pelari dari berbagai negara yang selama ini gemar mengikuti even lari. “Pemerintah Bondowoso membangun pariwisata berbasis Bondowoso Sportventure. Dalam even ini banyak pelari dari luar negeri ikut serta,” terangnya.

 Sudah barang tentu, pelari dan keluarganya yang mengantar, akan tinggal dan menikmati Bondowoso. Length of stay atau lama tinggal di Bondowoso itu, menjadi multiplier effect bagi masyarakat Bondowoso. Mulai penginapan sampai kebutuhan makanan. “Mereka tinggal selama empat hari di sini (Bondowoso, Red), kemudian membelanjakan uangnya di sini selama empat hari,” ujarnya.

 Pihaknya bersyukur ITR sudah merupakan even resmi dari Asia Trail Master. ITR 2018 ini adalah kali keempat diselenggarakan di Bondowoso. Tepatnya even ini dimulai pada 2015. Awalnya hanya 15 negara, dan sekarang mencapai 22 negara. “Artinya kegiatan ini sudah sangat diterima di kancah nasional,” paparnya. Harry berharap, ITR akan selalu ada setiap tahunnya di Bondowoso. (hud/c1/sh)

Reporter :

Fotografer :

Editor :