Susahnya Warga Sucopangepok Kecamatan Jelbuk Mendapatkan Aliran Listrik

Bagus Supriadi/Radar Jember RINTIS JALUR LISTRIK: Di Dusun Tenap, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, tiang listrik pun belum seminggu dipasang. Tak lama, rumah warga di kampung terpelosok ini bakal diterangi listrik.

RADARJEMBER.ID –  Tiang listrik itu tampak berdiri kukuh di pinggir jalan menuju Dusun Tenap, Desa Sucopangepok. Namun hanya tiang. Belum ada kabel yang bisa mengaliri listrik ke setiap rumah warga. Rupanya, tiang itu baru berdiri dua seminggu yang lalu.

IKLAN

Maklum, tak mudah untuk sampai di desa yang berada di lereng Gunung Argopuro tersebut. Jaraknya memang hanya 22,5 kilometer dari kota Jember. Namun, wilayah ini harus melewati jalan bebatuan, berdebu, dan sempit sekitar satu jam. Selain itu, jalurnya mendaki dan cukup berbahaya. Apalagi jika musim hujan.

Kehadiran tiang listrik adalah kegembiraan tersendiri bagi warga Desa Sucopangepok. Listrik yang selama ini mereka idamkan, sepertinya bakal menerangi desa mereka. “Selama ini, meteran listrik kami ada di Desa Panduman. Kami ngampung, karena dusun kami kegelapan,” kata Husen, ketua RT 3 RW 16 Dusun Tenap.

Desa Panduman yang merupakan tetangga terdekat dusun tersebut memang memiliki akses jalan yang relatif lebih baik. Panduman sudah terjangkau oleh aliran listrik. Oleh karena itulah, warga Dusun Tenap menaruh beberapa meteran listrik di sana. Mereka juga harus urunan kabel listrik sepanjang 3.000 meter. “Karena harus pakai kabel sendiri agar sampai ke rumah kami,” ujarnya.

Satu meteran listrik, kata dia, digunakan untuk mengaliri sepuluh rumah warga. Bahkan, sempat ada satu meteran yang mengaliri 27 rumah, namun tidak kuat. Mereka urunan agar rumahnya bisa terang. “Meteran kami ada di tiga desa, Panduman, Kamal, dan Sucopangepok sendiri yang sudah teraliri listrik karena mudah dijangkau,” ucapnya.

Biaya yang dikeluarkan oleh warga tidak sedikit. Satu kabel listrik harus mengeluarkan dana dari Rp 7 hingga Rp 9 juta. Sebab, bukan meteran listriknya yang mahal, namun harus membeli kabel listrik yang cukup panjang. “Ada kabel yang per meternya seharga Rp 4 ribu,” akunya.

Satu bulan, mereka pun harus membeli token sekitar Rp 400 ribu. Selain itu, kabel yang dipasang itu juga penuh risiko. Ketika hujan deras dan angin, bisa terkena robohan kayu. Hal itu membuat listrik mati dan harus diperbaiki, bahkan bisa berbahaya bila tidak berhati-hati tanpa didampingi petugas PLN.

Kini, tanda-tanda listrik sudah masuk ke dusun itu mulai terlihat. Warga Dusun Tenap menyambut ria kehadiran listrik itu. Tak terkecuali Muhamad Suraji, guru mengaji di daerah tersebut. “Selama ini meteran kami di desa tetangga,” kata dia.

Ketika ada kendala listrik, maka dia harus menghentikan kegiatan anak-anak desa yang sedang belajar mengaji. Yakni mendatangi meteran dan melihat apakah padam atau ada kabel yang putus. “Begitu juga ketika beli token listrik, masih putar-putar,” tambahnya.

Sebelum ada listrik, kata Suraji, anak-anak belajar mengaji menggunakan lampu teplok. Setelah itu, sempat mendapat bantuan genset lampu oleh pemerintah, namun boros. Sebab, satu malam bisa menghabiskan 15 liter solar. Akhirnya, mereka berjuang untuk mendapatkan listrik, meskipun meterannya berada di rumah orang lain.

Ada sekitar 400 KK yang tinggal Di Dusun Tenap. Mayoritas dari mereka adalah warga dengan ekonomi menengah ke bawah. Warga sepakat untuk memberikan bantuan kepada orang tua atau janda yang tidak mampu. “Mereka tetap kami beri aliran listrik tanpa bayar, agar rumahnya terang,” ujarnya.

Selain itu, musala dan masjid tempat warga beribadah dan anak-anak mengaji juga dialiri tanpa harus membayar. Sehingga, pasokan energi listrik itu bisa dirasakan semua masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk warga miskin. “Di musala saya, ada 50 anak yang belajar mengaji,” ucapnya.

Bila listrik sudah ada di setiap rumah dan meteran listrik di rumah sendiri. Mereka bisa belajar lebih nyaman dan tenang. Selain itu, mereka bisa memanfaatkan alat elektronik, seperti menonton televisi, atau memasak nasi menggunakan rice cooker.

Sebab, tidak semua warga menikmati kecanggihan teknologi itu. Ada yang masih memasak menggunakan tungku tradisional dengan bahan bakar kayu. Kehadiran listrik menjadi penyemangat warga dalam bekerja.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :