Kisah Adinda Putri Soebandi, Bayi yang Dibuang di Sungai

Rully Efendi/Radar Jember SERAHKAN BAYI: Isnaini Dwi Susanti (kiri), Kepala Dinsos Jember, menyerahkan bayi ke Dwi Antini, Kepala UPT Pelayanan Sosial Asuhan Balita Dinsos Jatim.

RADARJEMBER.ID – Telinganya sudah mengenakan anting. Meski bola matanya belum mau melek, namun mulutnya seperti tak mau melepas dot berisi susu formula. Bayi cantik ini terus meminumnya. Sesekali tersenyum. Saat tersenyum, paras bayi berumur 2 bulanan ini tampak cantik. Menggemaskan.

IKLAN

Siapa sangka, bayi tak berdosa ini dibuang orang tuanya. Dia dibuang di Sungai Kasiyan Puger, pada Selasa (19/6) lalu. Dia sampai dikerubuti semut. Beruntung masih hidup. Sebab, kondisinya saat ditemukan sudah cukup memprihatinkan. Saat itu, bayi tersebut dibungkus kantong kresek.

Bayi cantik itu kini sudah memiliki nama. Ia dipanggil Adinda Putri Soebandi. Nama itu diberikan oleh para perawat RSD dr. Soebandi Jember. Maklum, selama ini dia dirawat di rumah sakit tersebut. Namanya pun menggambarkan bahwa Adinda adalah anaknya keluarga besar RSD dr. Soebandi Jember.

Kepala Dinsos Jember Isnaini Dwi Susanti mengakui, bayi itu anak yang dibuang orang tuanya. Demikian, ia disebut anak negara. Semua kebutuhan bayi itu dibiayai negara. Termasuk dengan anting emas yang dikenakannya.

Namun, saat ini Adinda tak lagi ada di Jember. Dia harus diboyong ke Kabupaten Sidoarjo. Dia dirawat para petugas UPT Pelayanan Sosial Asuhan Balita (PSAB) Dinsos Jatim. “Prosedurnya begitu. Selain itu, juga kasihan tinggal di rumah sakit terus-terusan,” katanya.

Bayi ini dijamin kesehatannya. Terlebih, para perawat di UPT PSAB Dinsos Jatim sudah begitu terlatih dan profesional merawat bayi yang tak dikehendaki orang tuanya. “Pesan Bupati Faida begitu. Harus dirawat sebaik mungkin,” tuturnya.

Bagi yang tertarik merawat bayi ini, negara memperbolehkannya untuk mengadopsi. Tentu, beberapa syaratnya harus terpenuhi. Salah satunya, calon orang tuanya harus benar-benar siap lahir dan batin. “Diprioritaskan bagi pasangan yang belum pernah punya anak,” jelasnya.

Tak kalah pentingnya, calon orang tua harus dipastikan perekonomiannya mampu. Sehingga, jaminan anak hidup layak bisa dipastikan oleh negara. “Nah, yang tak boleh ditawar, calon orang tuanya harus menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri,” imbuhnya.

Meski demikian, bukan berarti negara sudah lepas tangan. Sebab, kata Susanti, setiap enam bulan sekali, Dinsos akan melakukan monitoring dan evaluasi. “Semisal dalam monitoringnya kami nilai orang tua yang mengadopsi tidak baik, anaknya bisa diambil lagi oleh negara,” paparnya.

Namun yang pasti, Susanti menegaskan bahwa bayi ini manusia pilihan yang disayang Tuhan. Salah satunya, dia masih diberi selamat dari maut, saat orang tuanya membuang di sungai dengan kejinya, sampai dikerubuti semut.

Reporter & Fotografer : Rully Efendi
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :