Sering Disalahartikan sebagai Penggemuk Badan

SERING DISALAHARTIKAN: Masih banyak masyarakat yang menyalahgunakan penggunaan Dexamethasone. Salah satunya untuk penggemuk badan.

JEMBER, RADARJEMBER.IDFace moon, atau wajah semakin bulat seperti bulan, menjadi salah satu efek samping yang kerap ditemukan pada pengonsumsi Dexamethasone. Namun dengan efek tersebut, tak sedikit yang menyalahgunakannya sebagai obat penggemuk badan.

IKLAN

Saat ini keberadaan Dexamethasone tengah hangat diperbincangkan. Obat dengan ukuran kecil dan murah meriah ini, hanya Rp 2.500 sampai Rp 4.000 per lembar, dipakai untuk mengobati pasien korona dengan gejala sangat berat dan mengurangi tingkat kefatalan atau kematian.

Sejatinya, obat ini memang mudah ditemukan di apotek. Namun, banyak masyarakat yang salah kaprah menggunakannya. Obat ini dibeli tidak hanya oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak muda. “Hampir setiap hari ada yang tanya dan beli. Mungkin kalau anak muda, bisa disuruh oleh orang tuanya,” jelas Widya, salah seorang pegawai apotek di Jalan Mastrip.

Para pembeli, lanjut dia, biasanya menggunakan Dexamethasone untuk mengatasi asam urat dan sebagai pereda nyeri. Ajaibnya, bahkan ada juga yang mengonsumsinya sebagai obat pengemuk badan. “Memang minum obat ini orang terlihat gemuk, karena wajahnya bulat. Tapi itu efek samping dari obat, bukan kegunaan utama,” paparnya.

Widya mengetahui Dexamethasone dipakai untuk gemuk badan, karena ada pembelinya langsung yang mengatakan mau membeli obat tersebut untuk menggemukkan badan. “Padahal gemuknya hanya di pipi saja,” imbuhnya.

Prof Bambang Kuswandi, guru besar Fakultas Farmasi Universitas Jember, menjelaskan, Dexamethasone bisa dikatakan sebagai obat antiinflamasi atau peradangan. Sehingga, kerap kali dipakai untuk beberapa kasus persendian hingga reumatik.

Namun, dia menegaskan, obat ini harus dikonsumsi sesuai dengan petunjuk dokter. Sebab, memiliki beragam efek samping, mulai dari face moon hingga potensi gagal ginjal. “Makanya, sekarang banyak orang cuci darah, mungkin karena itu juga,” jelasnya.

Sementara itu, dr Maksum Pandelima, dokter spesialis ortopedi RS Baladhika Husada Jember, menjelaskan, jika sudah telanjur dikonsumsi dalam jangka panjang, ada aturannya untuk menghentikan konsumsi Dexamethasone. “Biasanya kalau sudah sakitnya sembuh, obat tidak dikonsumsi. Tapi kalau Dexamethasone, tidak boleh dihentikan langsung, tapi secara bertahap,” tuturnya.

Dexamethasone termasuk obat tapering off atau lebih sering disebut dose tapering off. Artinya, dosis obat diturunkan hingga kadar tertentu jika hendak dihentikan penggunaannya. Tujuan tapering off adalah agar tubuh tidak mengalami gangguan akibat penghentian obat yang bersifat tiba-tiba. Tidak semua obat dilakukan dose tapering off, hanya untuk obat-obat yang memiliki efek berlebihan pada tubuh.

Dirinya juga menjelaskan, Dexamethasone tergolong obat steroid, dan bila dihentikan tanpa ada penurunan dosis, maka yang terjadi tubuh tidak bisa merespons cepat untuk memproduksi steroid. “Dexamethasone itu punya dampak besar bagi tubuh. Efek sampingnya Dexamethasone adalah asam lambung hingga gagal ginjal,” tegasnya.

Sebagai dokter tulang, dr Maksum tidak menyarankan untuk memberikan Dexamethasone. Sebab, juga berdampak buruk untuk mempercepat osteoporosis atau pengeroposan tulang. “Jangka panjangnya terjadi pengeroposan tulang. Dampak jangka pendek bisa asam lambung,” jelasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti