Kreasi Mahasiswa Polije di Bidang Peternakan Bikin Aplikasi dan Alat Pendeteksi Telur Busuk

Bagus Supriadi/Radar Jember DUA ALAT PETERNAKAN: Dayu Agastya Rani bersama dosennya, Ely Mulyadi, menunjukkan aplikasi Tigan dan alat pendeteksi telur busuk.

RADARJEMBER.ID-Namanya aplikasi tigan, aplikasi yang memudahkan para peternak untuk menjual telur ayam. Tigan merupakan bahasa Jawa, maknanya telur. Dayu bersama tiga temannya membuat aplikasi ini setelah melakukan survei pada beberapa peternak di Jember.

IKLAN

Dayu menemukan peternak masih belum memiliki alat untuk mengatur penentuan harga. Mereka menjual hasil panen ternak telurnya berdasarkan harga pasar. Tanpa mengetahui berapa hasil yang diperoleh dari penjualan itu.

“Aplikasi tigan ini untuk menentukan harga telur,” kata perempuan berkacamata tersebut. Menurut dia, butuh waktu lima bulan untuk membuat aplikasi itu bisa digunakan. Waktu terlama adalah melakukan survey pada para peternak.

Sebab, harus datang pada beberapa peternak di Jember, ke UPT peternakan dan lainnya. Aplikasi berbasis desktop itu tanpa harus tersambung dengan internet. Namun bisa digunakan melalui laptop.

Saat menggunakan aplikasi itu, para peternak akan diminta untuk mengisi jumlah ayam yang dimiliki. Kemudian, mengisi jumlah ayam afkir. “Nanti akan terhitung biaya operasional yang dibutuhkan,” ujarnya.

Sebab, setiap peternak menjual hasil panen telur, tidak menghitung secara rinci berapa biaya yang sudah dikeluarkan. Misal panen ternak telur bisanya dua sampai tiga hari. “Namun itu sering tidak dihitung berapa biaya operasionalnya,” tutur mahasiswi semester V tersebut.

Aplikasi itu akan menghitung Break Event Point (BEP) atau titik impas sehingga peternak bisa melihat nilai untung dan rugi. “Ketika menjual hasil telurnya, peternak bisa melihat nilai keseimbangan, tidak ada keuntungan atau kerugian,” paparnya.

Dayu menambahkan misal dalam satu kali panen peternak bisa menghasilkan dua ton telur. Telur yang dia dapat sebanyak 2.000 kilogram. Ketika menggunakan aplikasi tigan, maka akan terbaca titik impasnya. Peternak bisa menentukan hendak menaikkan harga berapa.

Misal, BEP sebanyak Rp 25.000, sedangkan harga yang dikeluarkan pemerintah Rp 26.000. Maka peternak masih bisa mendapatkan hasil seribu rupiah per kilogram. Namun sebaliknya, bila BEP Rp 25.000, sedangkan harga pasaran Rp 24.000, maka sudah jelas akan mengalami kerugian.

Aplikasi yang dibuat oleh Dayu tersebut sebenarnya sudah bisa digunakan oleh para peternak. Sebab, cukup mudah. Hanya saja, tak banyak peternak yang mampu memahami teknologi. “Banyak yang belum bisa mengaplikasikan komputer atau laptop,” ujarnya.

Padahal, lanjut  dia, sekarang sudah masuk era digital. Berbagai inovasi teknologi ditemukan untuk memudahkan kinerja manusia. “Aplikasi ini siap pakai. Namun masih belum ada yang mencoba,” tambahnya.

Selain aplikasi berbasis desktop, mahasiswa Polije juga membuat alat pendeteksi telur. Yakni melihat apakah kualitas telur itu busuk atau tidak. Alatnya cukup sederhana karena masih berupa prototype.

“Dengan alat ini, telur bisa dilihat apakah busuk atau tidak,” tambah Ely Mulyadi, ketua startership atau perkumpulan start up Polije. Caranya, telur tinggal dimasukkan dalam alat, kemudian akan terbaca oleh sensor apakah busuk atau tidak.

Alat itu didesain agar memiliki  kepekaan pada gambar. Telor busuk biasanya ada gambar hitam di dalamnya, dan mampu terdeteksi oleh pembaca. Sehingga ketika telur sudah dimasukkan kea lat, bisa keluar secara terpisah.

Pria yang akrab disapa Ely itu menilai alat itu masih belum bisa diterapkan secara professional. Berbeda dengan aplikasi tigan yang sudah bisa dipakai. Sebab, masih berupa prototype yang perlu banyak pembenahan.

Ely menambahkan kemajuan teknologi itu tidak diimbangi dengan pemahaman masyarakat untuk menggunakan teknologi. Meskipun sudah ada aplikasi yang bisa memudahkan peternak. Namun tidak semuanya menerima karena tidak tau.

“Perlu edukasi terus-menerus bagi masyarakat,” imbuhnya. Menurut dia, warga yang sudah berumur 40 tahun ke atas banyak yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Sedangkan yang berumur di bawah itu masih terus beradaptasi. Untuk itu, inovasi teknologi untuk memudahkan pekerjaan manusia harus diimbangi dengan pemahaman warga.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi

Editor Bahasa: Yerri A Aji

Editor : M. Shodiq Syarif

Reporter :

Fotografer :

Editor :