Ridwan Usman Syaifulloh, Mantan Napi yang Rintis Karier Desainer

Lapas Kelas II A Jember for Radar Jember TUNJUKKAN KARYA: Ridwan Usman Syaifulloh, saat di Lapas Kelas IIA Jember.

RADARJEMBER.ID- “Perkenalkan, nama saya Ridwan Usman Syaifulloh. Saya mantan napi dengan pasal 374 KUHP, yakni penggelapan dalam jabatan,” ujar Ridwan saat awal memperkenalkan diri kepadaradarjember.id. Ridwan begitu mantap dan tidak ragu memperkenalkan diri berikut kasus hukum yang menjerat dirinya. Namun saat itu, tidak banyak kesempatan yang didapat oleh radarjember.id untuk berbincang dengan Ridwan. Maklum saja, pagi itu (12/08) Ridwan dan dua rekannya sedang sibuk mempersiapkan diri mengikuti gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC). Saat ini, istilah napi mulai diganti dengan warga binaan.

IKLAN

Barulah beberapa keesokan harinya,radarjember.id berkesempatan berbincang santai dengan Ridwan, sembari menyeruput kopi hangat di salah satu kafe di Jember. “Saya saat ini sedang dalam masa pembebasan bersyarat (PB), selama empat bulan mulai Mei kemarin. Jadi selama di luar (lapas), saya harus absen atau lapor selama sekali dalam sebulan,” tutur Ridwan lalu tersenyum mengawali perbincangan.

Pertengahan tahun lalu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Ridwan harus berurusan dengan hukum. Perkara itu dimulai saat dia dipercaya untuk memegang uang oleh tempatnya bekerja kala itu, untuk sebuah kegiatan. Sebagian dari uang yang dipercayakan, digunakan Ridwan untuk keperluan pribadi. “Ini juga untuk pembelajaran berharga bagi saya untuk selalu mensyukuri setiap rezeki yang ada,” ujar Ridwan.

Sebenarnya, tempat bekerja Ridwan kala itu sempat memberi kelonggaran selama sebulan untuk mengganti uang yang digelapkan tersebut. Sebagian sudah dia cicil, namun atasannya menilai Ridwan lambat hingga kemudian melaporkannya ke Polsek Kaliwates. Setelah beberapa kali diperiksa, Ridwan akhirnya ditahan di Polres Jember.

Sejak awal terjerat masalah pidana, Ridwan langsung memilih untuk bersikap kooperatif. Karena itu, proses hukum yang dilaluinya –baik saat di kepolisian maupun persidangan- berlangsung cukup cepat. Saat ditahan misalnya, Ridwan dipercaya untuk menjadi tahanan pendamping (tamping) karena dinilai berkelakuan baik. “Saya sejak awal sudah berusaha untuk ikhlas. Yang ada di pikiran saya cuma ibu dan nasib saya di JFC,” tutur bungsu dari empat bersaudara ini.

Ridwan sedikit beruntung karena sejak awal terjerat kasus, rekan-rekannya di JFC selalu mendukungnya. Selain bekerja di salah satu jaringan ritel nasional, Ridwan selama beberapa tahun terakhir juga menyalurkan passionnya di bidang fashion ke JFC. Sejak awal ditahan, seluruh rekan-rekannya di JFC –mulai dari staf paling bawah hingga Dynand Fariz- bergiliran menjenguk Ridwan. “Saya bersyukur mereka tidak melupakan saya,” tutur pria kelahiran Malang, 4 November 1988 ini.

Karena dinilai cukup kooperatif, Ridwan mendapatkan vonis satu tahun penjara. Dan itu pun tidak dijalani keseluruhannya karena dia juga mendapatkan masa pembebasan bersyarat selama 4 bulan. Diakui Ridwan, kondisi kamar yang sempit di dalam lapas memang mengungkung kebebasan dirinya. Namun pemberitaan mengenai praktik pungli di dalam lapas seperti yang terjadi di Lapas Sukamiskin, Bandung beberapa waktu lalu, tidak dialami Ridwan selama di bui di Jember.

“Di sana konsepnya seperti di pesantren. Kita ngaji terus dari setelah Subuh, lalu Duha, hingga jamaah salat Duhur, sembari di sela sarapan. Makanya di sana cepat sekali khatam,” ujar Ridwan. Beberapa napi yang memiliki kemampuan baca Alquran lebih baik, juga menjadi guru ngaji bagi Ridwan dan rekan-rekannya. Termasuk mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Ahmad Sudiono dan Mantan Asisten Pemkab Jember Hasi Madani.

Selama di dalam lapas, Ridwan banyak mengisi waktunya dengan membuat desain busana. Tercatat, Ridwan sudah menghasilkan 46 desain busana. Tak lupa, setiap karya yang dihasilkan selalu ditulis lokasi dan tanggalnya. “Kamar 9 Blok A,” begitu Ridwan dengan jelas mengingat kamarnya selama di Lapas Kelas IIA Jember.

Beberapa bulan sebelum gelaran JFC, muncul wacana agar Lapas Kelas II A Jember ikut serta dalam JFC. “Ternyata dulu Lapas Jember sudah pernah ikut dua kali dalam penyelenggaraan JFC. Tapi terhenti tahun 2009,” ujar Ridwan.

Tim JFC yang presentasi di lapas, sempat berupaya mencari Ridwan. “Tapi waktu itu tidak ketemu, karena yang namanya Ridwan di sana banyak,” ujar suami dari Laila Afidan ini.

LBH Masyarakat dan Garwita Institute – dua NGO yang selama ini rutin melakukan pendampingan bagi warga binaan Lapas Jember – adalah yang membantu keikutsertaan warga binaan dalam JFC tahun 2018. Ridwan ditunjuk sebagai desainer untuk tiga karya busana yang akan ditampilkan. Pengerjaan dilakukan secara gotong-royong oleh belasan warga binaan, dengan dibantu Garwita Institute. “Yang banyak belanja barang di luar adalah Garwita,” terang Ridwan.

Adapun untuk model, selain Ridwan, ditunjuklah dua warga binaan lain. Mereka adalah Ismail –yang masih menyisakan satu tahun masa kurungan dari total vonis 4 tahun- serta Rudi Tri Wisaksono, yang masa pemidanaannya tersisa satu bulan lagi.

Meski sudah bebas bersyarat sejak 25 Mei 2018 lalu, Ridwan masih bersemangat untuk datang ke lapas, untuk gotong-royong mengerjakan pembuatan karya yang akan ditampilkan di JFC. Karyanya pun tidak main-main. Seperti busana dengan konsep bintang yang dikenakan Ridwan, memiliki total bobot antara 40 – 50 kilogram. “Bagian paling sulit adalah pengelasan. Karena berada di dalam (lapas), jadi mungkin kualitas pengelasannya sedikit beda dengan tukang las yang ada di luar,” tutur Ridwan.

Total, Ridwan sudah lima kali mengikuti JFC. Namun dari jumlah itu, keikutsertaannya dalam JFC tahun ini adalah yang paling berkesan. Kesan itu semakin mendalam karena keberangkatannya mengikuti JFC bersama dua rekan, dilepas langsung oleh Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Timur, Susi Susilawati. “Pak Agung (pegawai lapas), misalnya. Dia membantu banget ketika kita tampil. Tidak mau kita capek saat kita ikut JFC. Terasa sekali kebersamaannya,” kenang Ridwan.

“Saya sampai tidak tidur semalaman. Baru selesai jam lima pagi. Makanya waktu akan perform, saya sempat ketiduran di atas sepeda motor selama 10 menit sambil menunggu tampil,” lanjut Ridwan yang kini bekerja di sebuah restoran ayam di Malang.

Selain mengerjakan karya busana untuk lapas, dalam JFC 2018, Ridwan juga dipercaya untuk mengerjakan kostum yang dikenakan Dynand Fariz. Mengerjakan busana yang akan dikenakan pencetus JFC, Ridwan tak mau main-main. “Detail banget karena tidak boleh dilem tembak, semuanya harus dijahit tangan,” kenang Ridwan.

Pihak Lapas Kelas IIA Jember pun, sangat terkesan dengan keikutsertaan mereka di JFC tahun ini. “Pak Dadang (pejabat lapas) sampai berpesan, agar jangan kapok-kapok kalau akan direpotin lagi karena mungkin tahun depan, Lapas Jember ingin ikut JFC lagi,” ujar Ridwan.

Permintaan itu spontan disanggupi oleh Ridwan. Dengan senang hati, Ridwan berjanji akan membantu warga binaan lapas yang ingin berkarya. Beberapa bulan mendekam di dalam lapas, Ridwan seperti menemukan keluarga baru. “Makanya ketika keluar, saya meninggalkan nomor HP saya kepada petugas. Jadi ketika ada warga binaan yang bebas, mereka langsung menghubungi saya. Kita yang sudah bebas, masih saling kontak-kontak,” aku Ridwan.

Saat ini, sembari bekerja di restoran ayam, Ridwan juga sedang merintis usaha konveksi dengan mempekerjakan dua orang karyawan. “Jadi gaji yang saya terima, saya gunakan untuk membayar karyawan saya,” tutur penggemar Rob Evan, model dari Amerika Latin ini.

Dunia fashion memang sudah lama jadi ketertarikan Ridwan. Pada 2016 misalnya, Ridwan sudah dipercaya ikut menjadi tim kreatif produksi kostum yang dikenakan beberapa peserta kontes kecantikan di ajang internasional. Mereka antara lain Putri Indonesia 2016 Kezia Warouw (di ajang Miss Universe), Ika Pertiwi (di ajang Miss Grand International), Intan Alertino (ajang Miss Tourism), serta Digna Faradiba (Miss Supranasional).

Ridwan pun kini juga aktif di media sosial. Setiap aktivitas maupun karyanya, kerap ia unggah ke akun media sosial miliknya. Tanpa malu, Ridwan sering membubuhkan tanda pagar (tagar/hashtag) berupa “mantan napi”. Ada pesan khusus yang ingin disampaikan Ridwan kepada masyarakat melalui langkah tersebut.

“Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat, bahwa mantan napi juga bisa menghasilkan karya yang positif untuk masyarakat. Kalau ada mantan napi di sekitar Anda, rangkul saja. Jangan dikucilkan,” pungkas Ridwan.

Reporter :Adi Faizin
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :