Aturan New Normal Harus Jelas

Khususnya Sektor Pariwisata Alam dan Buatan

TUNGGU DIBUKA: Salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Jember, Pantai Papuma, masih dipadati pengunjung sebelum pandemi Covid-19. Dalam waktu dekat, wacana untuk membuka sektor pariwisata dengan protokol kesehatan masih dirancang lebih lanjut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dunia pariwisata saat ini sudah harus mulai bersiap menyambut era new normal. Seperti yang didengungkan pemerintah baru-baru ini. Meskipun hal tersebut belum tentu diterapkan dalam waktu dekat, namun sektor pariwisata sudah mulai bersiap menyambut new normal.

IKLAN

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur sudah membuat surat imbauan menghadapi new normal pariwisata pasca pandemi Covid-19 tertanggal 13 Mei lalu. Di dalam imbauan tersebut dijelaskan langkah menyikapi dinamika perubahan global akibat pandemi dalam sektor pariwisata.

Beberapa poin dijelaskan dalam surat tersebut. Mulai dari persiapan protokol kesehatan di daya tarik wisata, transportasi, rumah makan, hotel, serta meliputi pembatasan physical distancing, hingga standar kebersihan, keamanan, dan kenyamanan. Selain itu, masing-masing industri, terutama daya tarik wisata, diharapkan memiliki fasilitas pemesanan daring sebagai upaya pembatasan pengunjung. Juga tetap menjalin networking dengan mitra kerja, serta memberikan informasi kesiapan produk, paket wisata, dan protokol kesehatan yang ada.

Tujuan menyambut era kenormalan baru dalam pariwisata itu agar menjadi panduan bagi para pelaku usaha pariwisata. Serta bagi wisatawan domestik (wisdom) yang akan berlibur pascapandemi Covid-19 nantinya.

Koordinator Destinasi Wisata Jember (DWJ) Febrian Ananta Kahar mengungkapkan, yang pertama harus dilakukan terlebih dahulu yakni memahami bersama seperti apakah aturan new normal dalam dunia pariwisata. “Harus dipahami bersama, new normal untuk pariwisata itu seperti apa. Dan bisa ditaati untuk sektor pariwisata ini. Samakan persepsi dulu semuanya. Kalau perlu nanti bisa buat surat edaran,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Setelah menyamakan persepsi untuk aturan new normal, lanjut dia, barulah membuat aturan protokol kesehatan nantinya seperti apa. “Diperjelas lagi protokol kesehatannya di tempat wisata ini bagaimana. Karena kategori tempat wisata ini kan banyak,” jelasnya.

Febrian mendapat beberapa sumber referensi mengenai protokol kesehatan berbagai ragam. Apalagi untuk taman wisata yang bermacam-macam. Mulai dari taman wisata yang lahannya luas, taman wisata alam, taman wisata buatan, hingga taman wisata terbuka. “Memang protokol kesehatan pada umumnya menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan wajib memakai masker,” imbuhnya.

Nantinya protokol kesehatan tersebut harus dibuat detail lengkap dengan syaratnya. “Dibikin checklist, barulah nanti itu semua diaudit oleh pihak terkait, seperti Dinas Pariwisata,” imbuhnya.

Selain itu, pihak pengelola wisata juga harus menyiapkan tempat kesehatan yang harus bekerja sama dengan puskesmas setempat atau Dinas Kesehatan. Juga berkaitan dengan tenaga kerja. “Apalagi informasinya tidak boleh kerja full time,” lanjut Febrian.

Poin-poin itulah yang harus diperhatikan, kalau memang ingin menyambut new normal untuk sektor pariwisata. “Tolong lebih disosialisasikan, disepakati bersama. Yang tidak memenuhi persyaratan ya jangan dikasih izin,” terangnya.

Sebelumnya, pemerintah pusat menyatakan bahwa sektor pariwisata dalam negeri akan segera kembali dibuka menyusul adanya wacana pemerintah akan memberlakukan new normal. Apalagi dibukanya kembali pariwisata itu terlebih dahulu difokuskan untuk wisata lokal saja, agar nantinya dapat membantu sektor pariwisata yang ada. Namun, sebelum dibuka lagi, pemerintah pusat meminta untuk mengecek dahulu daerah mana saja yang berpotensi untuk digiatkan lagi sektor pariwisatanya. Tentu memperhatikan data virus korona yang ada.

“Saat ini, dampak Covid-19 yang sudah berjalan tiga bulan, semua jadi serba sensitif. Jadi, harus berhati-hati membuat keputusan. Maka dari itu, perlu sosialisasi dan perlu kesepakatan bersama,” pungkas Febrian.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi