HAN: Masih Dibayang-bayangi Kekerasan

DWI SISWANTO/RADAR JEMBER HARUS CERIA: Siswa SDN Gebang 5 sedang mengisi waktu istirahatnya dengan permainan kids athletic. Sebagai generasi emas, anak-anak harus mendapat perhatian dan perlakuan khusus. Lebih-lebih di era digital seperti saat ini. Jangan hanya sekolah tapi orang tua dan lingkungan harus peka dan responsif terhadap kebutuhan mereka.

RADARJEMBER.ID-Kekerasan anak masih kerap terjadi setiap bulannya di Kabupaten Jember. Baik kekerasan fisik, psikis, hingga seksual. Di bulan Juli 2018 saja, Pusat Perlindungan Terpadu (PTT) mencatat ada lima anak yang mengalami kekerasan.

IKLAN

Satu anak berhadapan dengan hukum, dua anak mengalami kekerasan seksual, dan dua anak mengalami kekerasan psikis. Sedangkan kekerasan yang dialami oleh anak sejak Januari hingga bulan Juni, tercatat ada 33 korban.

* SUMBER : PUSAT PERLINDUNGAN TERPADU (PPT) JEMBER

Jumlah korban lebih sedikit dari jumlah kekerasan yang dialami. Sebab, satu korban bisa mengalami dua hingga tiga kekerasan. Mulai dari kekerasan fisik, psikis, hingga seksual. Bahkan, bila di total sesuai dengan jenis kekerasan, ada 52 kasus kekerasan yang dialami oleh anak-anak.

Sembilan kekerasan fisik, 20 kekerasan psikis, 20 kekerasan seksual, dan tiga kekerasan lainnya. “Kekerasan psikis itu misal anak tertekan karena orang tua yang bertengkar,” kata Solihati, ketua pusat studi informasi dan hak-hak anak Jember.

Menurut dia, anak-anak rentan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa. Bahkan orang terdekat sendiri, seperti keluarga. “Anak mengalami kekerasan psikis karena orang tuanya cerai, lalu berebut kepengasuhan anak,” tambahnya.

Dosen Universitas Islam Jember itu menambahkan, kekerasan seksual dan fisik masih kerap terjadi pada anak-anak. Semua ini terjadi karena semakin pudarnya kepedulian lingkungan sekitar terhadap anak.

“Misal sekarang ada anak kecil yang naik sepeda motor, tidak ada yang menegur,” paparnya. Hal ini menunjukkan kurangnya kepedulian warga sekitar untuk mencegah kekerasan yang terjadi pada anak.

Seharusnya, mereka diberi pemahaman agar ikut peduli tentang keamanan anak. Yakni melakukan sosialisasi. Sebab, kalau di tingkat kecamatan, yang hadir hanya segelintir orang. Perlu turun langsung pada mereka.

Bayang-bayang kekerasan terhadap anak itu juga diakui oleh komunitas peduli anak Jember. Setiap kali melakukan sosialisasi di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan konsultasi, mereka  mendapatkan anak yang mengalami kekerasan. Hanya saja, mereka tidak berani berbicara.

Ada potensi kekerasan seksual di sekolah, yang dilakukan di dalam maupun dari pihak luar. Selain itu, tak semua sekolah mau terbuka terhadap kekerasan yang dialami oleh siswanya. “Ada juga sekolah yang tidak mau menerima sosialisasi dan konsultasi kekerasan seksual di sekolah,” kata Sri Praptianingsih, ketua komunitas.

Sebab, aku dia, sejak dirinya melakukan sosialisasi dan konsultasi ke beberapa sekolah, selalu menemukan tindakan kekerasan seksual. Untuk itulah, perlu sosialisasi pada semua pihak agar kekerasan itu tidak terus berlanjut.

1.HAN: Semoga Jember Benar-Benar Layak Anak

2.HAN: Masih Dibayang-bayangi Kekerasan

3.HAN: Harus Sensitif dan Responsif

Reporter : Bagus Supriad
Editor : MS Rasyid Winardi
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto
Grafis: Boby Pramudya.

Reporter :

Fotografer :

Editor :