Jadi Ajang Silaturahmi hingga Sarana Melawan Dimensia

Eksistensi Parapen Band, Grup Musik yang Berisi Para Pensiunan

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Mungkin inilah ungkapan bagi mereka yang tergabung dalam grup musik Para Pensiunan atau yang disingkat Parapen Band. Walau usianya sudah senja, tapi permainan musik mereka justru kian bergelora.

TETAP EKSIS: Parapen Band tampil luar biasa untuk menghibur para lansia pada Festival Lansia di Alun-Alun Jember, pekan kemarin. Walau usia tak lagi muda, mereka tetap energik bermusik.

RADAR JEMBER.IDDon’t let me down, don’t let me down, don’t let me down, don’t let me down. Syair pembuka Dont Let Me Down yang dipopulerkan The Beatles tersebut membuat suasana kian riuh. Para lansia yang awalnya duduk-duduk saja di depan panggung Festival Lansia, di Alun-Alun Jember, mulai berdiri.

IKLAN

Mrt Gatot Suwito, sang vokalis band, menyanyi cukup energik. Bahkan, lantunan suara berpadu hentakan musik itu memikat hati Kamto. Lansia itu ikut bernyanyi bersama. Mimik Kamto terlihat semringah. Gerak tubuhnya yang beriringan suara musik semakin membuat suasana riuh. Kamto bersama para lansia yang lain mulai menari bersama. Bahkan, ada yang membentuk barisan line dance.

Kesenangan para lansia tidak sampai di satu lagu saja. Tembang poprock yang legendaris dari The Beatles kembali dibawakan. Romansa nostalgia seperti kembali muda menggugah kenangan mereka. Para lansia itu serasa lupa bahwa usianya lebih dari 60 tahun. Band yang berisi lansia tersebut, nyatanya bukan terbentuk karena adanya Festival Lansia. Grup band yang berisi enam orang ini sudah berdiri sejak 2011 lalu. “Parapen itu kepanjangannya Para Pensiunan, karena kami semua adalah para pensiunan,” ujar Budiarto, salah satu personel Parapen Band.

Anggota Parapen Band lainnya adalah Sunyono, 75 tahun. Pemegang gitar bas itu adalah pensiunan BKKBN Jember. Kemudian ada Budiarto, 62 tahun, gitaris pensiunan Camat Tanggul dan Mrt Gatot Suwito, 63 tahun, vokalis pensiunan perhotelan. Dua personel lainnya adalah Hartono, 65 tahun, gitaris, pensiunan Universitas Jember (Unej), dan Yoyok, 65 tahun, drumer, pensiunan Unej, juga Joni, 63 tahun, pemain keyboard pensiunan pegawai kecamatan. Walau berisi enam orang sebagai personel inti, kata Budiarto, terkadang juga dibantu kehadiran Kamto yang begitu menghibur dan meramaikan suasana.

Budi menjelaskan, semua anggota Parapen Band itu awalnya hanya kenal saja dan tidak begitu dekat. Namun, kala berkumpul-kumpul sesama lansia dan ada sesi hiburan, mereka yang dulu pemusik itu selalu tampil. Dari sana, kedekatan mulai terbentuk. Hasrat menyalurkan hobi bermusik pun akhirnya tercapai di usia yang tak lagi muda. “Motivasi kami, Parapen Band adalah untuk meningkatkan silaturahmi saja, daripada bengong di rumah,” ujarnya.

Dia mengaku, setelah purna tugas sebagai abdi negara, ada beberapa masalah dan beban mental terjadi. Katanya, bagi seorang pejabat yang telah pensiun, hal yang ditakutkan adalah terkena post power syndrome. Sebab, pejabat yang dulu dihormati dan punya anak buah, tiba-tiba jadi orang biasa. Saat terkena sindrom seperti itu, bisa jadi para lansia lebih memilih berdiam diri di rumah. “Agar tidak kena sindrom itu, ya kumpul, happy bareng,” katanya.

Bermain musik, tambah Budiarto, juga meminimalisasi pikun. Sebab, lewat bermusik, secara tidak langsung melatih mereka untuk menghafal lagu, baik nadanya maupun syairnya. “Kami sudah tua, sudah jadi kakek. Biar gak pikun, ya main musik,” ujarnya.

Walau telah lansia, semangat bermusik mereka masih oke dan tak kalah dengan anak muda. Bahkan, saat mencari tempat latihan, grup band ini tidak pilih-pilih seperti di studio musik. Gudang ataupun garasi sering mereka pakai menjadi tempat latihan. “Kalau latihan, kami sering pakai gudang di rumahnya Kamto di daerah Kebonsari,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih