Pulang Kerja Latihan, Posisikan Diri Seperti Bapak dan Anak

Komitmen Kusuma Irianto, Pelatih Panahan Kawakan di Jember

Bagi Kusuma Irianto, olahraga panahan telah mendarah daging. Dia seolah tak bisa lepas dari olahraga yang membutuhkan fokus tinggi itu. Meski sibuk sebagai ASN, dia tetap menunjukkan dedikasinya. Setiap hari, dirinya tetap melatih panahan atlet yang menjadi anak-anak asuhnya.

HARUS TELATEN: Kusuma Irianto, pelatih panahan yang sekaligus Ketua Pengkab Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) Jember.

RADAR JEMBER.ID – Perjalanan hidup Kusuma Irianto cukup berwarna. Pria berusia 57 tahun yang berdinas sebagai kepala lingkungan dan koordinator wilayah di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, ini tak menyangka jika dirinya bisa menjadi aparatur sipil negara (ASN). Sebab, hampir 12 tahun dia tak mendapat nomor induk pegawai (NIP). Dia baru memperoleh NIP pada 1998 lalu.

IKLAN

Kendati jalan hidupnya berliku, pria yang akrab dipanggil Kusuma ini tetap konsisten melakoni pekerjaannya. Kala itu, dia bekerja di Pemkab Jember pada bagian telekomunikasi sejak tahun 1985 hingga 2005 lalu. Sembari bekerja sebagai abdi negara, Kusuma juga tetap menjalani dunia yang dia geluti sebelumnya, olahraga panahan.

“Waktu itu saya tidak ada ambisi jadi pegawai. Niatan saya hanya ingin membantu orang tua saja. Tetapi pada akhirnya, saya dapatkan NIP itu. Ya Alhamdulillah, bisa untuk bekal masa depan anak dan keluarga saya,” kata Kusuma saat ditemui di Kelurahan Karangrejo.

Meski setiap hari dikenal sebagai ASN, namun di balik seragam cokelat muda itu, ternyata Kusuma Irianto tetap tekun mengembangkan olahraga busur tersebut. Setelah pensiun sebagai atlet, dia terus berupaya mengembangkan panahan di Jember dengan menjadi pelatih. Bahkan, dirinya termasuk satu-satunya pelatih kawakan cabang olahraga (cabor) panahan di kabupaten penghasil tembakau ini.

Kusuma mengaku, sementara ini hanya dirinya saja yang sudah mengantongi lisensi pelatih panahan tingkat daerah Jawa Timur. Menurut dia, pelatih panahan memang ada beberapa tingkat. Mulai dari tingkat klub, cabang (kabupaten), daerah (provinsi), sampai tingkat nasional. “Awalnya malah saya atlet anggar mulai SD. Karena diajak sama Pakde main anggar, waktu itu sekitar tahun 1975,” kenang ayah empat orang putri tersebut.

Sejak SD sampai SMP, dia menggeluti cabor anggar. Saat mau lulus SMP, saudaranya kembali mengenalkan olahraga lain, yakni panahan. “Akhirnya saya ikut ke panahan hingga SMA. Waktu SMA pun saya ajak teman-teman saya buat ikut panahan juga,” ungkapnya.

Kusuma mengatakan, zaman itu biaya masih menjadi kendala. Sebab, peralatan panahan tak murah. Semuanya harus dibeli sendiri dengan dana pribadi atau orang tuanya. “Saya sempat vakum, karena memang minat orang-orang terhadap olahraga panahan masih sangat kurang. Vakum sekitar delapan tahunan. Saya tidak merekrut orang lagi, tapi masih tetap eksis bermain,” kata Kusuma.

Tahun 1982, karir Kusuma menjadi pelatih pun dimulai. Sebelumnya, saat menjadi atlet, dia sudah mengikuti beberapa kejuaraan tingkat regional dan provinsi. Terakhir, dia bermain di Kejuaraan Daerah Jawa Timur.

Keluarga Kusuma memang gemar bermain olahraga panahan. Sebab, mulai dari pakde, kakak kandung, kakak ipar, sampai istrinya pun juga pernah menjadi atlet panahan. “Kalau sekarang anak saya turunkan ilmu olahraga ini kepada anak. Sudah mulai saya gembleng,” ungkap pria asli Dinoyo, Malang, ini.

Saat ini, Kusuma masih mengelola klub panahan Tunas Muda. Empat kali dalam sepekan, dia mengadakan latihan rutin. Selain menjadi pelatih panahan, dirinya juga mengemban amanah menjadi Ketua Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) Jember periode 2016-2020 mendatang. “Dulu malah tidak terpikirkan kenapa cabor ini menjanjikan,” ucapnya, sembari tertawa kecil.

Pengalamannya sebelum memiliki lisensi kepelatihan, dia pernah melatih tentara Brigif. Bahkan, anak asuhnya di tentara tersebut mampu meraih kemenangan di sebuah kejuaraan. Kini, dia berharap kepada para atlet juniornya, untuk sama-sama saling belajar.

“Walau saya pelatih, tetapi saya ingin tetap menjaga komunikasi kepada atlet. Seperti menjaga komunikasi antara bapak dan anak. Karena, itu penting untuk menjaga mental bertandingnya,” imbuh Kusuma.

Sekarang ini, sepulang dari kantor kelurahan sekitar pukul tiga sore, dia hanya mampir di rumah sebentar. Setelah itu, melanjutkan untuk melatih di klubnya. “Kalau hari biasa, Kamis dan Jumat latihan sore. Tapi, untuk Sabtu dan Minggu latihan pagi mulai jam delapan. Melatih atlet panahan itu harus telaten. Karena menyangkut mental psikologis anak,” tuturnya. (*)

 

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih