Moelijan, Salah Seorang Pejuang Kemerdekaan Asal Silo

WAWAN DWI/RADAR JEMBER VETERAN PERANG: Mata Moelidjan selalu berkaca-kaca jika ingat perjuangannya merebut Kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda.

RADARJEMBER.ID – Laki-laki tua itu duduk di bawah pohon kelapa sekitar pukul 06.00, di Alun-alun Jember. Mengenakan baju hijau, peci kuning, dan di dadanya ada lencana. Sepertinya dia adalah pejuang veteran. Pandangannya lurus ke depan melihat kondisi lapangan alun-alun yang dipersiapkan untuk upacara bendera HUT Kemerdekaan RI ke-73.

IKLAN

Di pagi yang masih dingin itu, banyak orang yang mengenakan jaket. Namun, pria yang mengenakan lencana dan peci kuning tua itu justru tidak. Meski dingin, pria tua itu begitu semangat.

Sesaat kemudian, seorang perempuan berkerudung yang mengenakan busana batik biru (ASN) menghampiri dan memberikan jaket. “Dari rumah tidak bawa jaket. Apa nggak dingin Mbah Moelijan,” tanya Itul, seorang guru di SMAN Pakusari itu. Itul menyebut, Moelijan adalah seorang pejuang kemerdekaan.

Sementara Moelijan mengaku, usianya sudah lebih satu abad. “Umur saya itu 104,” jelasnya lirih. Dia juga mengaku sebenarnya bukan orang yang kebal dengan rasa dingin. Tapi demi ikut upacara bendera dan tampil di drama kolosal, dia melawan rasa dingin itu.

Dalam acara itu, Moelijan bangun seperti hari biasanya, yakni  sebelum azan subuh berkumandang. Bedanya, dia langsung mandi dengan dinginnya air perdesaan. “Jember sekarang dingin, biasanya mandi jam setengah tujuh atau jam tujuh. Tapi tadi mandi pukul 4 subuh,” paparnya.

Kemudian sekitar pukul 05.00 WIB, sudah datang ke SMPN 1 Silo untuk berangkat bersama pihak sekolah itu ke Alun-alun Jember. Sekitar pukul 06.30, dia telah tiba di alun-alun.

Pria lansia ini –dari fisiknya– sudah tampak renta. Giginya ompong, hanya tersisa bagian geraham belakang. Pendengarannya juga melemah. Jika ingin berbicara kepadanya, harus sedikit berteriak. Bila perlu, berbicara tepat di telinganya. Untuk berjalan saja, dia masih menggantungkan tongkat dari bambu.

Meski tua, ingatannya terhadap perjuangan melawan penjajah masih kuat. Moelijan merupakan sosok yang menginspirasi drama kolosal pahlawan lokal dari Pakusari, bernama Bura. Drama inilah yang belakangan kerap dimainkan.

“Moelijan ini saksi hidup dan orang terakhir yang tahu perjuangan Bura dan masyarakat Pakusari sekitarnya,” ucap Dani, sutradara drama kolosal di alun-alun, 17 Agustus tahun ini.

Di penghujung drama, kesedihan terlihat di raut wajahnya. Saat duduk di tengah-tengah alun-alun, air mata Moelijan tak terbendung ketika Bupati Jember dr Faida MMR memberikan bendera merah putih.

Moelijan –yang juga biasa dipanggil Pak Kus– mengaku, awalnya bukan tentara, tetapi petani biasa. Namun, dulu di zaman melawan penjajah, siapa saja bisa jadi pejuang. Petani juga ikut memikul senjata. Dia ikut pendidikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) 1946 di Prajekan, Bondowoso. Dia masih ingat pimpinannya saat itu bernama Letnan Beno.

“Pertama ikut perang itu dikirim di fron Surabaya,” ungkapnya. Hanya tiga bulan di sana, Moelijan diperintahkan untuk pulang kembali.

Pertengahan 1947, saat pasukan Belanda memasuki wilayah Jember, dia bergabung pada Resimen 39. Fron ini meliputi desa Jatian, Pringtali, Mumbulsari, dan Garahan.

Moelijan juga masih ingat, bagaimana saat perang dia diperintahkan untuk gencatan senjata dan kembali ke kantong markasnya. “Padahal, waktu itu ingin ikut pergi dari Jember ke Blitar,” imbuhnya.

Namun, karena ada perintah dari atasan untuk di Jember, dia manut. Atasannya tidak lain adalah Letkol Moch Sroedji. Alasan lain, adalah agar menjaga keamanan wilayah perdesaan.

Tidak hanya Moelijan yang diperintahkan Moch Sroedji. Ada tiga orang lagi. Yakni Saqi, Mohari, serta Pak Jaro. Pasukan kecil ini bertambah satu orang lagi, bernama Bura. ”Mereka (teman-temannya, Red) sudah tiada semua (meninggal, Red),” katanya.

Moelijan juga menceritakan bagaimana temannya bernama Toyib tertembak dan mengembuskan napas terakhirnya di pelukannya.

Dia juga sedih ketika ingat tentara Belanda mengikat tangan Bura hidup-hidup. Kemudian Bura diarak berkeliling dari Karang Kedawung hingga ke Kalisat. Memutar hingga berhenti di desa Jatian. Di tempat itu, Bura ditumpuki kayu kemudian dibakar hidup-hidup. “Dia disiksa sepanjang jalan, setelah itu dibakar,” pungkasnya, sedih.

Reporter & Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :