Berawal dari Tagih Utang, Diganti Barang Mebel

Salwa Baisah Sulap Mebel Bekas Jadi Barang Bernilai

Di Jalan Mawar, Kelurahan Jember Lor, terdapat pengusaha mebel bekas yang kerap didatangi pembeli. Dia menyulap lemari, kursi, hingga perabotan yang berbau vintage menjadi lebih menarik. Tak heran, kegiatannya itu mampu meningkatkan penghasilan. 

MANFAATKAN LIMBAH KAYU: Salwa Baisah tengah memberikan petunjuk ke pegawainya untuk memaksimalkan pintu lemari rusak dan diganti dengan kaca bekas yang tidak terpakai.

RADAR JEMBER.ID – Mengenakan kerudung, perempuan yang selalu ada di mebel bekas itu tampak sibuk menerima telepon. Lewat telepon genggam Candybar berwarna putih, dia mengatur jadwal pengiriman barang. “Kirim ke mana? Nanti agak siang, ya,” ucap perempuan bernama Salwa Baisah tersebut.

IKLAN

Salwa adalah salah satu pemilik bisnis mebel bekas di Jalan Mawar, Kelurahan Jember Lor. Di sepanjang jalan seberang tempat perbaikan kereta api itu, ada sekitar enam sampai tujuh pengusaha mebel bekas. “Masuk gang, juga ada mebel bekas,” tuturnya.

Dia membuka usaha mebel bekas di rumahnya sendiri. Bahkan, dilihat dari depan, rumahnya tidak seperti rumah pada umumnya. Namun, Lebih cocok jadi bangunan yang dipenuhi rongsokan kayu.

Balok kayu, pintu kayu, dan lemari kayu itu memang seperti rongsokan. Banyak debu, ditumpuk begitu saja. Rasanya tidak mirip dengan toko mebel. Namun, ketika masuk ke dalam, siapa sangka kursi kayu yang tren di era 1980-an juga ada. Bahkan, ada juga ranjang kuno, termasuk jendela, dan pintu krepyak. “Kalau pintu dan jendela krepyak sudah laku,” imbuhnya.

Bufet kecil untuk televisi juga baru saja laku.  Ruangannya sempit karena banyak kayu bekas. Ada yang berbentuk lembaran, ada juga hanya tinggal daun pintu saja, ataupun tinggal kaki meja saja.

Menyimpan kayu bekas itu seperti menabung. Sebab, bisa disulap menjadi aneka mebel yang bermanfaat. Daun jendela dari kaca yang tidak bisa dipertahankan lagi keasliannya itu digergaji berbentuk kotak. Bentuk persegi tersebut ternyata dijadikan pintu bufet televisi. “Ini dari jendela bekas yang tidak bisa dipakai sebagai jendela lagi,” katanya.

Kaca jendela bekas dengan ketebalan kurang lebih 5 milimeter yang jadi rongsokan juga direncanakan jadi meja. “Kaki mejanya ini bisa dari kayu bekas sandaran kursi atau kayu bekas kursi macan,” imbuhnya.

Semua barang di sana dimaksimalkan agar tidak jadi limbah. Kayu-kayu yang tidak bisa dipakai lagi, dikirim ke pabrik tahu untuk pembakaran, jadi tetap limbah kayu bisa bermanfaat.

Salwa Baisah memulai bisnis mebel bekas setidaknya 25 tahun yang lalu. “Saya mulai usaha ini itu saat anak saya masih kecil, sekarang anak saya sudah besar. sekitar 25 tahun,” ungkapnya.

Perempuan 50 tahun itu memulai usaha mebel karena ditipu orang. Orang yang menipunya memiliki utang Rp 1,5 juta. “Saya tunggu di rumahnya, hanya ada istrinya yang menggendong anak. Tapi saya lihat rumahnya banyak mebel bagus-bagus,” ujarnya. Saat menagih utang, bukan uang yang didapat Salwa, melainkan semakin runyamnya masalah.

Akhirnya, Salwa memberikan solusi uangnya tidak usah dikembalikan, tapi dia meminta mebel, plus diberi tambahan uang. “Gak tahu berapa uang yang saya kasihkan. Semua uang yang di saku saya kasihkan semua. Padahal, saya juga gak punya pengetahuan kayu atau mebel,” ungkapnya.

Banyaknya barang di rumahnya membuat Salwa bingung mau dibuat apa. Iseng-iseng, dia  menawarkan ke ibu-ibu. Dari sana, ibu rumah tangga banyak yang membeli. “Belinya tapi nyicil. Semuanya laku, ternyata baru tahu kalau harga mebel yang saya jual murah, jauh sekali dengan harga barunya,” tambahnya.

Kakeknya sendiri adalah pedagang yang punya banyak kenalan. Salwa mencari relasi makelar barang-barang tua. Pemasoknya pun tidak hanya dari Jember, tapi juga Bondowoso hingga Probolinggo. “Saya hanya pesan, kalau ada yang mau pindahan dan mebelnya mau dijual, hubungi saya saja,” ujarnya.

Bisnis mebel bekas terus berkembang menginspirasi warga sekitar untuk membuka usaha yang sama. Banyak makelar-makelar yang membuka usaha mebel bekas. Bahkan, lebih besar dari milik Salwa. Sekarang, tak jarang tetangga sesama bisnis mebel bekas membeli barang bekas padanya untuk dijual kembali. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi