Dangkal, Perahu dan Sekoci Sulit Keluar

Jumai/Radar Jember KANDAS: Salah satu perahu yang baru pulang melaut ini kandas setelah melewati muara Sungai Bedadung yang airnya surut sejak pagi hingga siang.

RADARJEMBER.ID- Selain dituntut harus bisa melintas di Plawangan Pancer, Nelayan Puger juga dipaksa harus bisa masuk ke TPI (tempat pelelangan ikan) dengan nyaman. Kenyataannya, setelah air laut surut, maka nelayan yang menggunakan perahu dan sekoci harus bersusah payah agar bisa keluar dari muara yang dangkal.

IKLAN

Seperti beberapa perahu dan sekoci milik nelayan yang baru pulang melaut ini. Mereka harus berjuang agar bisa mengeluarkan perahunya saat akan pulang. “Banyaknya perahu yang kandas karena sejak pagi hingga siang, air laut mulai surut,” ujar Hambali, 55, nelayan asal Puger Wetan kepada radarjember.id.

Memang, kata dia, kadang ada kendala bagi nelayan, perahu akan kandas saat air surut. Baik saat akan pulang, maupun ketika hendak pergi melaut. Padahal, nelayan yang akan pulang harus berjuang agar bisa lolos saat melintas di Plawangan.

Tetapi, lanjut dia, nelayan juga masih menghadapi masalah, yakni perahu dan sekocinya kandas di muara Sungai Bedadung. Sebab, jika air laut surut, muara sungai akan menjadi dangkal. “Untuk dilewati satu perahu dan sekoci saja cukup kesulitan”, ujarnya.

Jika perahu kandas, kata dia, maka seluruh ABK harus terjun ke sungai untuk menarik perahu dengan tali berukuran besar. Ini tidak hanya dialami oleh nelayan yang akan merapat ke dermaga.

Sementara nelayan yang akan keluar (berangkat melaut), lanjutnya, juga direpotkan jika air laut sedang surut. Mereka harus antre di sekitar muara Sungai Bedadung. Ketika air mulai pasang, maka nelayan yang menggunakan perahu dan sekoci baru bisa lancar.

Padahal, kata dia, muara Sungai Bedadung beberapa tahun lalu juga pernah dilakukan pengerukan dari pusat. Tetapi, kenyataannya sekarang muara ditutupi lagi dengan pasir kiriman dari laut. “Kalau setiap hari air laut surut, maka nelayan juga direpotkan”, jelasnya. Sebab, setelah keluar dari Plawangan, nelayan masih harus bersusah payah agar bisa lolos dari dangkalnya muara.

Reporter & Fotografer: Jumai
Editor : M. Shodiq Syarif
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.

Reporter :

Fotografer :

Editor :