SETIA: Himawan berdiri di samping seismograf yang dipasang di belakang stasiun meteorologi BMKG Banyuwangi (Ramada Kusuma/RaBa)

Perubahan kondisi cuaca setiap hari bisa dilihat dalam prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut diolah dari data-data mentah yang dikumpulkan para observer di lapangan. Setiap hari, bahkan dalam setiap jam, mereka mencatat tiap perubahan kondisi cuaca.

IKLAN

SHULHAN HADIJawa Pos Radar Banyuwangi 

Kalangan milenial pasti akrab dengan ungkapan penantian ribuan purnama yang dialami Rangga kepada kekasihnya, Cinta. Kesetiaan itu tampaknya belum ada apa-apanya jika dibandingkan para pengamat cuaca yang tekun mencatat perubahan fenomena meteorologi, seperti suhu udara, kelembapan, curah hujan, panas matahari, hingga penguapan. Semua pekerjaan itu dilakukan setiap hari, bahkan setiap jam.

Seperti halnya Rangga yang setia, para observer BMKG Banyuwangi juga bekerja dengan penuh kesetiaan. Himawan, salah seorang observer BMKG menjalani dua kali penantian Rangga. Terhitung sejak 1986 lalu, dia ditugaskan sebagai tenaga pengamatan di Stasiun Meteorologi BMKG Banyuwangi. Sepanjang waktu itu pula, rutinitas yang dia jalani setiap hari bersama sejumlah observer yang lain, selalu sama. Dia rutin mencatat perubahan suhu.

Dalam tugas keseharian, pencatatan itu mulai dengan melihat kamar termometer. Kotak yang berbentuk mirip pagupon burung merpati ini berisi dua jenis termometer. Melalui termometer di dalamnya, dia akan mencatat kelembapan udara dan suhu udara. Selanjutnya, pencatatan itu dia lanjutkan melihat alat Campbell stokes, alat ukur berbentuk bola kristal itu untuk mengukur lama penyinaran matahari dalam sehari.

Alat-alat itu berjajar mulai dari panci penguapan (pan evaporimeter), hingga penakar hujan berbagai tipe.  ”Ini tidak bisa dibuka terlalu lama,” ucapnya sambil menunjuk termometer di dalam rumah.

Kini, setelah mesin versi digital terpasang, kerja para observer lebih mudah. Mereka tidak lagi harus mencatat secara manual dan memeriksa peralatan. Meskipun demikian, keberadaan alat manual ini tidak serta-merta bisa ditinggalkan. Jika sewaktu-waktu mesin digital mengalami error, tidak ada pilihan lain selain kembali menggunakan alat manual. Selain itu, lama bersinggungan dengan alat manual membuatnya merasa lebih mantap dan yakin. ”Saya lebih percaya manual,” terangnya.

Menjalani aktivitas sebagai observer memerlukan kesabaran. Terlebih, sejak ditempatkan di Banyuwangi, rutinitas yang mereka kerjakan sama. Paling-paling, saat ini mereka hanya pindah piket di kantor Bandara Internasional Banyuwangi  atau di Bandara Notohadinegoro Jember. Di sana pun aktivitas sama. Bahkan, kondisi suhu harian seolah sudah mereka hafal. Kendati demikian, setiap observer harus melihat data yang ada, baik manual maupun yang tercetak digital.

Dari sini, perubahan suhu maupun cuaca selama ini sebenarnya sama. Untuk lokal Banyuwangi, perubahan itu tidak sampai pada batas ekstrem. Dalam setahun, suhu panas akan terjadi pada bulan Januari dan Februari. Sedangkan untuk cuaca panas rata-rata akan terjadi pada Juli sampai Agustus. ”Panas dingin selama ini ya sama, yang beda itu perasaan saja,” pungkasnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)