Tak Mau Kalah, Bapak-Bapak Juga Ikut Belajar Nggendong

Wawan Dwi/ Radar Jember DEMI BUAH HATI: Keceriaan tampak dalam acara Kopdar Jember Menggendong (JM) pada akhir pekan lalu. Ibu-ibu ceria menggendong bayinya. 

RADARJEMBER.ID-Beralaskan tikar di atas padang rumput di ruang terbuka, sekumpulan ibu-ibu muda nampak asyik saling berbagi cerita. Mereka menggunakan ciri khas yang sama: menggunakan dresscode berwarna merah marun-hitam.

IKLAN

Ciri khas lain yang tak kalah pentingnya: menggendong bayi dengan rupa-rupa peralatannya. Suasana ceria itulah yang tergambar dalam acara kopi darat (kopdar) yang diadakan oleh komunitas Jember Menggendong, Sabtu (28/7), di sebuah kawasan perumahan.

“Akhirnya kita bisa kopdar lagi setelah terakhir kali kami bisa melakukannya pada 4 Maret 2018 lalu. Ini sekalian halalbihalal,” tutur Siti Nailah, salah seorang anggota komunitas Jember Menggendong, si empu acara.

Tidak semua yang ada di acara langka itu adalah kaum hawa. Beberapa papa muda juga tampak nimbrung tanpa canggung. Suasana kopdar pada akhir pekan lalu itu terasa semakin menarik. Apalagi, tempat acara di kawasan perumahan Bernady Land juga cukup asyik.

Pada sore hari jelang berakhirnya kopdar, masing-masing anggota pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama ataupun swafoto di bawah temaram lampu lampion. Tentu saja dengan gendongan bayi yang menjadi ciri khas Jember Menggendong.

“Sambil kita perkenalan, karena sebagian besar di antara kami hanya bertemu sekali dua kali saja,” lanjut Nailah.

Meski jarang berkumpul sekaligus di satu tempat, komunikasi di antara sesama anggota Jember Menggendong sangat intens. Setiap hari mereka biasa bercakap-cakap melalui aplikasi WhatsApp. Selain itu, mereka juga kerap mengunggah kegiatan mereka di akun media sosial Facebook dan Instagram dengan nama akun yang sama. Selain info acara, hampir semua unggahan mereka terkait tutorial cara menggendong bayi yang baik dan benar.

“Alhamdulillah, banyak juga member baru yang datang. Mereka tidak ikut grup WA, tapi tahu dari media sosial. Bahkan, ada juga yang masih hamil ikut datang, karena untuk belajar, persiapan saat bayinya lahir nanti,” jelas Nailah yang juga menjadi admin di grup WA Jember Menggendong.

Edukasi soal tata cara menggendong memang menjadi salah satu fokus dari komunitas ini. “Sebab, jika cara menggendongnya salah, bisa berakibat fatal bagi pertumbuhan tulang sang bayi tercinta,” sambung Nailah.

Selain foto, komunitas ini juga kerap mengunggah video tutorial menggendong di akun media sosialnya. “Untuk ke depannya, kita ada wacana saat kopdar ini tidak hanya membahas tentang gendongan saja, tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan ibu dan balita seperti memasak bersama, pelatihan membuat abon MPASI (makanan pendamping ASI), serta membuat kerajinan dari barang bekas. Tapi tanpa menghilangkan kegiatan latihan menggendong yang memang menjadi fokus kami,” jelas Anis Afrokhiyah, penggiat Jember Menggendong yang lain.

Acara kopdar pada akhir pekan lalu menjadi semakin menarik karena Jember Menggendong mendapat pinjaman sebuah traveling gendongan, dari sebuah produsen alat gendong. Yakni alat gendongan berbentuk woven wrap (kain tenun panjang yang pemakaiannya dililit-lilit).

“Jadi, kami memfasilitasi anggota yang ingin mencoba gendongan tersebut. Perusahaan yang meminjami kami alat ini memang menggandeng komunitas lokal,” tutur Afrokhiyah.

Tak sekadar belajar bersama. Dalam acara tersebut mereka juga menggalang donasi dari anggota. Dana yang terkumpul dari donasi tersebut akan digunakan untuk menambah inventaris dari komunitas Jember Menggendong.

“Kami rencana mau menambah inventaris seperti gendongan, boneka peraga (khusus untuk menggendong), dan alas tikar sebagai sarana untuk sosialisasi menggendong,” ujar Afrokhiyah. Saat ini, Jember Menggendong juga memiliki perpustakaan gendongan yang bisa meminjamkan peralatan bagi mereka yang ingin belajar menggendong.

Sejatinya, komunitas Jember Menggendong merupakan transformasi dari komunitas sejenis yang menginduk kepada Indonesian Babywearers. Namun, sejak Desember 2017, komunitas ini beralih nama karena berganti induk ke komunitas Nusantara Menggendong. “Kami beralih ke Nusantara Menggendong karena mereka memiliki visi misi yang sesuai dengan visi misi kami,” pungkas Afrokhiyah.

Reporter : Adi Faizin
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :