Ferry Setyawan, Difabel Tunadaksa Pembuat Kaki Palsu

MAHRUS SHOLIH/RADAR JEMBER PANTANG MENYERAH: Ferry Setyawan menunjukkan salah satu kaki palsu hasil karyanya. Dengan alat sederhana, dia membuat kaki palsu di bengkel di depan rumahnya.

RADARJEMBER.ID – Sebuah rumah di ujung Gang 1/36 Jalan Kaca Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, terlihat masih sepi. Hanya sebuah motor yang terparkir di teras rumah. Tak berselang lama, seorang pria muda berwajah bersih keluar dari ruang keluarga. Dia melompat-lompat menggunakan kaki kanan menuju ruang tamu.

IKLAN

Setelah menjawab salam, dengan ramah lelaki bernama Ferry Setyawan tersebut menyilakan Jawa Pos Radar Jember masuk. Sejurus kemudian, secangkir kopi dan sepiring gorengan tersaji di meja. Siang itu, dia ditemani istrinya Novita Indah Rahayu, perempuan yang selama ini menemani perjalanan hidupnya.

“Setahun setelah kecelakaan, tepatnya 2006 lalu, saya menggunakan kaki palsu yang memesan dari seseorang. Ketika itu, saya ingin belajar bagaimana cara membuat kaki palsu. Tetapi oleh sang pembuat tidak diizinkan. Akhirnya, saya belajar sendiri secara autodidak,” kata Ferry, sapaannya, mengawali kisahnya, kemarin.

Setelah keinginannya ditampik, Ferry tak menyerah. Ia berupaya mencari kenalan yang paham tentang resin, sebuah zat sintetis yang berbentuk cairan kental yang bisa mengeras menjadi padatan transparan.

Pengetahuan mengenai resin sangat penting, karena zat inilah yang menjadi salah satu bahan utama pembuatan kaki palsu yang diproduksi Ferry. “Awalnya saya gagal, tapi terus mencoba. Setelah satu setengah tahun kemudian, persisnya akhir 2017 lalu, saya baru bisa, dan berhasil membuat kaki palsu,” ujarnya.

Keberhasilan ini rupanya didengar oleh orang lain. Seketika itu, dirinya mendapat dua pesanan sekaligus dari penyandang tunadaksa. Waktu pengerjaan yang cukup lama membuat dirinya meminta para pemesan itu bersabar. Apalagi, pembuatan kaki palsu tersebut masih dia kerjakan sendiri.

Untuk menyelesaikan pembuatan satu kaki, Ferry memerlukan waktu sekitar sepekan. Itu pun bergantung kondisi cuaca, karena proses untuk mengeringkan bahan-bahannya, Ferry masih mengandalkan sinar matahari. Menurut ayah tiga anak ini, cahaya matahari dinilainya lebih efektif dan tingkat kekeringannya lebih merata, dibanding menggunakan kompor atau hairdryer.

Setelah kering, Ferry masih butuh tiga hari lagi untuk menyesuaikan dengan kaki calon pengguna. Karena jika sampai tak presisi, kata dia, mengakibatkan pemakai kaki palsu tersebut merasa tak nyaman. “Jadi harus benar-benar presisi. Selisih satu milimeter saja, bisa membuat pemakainya tidak nyaman,” jelasnya.

Selain resin, bahan yang digunakan Ferry juga berbeda dengan kaki palsu lainnya. Jika biasanya berbahan karet cetak, dia memakai spons berukuran tebal. Sehingga, kaki palsu buatannya tidak kaku dan berat. Ketika dipakai terasa lebih nyaman dibandingkan kaki palsu berbahan karet. “Punya saya lebih ringan. Karena saya memang membuat untuk sesama teman, sehingga mengusahakan senyaman mungkin,” tuturnya.

Tak hanya lebih ringan, kaki produksi Ferry juga lebih murah dari pasaran. Dia mengaku tak mengambil untung banyak, yang penting cukup. Sejak awal, pria yang pernah bekerja di jasa angkutan ini memang termotivasi untuk membantu sesama difabel. Sebab, harga kaki palsu di pasaran cukup mahal, mencapai Rp 7-11 juta. “Kalau punya saya, untuk yang di bawah lutut Rp 2 juta, sedangkan yang di atas lutut Rp 3 juta,” paparnya.

Suatu ketika, dirinya ditanya oleh seseorang, apakah harga yang dia patok tidak merusak pasaran, atau malah membuatnya merugi? Ditanya begitu, Ferry menjawab, kalau dirinya normal pasti akan menjual mahal, biar untung banyak. “Tapi karena sesama difabel, saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Apalagi, kebanyakan dari mereka ekonominya menengah ke bawah,” ucapnya.

Sementara untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Ferry memiliki usaha lain. Bersama sang istri, dirinya berdagang pakaian dan kebutuhan pokok secara daring (online). Istrinya yang menjalankan usaha itu. Sedangkan Ferry bertugas mengantarkan pesanan ke pelanggan. “Selain itu, kami juga punya kamar kos yang disewakan. Alhamdulillah, hasilnya cukup. Sehingga, pembuatan kaki palsu yang saya tekuni ini lebih bersifat untuk membantu sesama tunadaksa,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :