Para peserta Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 melakukan tes fisik di lapangan GOR Djarum, Kudus (22/11). (PB Djarum )

JawaPos.com-Kompleks GOR Djarum Kudus disebut-sebut sebagai pusat pelatihan bulu tangkis terbaik di Asia. Pemain muda PB Djarum hanya perlu mempersiapkan fisik dan mental secara baik untuk menjadi pemain kelas dunia. Semua urusan teknis, biarlah menjadi urusan tim pelatih dan manajemen.

IKLAN

Ainur Rohman, Kudus

Belasan piala, teronggok di sudut ruangan televisi di lantai dua asrama PB Djarum di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Nyaris semua trofi tersebut berdebu. Jelas sekali lama tak terjamah tangan manusia. Pemiliknya pasti telah melupakan eksistensi piala-piala itu.

”Ini wajar ya. Kalau dipajang semua, bisa penuh ruangan ini,” kata Raventus Pongoh lantas tersenyum.

Raven, panggilannya, menemani saya berkeliling asrama PB Djarum, Jumat pagi (22/11). Dia adalah anak dari Lius ‘Si Bola Karet’ Pongoh, seorang pemain tunggal putra kelas dunia milik Indonesia era 1980-an.

Saat ini tugas Raven variatif. Dia mengajar bahasa Inggris dan Mandarin untuk atlet-atlet PB Djarum. Selain itu dia adalah tour guide bagi tamu manapun yang ingin melihat kehebatan fasilitas latihan PB Djarum.

Yang unik, Raven merupakan wasit yang sudah memiliki sertifikat konfederasi badminton Asia alias BAC. ”Saya tidak bisa bermain bulu tangkis,” katanya. Saat ini, Raven mengejar mimpinya untuk menjadi wasit federasi bulu tangkis dunia (BWF).

Raven mengatakan tidak hanya piala-piala itu saja yang tak tzerjamah. Ruang TV lantai dua yang langsung menghadap ke hamparan taman hijau di area asrama, juga jarang dikunjungi. ”Mungkin karena di sini sudah ada wifi gratis. Jadi pemain sudah malas menonton TV,” akunya.

Kepada saya, Raven lantas menunjukkan sebuah lemari penyimpanan piala di lantai satu gedung tersebut. Letaknya di ruang serba guna. Jumlah piala itu banyak sekali. Puluhan. Namun letaknya tersembunyi. Kalau Raven tidak membukanya, saya juga tidak mengetahui di dalam sana ada ternyata ceruk sebagai tempat menyimpan piala.

PB Djarum memang agaknya tidak perlu pamer piala. Apalagi kalau kelasnya hanya tingkat regional atau nasional. Pengurus klub berusia 50 tahun itu hanya perlu memajang tiga piala saja di tempat yang strategis. Yakni Piala Thomas, Uber, dan Sudirman. Replika tiga trofi beregu putra, putri, dan campuran tersebut diletakkan di lobi utama GOR Djarum.

Di bawah masing-masing piala tersebut, tertulis nama-nama para pemain PB Djarum yang pernah andil membawa Indonesia menjadi juara. Di tembok dekat tiga piala tersebut, juga terpajang 28 foto barisan legenda PB Djarum dengan prestasi dunia.

Tembok hall of fame yang memuat 28 foto legenda besar PB Djarum. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Mulai dari Christian Hadinata, Liem Swie King, sampai Liliyana Natsir dan Debby Susanto. Untuk memacu semangat para atlet untuk bisa setara dengan para legenda itu, terdapat dua pigura kosong yang bertuliskan who’s next?

Selain itu, pada beberapa sudut GOR Djarum, terpajang klipling surat kabar berbingkai yang menggambarkan kejayaan para pemain PB Djarum di pentas dunia. Yang paling baru dan monumental adalah saat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih emas Olimpiade Rio 2016.

Baik Owi maupun Butet adalah atlet PB Djarum.

 

Raket yang dipakai Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di final Olimpiade Rio 2016. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Raket yang dipakai Owi dan Butet saat mengalahkan ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying pada final Olimpide 2016 ditempatkan di dalam kaca. Letaknya berada di jalan yang menghubungkan lobi utama dengan gedung olahraga.

”Kalau medali kelas dunia, atlet sendiri yang menyimpannya di rumah. Mungkin agar orang tuanya bangga. PB Djarum tidak pernah meminta piala-piala itu,” kata Raven.

*

Semuanya berawal dari kegelisahan Presiden Direktur Djarum Foundation Victor R. Hartono. Saat itu, putra sulung pemilik Djarum Robert Budi Hartono tersebut gusar melihat Indonesia yang hancur Piala Thomas 2004.

Di kandang sendiri, Indonesia kalah 2-3 di tangan Denmark pada semifinal.

Saat itu, di Istora Senayan, Jakarta, Victor menjadi saksi mata merosotnya kekuatan Indonesia. Padahal, Indonesia adalah juara bertahan dalam lima edisi beruntun. Namun, dominasi sudah berakhir. Apalagi pada fase penyisihan grup, Indonesia dibantai Tiongkok dengan skor telak 0-5.

Raksasa sudah resmi tumbang. Dari sebuah tim yang luar biasa dominan, menjadi tim dengan kumpulan pemain kelas medioker.

Satu hal yang membuat Victor sangat galau adalah tidak ada satupun pemain PB Djarum yang menghuni skuad Indonesia. Ini jelas sebuah kemunduran besar. Bandingkan misalnya saat Indonesia meraih gelar Piala Thomas 1984. Ketika itu, dari delapan pemain, tujuh di antaranya adalah atlet PB Djarum.

Pusat kebugaran di area lapangan GOR Djarum, Kudus. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Vice President Director Djarum Foundation F.X. Supanji mengatakan bahwa momen kekalahan itu sangat memukul Victor. Harus adalah langkah besar yang diambil. Kelas bulu tangkis Indonesia harus naik agar bisa bersaing.

Satu yang penting adalah membangun sarana pelatihan atlet yang sangat hebat. ”Bulu tangkis tanpa fasilitas? No way!” kata Supanji dalam buku Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia.

Tahun itu juga, kerja langsung diwujudkan. Menempati tanah mencapai mencapai 43.207 meter persegi di Desa Jati Wetan, Kudus, dibangunlah GOR Djarum.

Dalam tempo dua tahun, gedung yang menelan dana mencapai Rp 30 miliar itu diresmikan pada 27 Mei 2006. Yang paling menonjol dari GOR Djarum tentu saja adalah pusat latihannya. Memakan lahan seluas 29.450 meter persegi, di sana terdapat 12 lapangan utama.

Berstandar internasional, lapangan itu beralaskan vinil alias lapangan sintetis. Di bawahnya terdapat rongga dan karet setebal 2,5 cm. Jadi sangat empuk, nyaman, dan mengurangi resiko cedera bagi atlet-atlet muda.

Di sebelah kiri dan kanannya terdapat tribun penonton. Selain itu, masih ada empat lapangan penunjang yang alasnya terbuat dari kayu atau parket.

GOR ini juga dilengkapi ventilasi udara yang sangat baik. Aliran udara di dalam gedung tak lebih dari 0,5 meter perdetik. Sementara itu di bawah lapangan, terdapat rongga setinggi 60 cm. Di sana juga ada penyedot udara untuk mengurangi kelembapan lapangan.

Penyedot udara itu bekerja 30 menit per empat jam. Semuanya sudah disetting secara otomatis. Teknologi tersebut tentu saja sangat membantu untuk mengurangi panas dan lembabnya udara di Kudus.

Di dalam lapangan juga terdapat puluhan alat kebugaran yang bisa digunakan dengan bebas oleh para atlet. ”Jadi, memang sudah sangat lengkap,” kata Raven.

Editor : Ainur Rohman