Menengok Pemulung TPA Selama Bulan Puasa, Tetap Puasa Meski Bau Sampah Dibawa Sampai Rumah

Bersyukurlah jika kerjaan anda tidak menguras tenaga banyak saat menjalankan ibadah puasa. Coba tengok mereka yang berpuasa di saat pekerjaannya butuh tenaga ekstra dengan setiap hari mencium bau tak sedap. Inilah berpuasa ala pemulung di Tempat Pembuangan Air (TPA) Pakusari

IKLAN

Wawan Dwi Siswanto

Suara motor bebek yang digeber terdengar masuk area tumpukan sampah di TPA Pakusari yang menanjak. Suaranya pun lebih berisik dari pada motor sejenisnya. Maklum saja motor itu kotor, tanpa spion, dan yang jelas bau. Motor itu dikendarai oleh Azizah bersama putranya.

Mengenakan daster kuning kecoklatan juga menyapa setiap kendaraan roda dua melintas di tumpukan sampah. Dia kemudian memarkir motornya dan langsung mengandeng buah hatinya untuk naik ke tenda-tenda pemulung.

Tenda itu jauh dari kemewahan dan kesederhanaan. Atapnya saja dari terpal. Ada yang warnanya biru, jingga, coklat, tapi semua rusak dan berlubang. Untuk lantainya saja beralaskan tanah, tapi ada pula dari plastik bekas sak beras. Sekeliling tenda pemulung itu masih banyak tumpukan sampah yang bisa didaur ulang. Ada botol plastk, kardus, dan plastik.

Azizah adalah pemulung sampah di TPA Pakusari. Dia menunggu suaminya yang mencari sampah sembari merapikan dan mengemasi sampah plastik hasil memulungnya tadi pagi. Usai ashar dia harus pulang ke rumah untuk mempersiapkan menu buka bersama. Ya meski pekerjaanya sebagai pemulung dia tetap jalankan kewajibannya berpuasa.

Azizah mengaku, suasana TPA Pakusari di bulan suci ramadan tidak se ramai hari-hari biasanya. “Kalau puasa memang agak sepi, karena pemulung ada yang puasa. Siang hari sudah banyak yang pulang,” katanya. Pemulung di TPA Pakusari, kata Azizah, tidak semua berpuasa. Dari sekitar total 200 pemulung, tambah Azizah, mungkin 30 persennya berpuasa.

Bagi orang umum yang tak puasa saat datang ke tumpukan TPA Pakusari, mau makan saja tak akan doyan karena selalu cium bau busuk. Lantas bagaimana jika berpuasa seperti Azizah dan keluarganya? ”Sama saja. Bahkan bau yang ditimbulkan dari sisa makanan itu sudah terbiasa di hidung,” katanya.

Perempuan 35 tahun ini mengaku awal kerja jadi pemulung ini juga alami hal tidak enak. Mual hingga tidak doyan makan. “Awalnya ya muntah-muntah selama satu mingguan. Selanjutnya ya nggak enak perut kalau lihat sesuatu yang tidak enak,” katanya.

Pekerjaan Azizah pun juga jauh dari kata menjaga kesehatan. Dia bersama pemulung lainnya, tanpa memakai sarung tangan dan masker. Terpenting, kata dia, mau makan itu cuci tangan. Setiap puasa tiba, Azizah setiap sore pulang dan memasak untuk menyiapkan hidangan berbuka. “Sampai rumah itu langsung mandi dan masak,”paparnya.

Dia menjelaskan, dari semua pemulung di sini saat puasa tidak ada makan sahur dan berbuka di TPA Pakusari. “Semua pulang, karena rumahnya dekat-dekat sini,” imbuhnya.

Tak jarang pemulung TPA Pakusari ini sering mendapatkan makan berbuka gratis. “Kalau puasa seperti ini sering juga orang itu beri makanan berbuka,” ungkapnya.

Sesuatu yang tidak bisa dilupakan dan harus beradaptasi adalah saat ikut salat taraweh berjamaah. Bau sampah busuk itu masih menempel di badan. “Kalau saat musim hujan, sampah itu lebih bau. Jadi mau taraweh ini lebih baik pilih paling belakang biar yang lain tidak terganggu,” ujarnya.

Sementara Misyono, 40 tahun, yang juga pemulung di TPA Pakusari mengaku, biasnaya dibantu istri jika sang istri tidak ada pekerjaan di Gudang Tembakau. ”Kami juga tetap berpuasa. Karena puasa ini wajib,” pungkasnya.  (dwi/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :