Usmadi, Dosen Universitas Jember yang Konsen Teliti Tembakau

Bagus Supriadi/Radar Jember PENELITI TEMBAKAU: Usmadi di depan kantor UPT Agrotechnopark Universitas Jember. Sejak mahasiswa, dia sudah sangat serius mengamati soal pertembakauan.

RADARJEMBER.ID – “Tembakau Tak boleh hilang, karena sejarahnya panjang,” kata Usmadi ketika ditemui di ruang kerjanya, di UPT Agrotechnopark Universitas Jember. Jember tidak akan berkembang seperti sekarang tanpa adanya tembakau. Tak heran, Jember disebut dengan kota tembakau.

IKLAN

Penyebutan ini bukan hanya karena luasnya lahan tembakau, atau masyarakatnya sebagai petani tembakau. Tetapi juga karena sejarah panjang sejak masa kolonial. Selain itu, perekonomian warganya juga berasal dari sektor ini.

Hanya saja, kata dia, tantangan komoditas tembakau hari ini jauh berbeda dengan dulu. Sekarang cukup kompleks, mulai dari cuaca, kesehatan, lingkungan dan lainnya. “Dulu orang suka rokok yang berat, sekarang yang ringan,” ucap pria yang sudah berhenti merokok ini.

Usai lulus SMA di Tulungagung, pria yang tinggal di Jalan Srikoyo ini melanjutkan studi di Fakultas Pertanian. Ketertarikannya pada tembakau bermula ketika saat melihat uniknya tanaman tembakau. Dia pun kerap mendatanginya untuk bertanya pada petani.

“Banyak sekali cara budidaya dan pengolahan tanaman tembakau,” tambahnya. Mulai dari dirajang, dijemur hingga digantung. Usmadi mendatangi petani itu untuk berdialog, berbagi informasi tentang tembakau.

Saat itu, kata dia, dirinya dibimbing oleh Dr Hartana, salah satu peneliti tembakau dari Universitas Jember. Namun Usmadi lebih banyak meneliti tembakau foor ogst yang digunakan untuk cigarette.

Usai lulus S1, alumnus Pascasarjana UGM tersebut pun diangkat menjadi dosen di Unej. Dia terus melakukan penelitian tembakau, misal masalah cekaman kekeringan, benih tembakau dan lainnya. “Dari waktu ke waktu, air semakin mahal,” ujarnya.

Sementara, ketersediaan air menjadi hal penting dalam proses penanaman tembakau. Ketika tanaman itu kekurangan air di awal tanam, nikotin meningkat, namun produktivitasnya rendah.

Sejak umur 20 hari, tanaman tembakau harus mendapatkan air yang cukup. Ketika tembakau kekurangan air, nikotinnya akan bertambah. Sebab, akar tembakau terganggu menyebabkan nikotin bertambah. “Tren sekarang memakai nikotin yang rendah,” ucapnya.

Dari kegiatan itu, dia mulai berteman dengan berbagai pengusaha tembakau. Seperti Abdul Kahar Muzakir dan Kuncoro. Dalam berbagai pertemuan bertukar informasi tentang perkembangan dan tantangan tembakau.

Selain itu, pria kelahiran 8 Agustus 1962  itu juga kerap membuat buku panduan bagi para petani. Tujuannya sebagai pedoman dalam bercocok tanam agar panen tembakau tidak rugi. Sebab, petani tembakau di Jember militan.

Bagi mereka, menanam tembakau sudah menjadi kewajiban meskipun cuaca tidak mendukung. Mereka butuh cara untuk mengantisipasi cuaca yang tidak menentu. “Petani sudah tau cara menghasilkan tembakau berkualitas,” tambahnya.

Mereka belajar secara otodidak melalui praktik dari tahun ke tahun. Setiap pengalaman itu mereka belajar agar hasil tembakau membaik. Hanya saja, yang paling sulit adalah pemanfaatan cuaca. “Mereka perlu memahami informasi cuaca,” imbuhnya.

Dalam hal ini, petani tidak memahami persoalan cuaca. Bagi mereka, musim kemarau adalah musim yang tidak turun hujan. Padahal, ada masa musim kemarau basah yang seringkali hujan turun dengan kondisi tidak normal.

Dia menambahkan diversifikasi produk tembakau masih tidak banyak. Bila ada, hanya hasil riset dari lembaga, seperti perguruan tinggi. Sedangkan untuk komersial, masih belum bisa dilihat hasilnya. “Upaya paling mudah menjadi tembakau sebagai tempat wisata,” terangnya.

Beberapa komponen pendukung wisata tembakau cukup memadai. Selain gedung bersejarah peninggalan Belanda, juga ada tari Lahbako yang menceritakan proses tembakau. Tari tersebut diciptakan oleh Bagong Kussudiardja, seorang koreografer dan pelukis Indonesia yang sengaja diundang ke Jember.

Tak banyak yang tahu cerita filosofis tari Lahbako. Misal, bunyi ketukan dalam tari tersebut bermakna bunyi dari ketika petani memetik tembakau. “Setiap gerakannya ada makna tersendiri,” tandasnya.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :