Belajarnya Sejak Kecil, Menjadi Generasi ke Tujuh

Mengenal Salam, Pelestari Macapat Bahasa Madura

Penguasaan terhadap ilmu kuno sudah jarang dipelajari generasi muda. Salah satunya tembang macapat. Di Silo, seorang bernama Salam menjadi penjaga tradisi itu hingga sekarang.

KUNO: Salam menunjukkan kitab macapat yang disebutnya berusia sekitar 350 tahun. Kitab itu kertasnya diketahui masih seperti kapas.

RADAR JEMBER.ID – Bacaan macapat yang dibawakan Salam mampu membius ratusan warga yang berada di pinggir jalan depan Pemkab Jember. Suara pria asal Dusun Sumberwadung, Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, itu begitu khas ketika membacakan tembang macapat berbahasa Madura.

IKLAN

Lantunan empat-empat bait macapat begitu pas dengan nada suaranya yang khas. Sebagai pembaca macapat, pria kelahiran 1948 ini pun mengaku tak pernah puas untuk melantunkan bacaan macapat sekalipun telah dibaca berulang-ulang, ratusan bahkan ribuan kali.

Salam yang memiliki lima orang anak bercerita bahwa dirinya sudah bisa membaca macapat sejak masih anak-anak. Hal itu dipelajari langsung dari orang tuanya, yaitu almarhum Fudoi. “Sejak kecil saya sudah bisa membaca. Saya ingat, saat anak-anak sering ikut orang tua saya. Jadi, saya juga diajari membaca. Alhamdulillah, sampai sekarang saya tetap bisa,” jelasnya.

Salam sendiri tidak begitu lancar berbahasa Indonesia. Bacaan macapat, menurut Salam, berbeda dengan kitab kuning atau kitab lainnya. Sebab, macapat dibaca dalam setiap empat bait.

Menurut Salam, semua orang bisa belajar membaca macapat. Namun, di era modern seperti sekarang, tak semua orang bisa mengamalkannya. Untuk itu, bacaan macapat tersebut dia jaga hingga sekarang. “Kalau belajar membacanya bisa saja cepat dipelajari. Akan tetapi, untuk mengeluarkan lagu-lagu dengan cengkok khas, belum tentu semua orang bisa. Yang sulit itu cara melantunkannya,” jelasnya.

Berkat ketekunan menjaga bacaan macapat, Salam akhirnya mendedikasikan dirinya sebagai pembaca macapat untuk acara pernikahan, khitanan, tujuh bulanan, selamatan, serta undangan kegiatan yang lain. Apa yang dia lakukan juga dilakukan oleh para pendahulunya.

Untuk membuktikan bahwa bacaan macapat Madura telah dilakukan para pendahulunya, Salam langsung menunjukkan dua kitab macapat. Satu kitab menceritakan tentang doa tujuh bulanan. Menurutnya, kitab itu dibacakan Abu Thalib pada saat Nabi Muhammad SAW masih di kandungan ibunya. Satu lagi yaitu kitab macapat yang menceritakan kisah Nabi Yusuf.

“Kitab yang saya pegang ini sudah berusia sekitar 350 tahun. Kenapa saya sebut seperti itu, karena kitab ini sudah turun-temurun menjadi tujuh turunan. Kebetulan, saya merupakan keturunan ketujuh,” klaim Salam dengan bahasa Madura yang kental.

Tak hanya itu, Salam kemudian menyebut nama para pendahulunya yang telah memberikan wasiran kitab macapat kepadanya. “Kitab ini dari bapak saya Fudoi. Kemudian, Bapak Fudoi dapat dari Kakek Murjani. Di atasnya lagi ada Sudarman, Aliye, Marsudin, dan satu lagi saya sudah lupa,” paparnya.

Hampir setiap hari Salam mendapatkan undangan untuk membaca macapat dalam berbagai kegiatan warga. Tak hanya di Jember, namun beberapa kabupaten lain. “Jadi, saya kerjanya ya hanya membaca macapat. Untuk di Jember, yang saya tahu masih cukup banyak yang bisa membaca, tetapi mungkin usianya kalah tua dengan saya,” tambahnya.

Demi menjaga tradisi bacaan macapat keluarganya, Salam yang merupakan pewaris ketujuh pun mengaku memiliki utang untuk ikut mewariskan pada anaknya. Di antara lima anaknya, Salam menyebut ada dua anak yang sudah bisa membaca macapat. “Dua anak saya, Raditya dan Aril, sekarang kelas 5 SD, sudah bisa membaca,” tuturnya.

Apabila anak-anaknya sudah besar nanti, Salam berharap ada anaknya yang bisa meneruskan yang dia lakukan. “Saya kira, sepuluh atau tiga puluh tahun lagi akan sangat jarang orang yang bisa membaca macapat,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi