Jalur Black Spot hingga Menelan Belasan Jiwa

Waspada Jalan Raya Bangsalsari

TINGKATKAN KEWASPADAAN: Kondisi Jalan Raya Bangsalsari yang lurus membuat siapa saja ingin menaikkan kecepatan. Perlu diketahui, jalan tersebut adalah jalur black spot dengan angka korban meninggal dunia tertinggi di Jember. Jadi, pemudik yang pakai kendaraan pribadi, harus hati-hati kalau lewat di Jalan Raya Bangsalsari.

RADAR JEMBER.ID – Jalan yang lurus, lebar, dan agak sepi, membuat siapa saja ingin memacu laju kendaraannya lebih cepat lagi. Tapi kondisi jalan tersebut bagi para pemudik harus lebih diwaspadai. Sebab, bisa jadi memicu kecelakaan. Seperti di Jalan Raya Bangsalsari yang kondisinya datar dan lurus. Jalan tersebut ternyata jadi lokasi black spot berbahaya di Jember yang telah menelan belasan korban jiwa.

IKLAN

Data dari Satlantas Polres Jember menujukkan, Jalan Raya Bangsalsari menjadi jalur black spot paling berbahaya di Jember. Tahun 2018 saja, 18 kecelakaan maut telah menelan 18 korban meninggal dunia. Sementara itu, tahun 2019, Jalan Raya Bangsalsari tetap jadi jalan berbahaya dengan satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas. “Per Mei 2019 angka kecelakaan di Jalan Raya Bangsalsari telah menelan satu korban jiwa,” ucap Kasat Lantas Polres Jember AKP Edwin Nathanael.

Jalur black spot di jalan menuju Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Raya Bangsalsari tersebut, mulai dari Desa Petung sampai Gambirono. Kecelakaan di jalur black spot melibatkan semua jenis kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. “Daerah jalur rawan laka jadi atensi pada mudik Lebaran, terutama di wilayah Bangsalsari,” imbuhnya.

Melihat dari kondisi jalan di jalur black spot Bangsalsari, tambah Edwin, karena jalan tersebut didominasi trek panjang dan lurus. Selain itu, kondisi jalan juga lebar dan tidak terlalu padat dengan aktivitas penduduk. Sehingga, kata dia, para pengemudi kendaraan ingin memacu kendaraannya lebih cepat. Walau didominasi trek lurus, ada beberapa titik jalan itu menanjak dan menikung. “Kondisi jalannya lurus dan aspalnya juga baik. Jadi pengendara cenderung ngebut,” imbuhnya.

Trek lurus dan panjang, tambah dia, memang membuat para pengguna jalan enak. Mereka bisa leluasa mengemudi. Namun, kondisi itu sebetulnya lebih berbahaya. “Melihat jalan seperti itu semua kendaraan juga ingin ngebut. Jalan yang lurus saja, juga konsentrasi ini menurun karena bosan,” katanya. Edwin pun mengimbau, jika pemudik menemukan jalan lurus panjang dan tidak terlalu padat, maka harus diwaspadai.

Tingginya angka kecelakaan di Jalan Raya Bangsalsari juga kenaikan volume kendaraan yang melintas setiap tahunnya. Terutama untuk kendaraan roda dua. “Biasanya yang terlibat kecelakaan di jalur tersebut adalah sesama kendaraan roda dua atau kendaraan roda dua dengan roda empat,” imbuhnya. Jalan Raya Bangsalsari termasuk jalan yang selalu dilintasi kendaraan, karena jalur utama menuju Surabaya.

Para pemudik yang melintas di daerah Jember juga tidak hanya mewaspadai di Jalan Raya Bangsalsari. Tapi juga perlu diwaspadai di daerah Kecamatan Silo, tepatnya di Gunung Gumitir. “Jalan ini bukan rawan kecelakaan, tapi rawan longsor. Jika terjadi longsor, maka kemacetan bisa berjam-jam,” imbuhnya.

Para pengguna jalan saat melintasi Gumitir biasanya berkendara lebih pelan karena jalurnya yang menanjak dan berkelok-kelok. “Yang rawan itu longsor dan macet, karena kendaraan besar yang rodanya terperosok ke parit,” terangnya.

Selain Bangsalsari dan Gumitir, para pemudik juga perlu mewaspadai terjadi kemacetan. Titik yang sering macet adalah di traffic light atau simpang empat di Mangli, Kecamatan Kaliwates. “Selain volume kendaraan tinggi dari berbagai sisi jalan, juga ada pasar tradisional di sana,” tambahnya. Jalan di Rambupuji yaitu di daerah rawan macet. Kondisi jalan yang menyempit dan ada aktivitas pertokoan. (*)

Reporter : Dwi Siswanto, Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Hadi Sumarsono