HAN: Harus Sensitif dan Responsif

DWI SISWANTO/RADAR JEMBER HARUS CERIA: Siswa SDN Gebang 5 sedang mengisi waktu istirahatnya dengan permainan kids athletic. Sebagai generasi emas, anak-anak harus mendapat perhatian dan perlakuan khusus. Lebih-lebih di era digital seperti saat ini. Jangan hanya sekolah tapi orang tua dan lingkungan harus peka dan responsif terhadap kebutuhan mereka.

RADARJEMBER.ID-Tema Hari Anak tahun ini adalah membentuk anak Genius (gesit, empati, berani, unggul, dan sehat). Lalu, bagaimana kita bisa ikut membantu mewujudkannya? Sensitif dan responsif, itu kuncinya.

IKLAN

“Kita semua harus bisa menjadi orang tua dan lingkungan yang sensitif dan responsif terhadap anak,” kata psikolog anak, Nuraini Kusumaningtyas. Dosen FKIP Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Jember ini mengatakan, kedua hal ini sering dilupakan.

Dia mencontohkan, untuk membentuk anak cerdas, kadang hanya dilihat dari nilai akademis anak saja. Padahal, kecerdasan setiap anak ini berbeda. “Ini yang perlu ada sensitivitas dari orang tua, lingkungan, dan guru. Setiap anak berbeda, jadi kita harus mengerti kebutuhan masing-masing,” tegasnya. Orang tua harus mendukung tumbuh kembang dan kecerdasan sesuai dengan bakat masing-masing.

Oleh karena itu, orang tua juga harus mau berproses untuk mendampingi anak berproses. Sebab, proses sama pentingnya dengan hasil yang diraih anak, sehingga nantinya bisa menjadi pembentuk karakter anak. “Jika gagal, harus diberi support, mengajarkan bagaimana menerima kegagalan sehingga anak tidak mudah menyerah,” tutur Tyas, panggilan akrabnya.

Termasuk juga sensitif dengan tidak membandingkannya dengan anak lain. Hal-hal inilah yang harus diperhatikan, terutama oleh orang tua. Dengan demikian, orang tua harus mengerti apa yang dibutuhkan anak. Kadang, hal seperti ini tidak dilakukan oleh orang tua kepada anaknya, sehingga termasuk hal yang tidak memberikan hak anak.

Ditambah dengan responsif, yakni orang tua harus peka dengan yang dialami oleh anak. Terutama lingkungan sekitar anak. “Terutama jika ada perubahan drastis kepada anak, orang tua harus tahu,” jelasnya. Orang tua harus menjadi pihak yang pertama tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada anak dan membantu untuk menyelesaikannya.

Orang tua juga harus bisa melindungi anak dari kondisi lingkungan sekitarnya. Apalagi, dengan maraknya perkembangan teknologi informasi saat ini. “Misalnya anak melihat Tiktok, atau video-video yang tidak pantas di media yang sangat mudah didapat anak,” tegasnya. Jika orang tua tidak responsif, maka anak akan mudah meniru hal-hal yang tidak pantas dilihat, dirasa, dan didengarkannya.

Padahal, konten yang ada pada media itu belum semuanya baik untuk anak, sehingga diperlukan peran orang tua untuk melindungi dari hal-hal seperti itu. “Jangan memberikan kebebasan sebebas-bebasnya,” terangnya. Pasalnya, apa yang didengar, dirasa, dan dilihat anak bisa juga membentuk karakter anak ke depanya, sehingga perlu dijaga bersama.

“Apa yang didapat saat kecil akan terkonstruksi hingga dewasa,” tegasnya. Dengan memberikan kebebasan, bisa jadi nantinya akan membentuk karakter yang diskriminatif dan tidak toleransi.

Dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional 2018 ini, pihaknya meminta kepada seluruh orang tua untuk kembali ingat kepada hak anak untuk diberikan sepenuhnya. Misalnya memberikan banyak waktu berkumpul dengan anak, memberikan contoh nyata pembentukan karakter. Jadi, orang tua tidak hanya menyuruh anak, namun juga memberikan contoh langsung dengan kebiasaan di rumah oleh orang tua, keluarga, dan lingkungan. “Orang tua selalu menuntut hak kepada anak, sedangkan hak anak tidak dipenuhi,” jelasnya. Karena nantinya anak akan bersikap dari yang diberikan orang tua.

Dia menambahkan, untuk menjadi Genius seperti tema HAN, ada proses. “Anak berproses dan tumbuh kembang. Ortu juga harus bisa berproses,” jelasnya. Dengan memberikan teladan yang baik, maka anak yang diharapkan pun bisa dicapai.

Sementara itu, bagi lingkungan juga diharapkan mampu ikut bertanggung jawab mendampingi anak. Lingkungan juga harus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memberikan perlindungan terhadap anak yang ada di sekitar rumahnya. “Yakni menumbuhkan diskusi konsep berbagi,” jelasnya.

Dikatakan, lingkungan yang bagus juga harus ada intervensi komunitas. Lingkungan juga harus responsif. Misalnya ada penelantaran dan kekerasan anak, maka orang yang ada di sekitarnya tidak boleh diam saja. “Di Jember, Tanoker yang paling kongkret sebagai contoh yang baik,” ucap Tyas. Intervensi komunitas memang tidak hanya bisa dilakukan satu keluarga, tetapi juga lingkungan.

“Peran komunitas ini juga sangat penting membentuk anak Genius. Dengan demikian, komunitas yang responsif bisa melindungi hak anak,” pungkasnya.

1.HAN: Semoga Jember Benar-Benar Layak Anak

2.HAN: Masih Dibayang-bayangi Kekerasan

3.HAN: Harus Sensitif dan Responsif

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid Winardi
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto
Grafis: Boby Pramudya.

Reporter :

Fotografer :

Editor :