SERBAHITAM: Salah satu gaya berpakaian Kriyo Sambodho (kiri) saat mengajar. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng suka berpenampilan nyentrik setiap hari. Gaya metal itu justru memudahkan dalam mengajar mahasiswa milenial di kampus.

IKLAN

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

BUKAN Kriyo Sambodho namanya jika tidak berpakaian metal. Dosen Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengenakan pakaian serbahitam saat hadir pada uji coba teknologi virtual reality (VR) Science Technopark (STP) Administration Building ITS Jumat (25/10).

Berkaus lengan pendek dengan rompi bertulisan Metallica yang begitu mencolok mata. Ditambah celana belel yang nyentrik. Saat itu, Dhodot –sapaan karib Kriyo Sambodho– juga memakai belangkon sebagai penutup kepala. Gaya berpakaian yang jarang digunakan para dosen. ’’Wes biasa gaya pakaian kayak gini. Kalau Jumat, bebas,” kata Dhodot, lantas tertawa.

Ya, bergaya nyentrik ala Dhodot memang bukan hal baru. Sejak muda, dia menyukai musik-musik metal. Gaya pakaian dan bicara pun sangat santai. Hal itu terbawa hingga dia menjadi dosen ’’Ini bukan gaya-gayaan saja ya. Memang saya tampil apa adanya sesuai dengan pribadi saya yang santai,” ujarnya.

Namun, sejak menjabat direktur inovasi, kerja sama, dan kealumnian ITS, Dhodot mulai menyesuaikan gaya pakaiannya. Setidaknya dia mulai mengenakan baju batik saat rapat atau pertemuan resmi dengan para pejabat kampus maupun tamu dari luar. ’’Ya kalau pas rapat harus resmi. Jarang saya pakai baju formal,” kata pria kelahiran 27 Januari 1974 itu.

Gaya nyentrik dan santai tidak hanya dalam berpenampilan. Dhodot juga menerapkannya dalam mengajar mahasiswa di kampus. Gayanya tersebut justru disukai kaum milenial. ’’Saya merasa kalau tidak dekat dan friendly dengan mahasiswa, susah bisa menyampaikan materi,” ujar ayah dua anak itu.

Dhodot mengatakan, ketika mengajar mekanika teknik, banyak mahasiswa yang sulit menangkap materi yang disampaikan. Padahal, materi tersebut cenderung sederhana. ’’Kalau generasi lama sudah pernah main tanah, generasi sekarang kan tidak pernah. Jadi, mengajarkan bahwa tanah akan longsor ketika kebanyakan air susahnya bukan main,” kisahnya.

Suami Widya Tri Mayasari menuturkan, mengajar di era serbadigital memang tidak mudah. Apalagi jika gaya dosen terlalu formal dan kesannya galak, jadi susah dekat dengan mahasiswa. Tegang. Gaya santai malah disukai. Cara mengajarnya juga santai. ’’Bayangkan dosen mengajar dua jam, mahasiswa diam. Tidak ada yang tanya. Saya malah tersiksa,” katanya. ’’Sebenarnya, mahasiswa ngerti tidak?” sambung Dhodot, lantas tertawa lepas.

Karena itu, Dhodot lebih memilih melakukan pendekatan dengan cara mahasiswa. Salah satunya, menampilkan materi-materi perkuliahan melalui video atau membuat slide materi yang menarik. ”Saya selalu membawa dari logika sederhana, terus diterapkan di matematika misalnya. Jadi tidak, teorinya dulu baru aplikasinya,” ucapnya.

Dhodot mengaku tidak pernah membuat-buat gayanya. Dia berusaha tampil apa adanya. Mulai berpakaian hingga gaya komunikasi yang santai. ”Yang saya sesuaikan hanya metode mengajarnya ikut milenial,” katanya.

Gaya santai tersebut membuat para mahasiswa menyebut Dhodot sebagai dosen nyentrik. Apalagi, hubungannya sebagai dosen dengan mahasiswa tidak hanya terjalin saat di kelas. Namun, juga di luar kelas. ”Waktu di kelas tidak cukup. Di luar kelas, mahasiswa juga bebas sharing tentang materi perkuliahan. Seperti kelas nonformal,” ujar dia.

Meski gaya Dhodot sangat metal, dedikasinya terhadap kampus tinggi. Dhodot mengatakan betah berada di kampus. Setiap hari dia berangkat ke kampus pukul 07.00 dan bisa pulang di atas pukul 18.00. ”Di luar kampus saya lebih bebas berpakaian. Sering ke mal bercelana pendek, kaus metal. Kadang ada mahasiswa ketemu saya, datang dan cium tangan. Kadang saya malu sendiri,” katanya dengan gaya bercanda

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia