Wisata Kuda, Hiburan Baru di Pantai Pancer

Jumai/Radar Jember HIBURAN BARU: Kuda wisata milik warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger ini ternyata cukup menghibur pengunjung wisata Pantai Pancer Puger.

Jember-Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menikmati deburan ombak pantai selatan dengan cara yang berbeda? Bukan hanya sekadar menikmati pemandangan, namun juga bisa berkeliling pantai dengan cara yang berbeda.

IKLAN

Inilah yang kini tersaji di sejumlah pantai di kawasan Jember Selatan. Yakni, menikmati pantai dengan cara menunggang seekor kuda.

Seperti suasana pantai wisata Pancer Puger, Desa Puger Kulon, Puger. Tiap akhir pekan, pemandangan pantai ini agak berbeda. Sebab, kini di sana ada belasan kuda yang menghibur masyarakat dan pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai dengan suasana lain.

”Kuda-kuda ini disewakan untuk bisa dinaiki oleh pengunjung pantai. Lumayan. Seru naik kuda di pinggir pantai. Takut-takut gimana gitu,” ucap Irma Halimah, 30, warga Desa Balung Lor, Kecamatan Balung Sumberejo, saat ditemui usai menunggang kuda di pinggir pantai itu.

Untungnya, saat berkeliling itu memang ada petugas yang menuntun kudanya berkeliling pantai. Meskipun harus membayar, namun dia puas dengan berkeliling cukup lama di pantai yang juga gratis dikunjungi itu.

Ternyata, sewa menunggang kuda ini cukup murah, yakni Rp 15 ribu untuk sekali menunggang kuda. Waktunya relatif, yakni yang penting berkeliling mengitari pantai di sana. “Biasanya sekitar 10-15 menit. Tergantung. Kalau ramai ya 10 menitan,” tutur Wiwitono, warga Desa Tamansari, Wuluhan, yang juga sebagai pemilik kuda wisata di Pancer Puger ini.

Dirinya mengatakan, kegiatan kuda wisata ini diakuinya masih belum beberapa lama, yakni sekitar dua bulanan. Awalnya, dia bersama dengan rekan-rekannya mengisi hiburan di sebuah tempat wisata di Jember. “Namun, karena ada tarikan cukup besar, teman-teman keberatan. Jadinya pindah ke pantai ini,” jelas bapak tiga anak ini.

Meskipun untuk bisa ke pantai harus menempuh perjalanan cukup jauh. Biasanya dia membawa kudanya ke pantai dengan dituntun. “Jadi, saya naik sepeda dengan kuda di samping,” jelasnya. Perjalanan yang cukup jauh ini dilakukan setiap akhir pekan, di pagi hari dan pulang sore harinya dengan kembali dituntun.

Menurutnya, dia bersama dengan belasan pemilik kuda di Jember ini memanfaatkan kuda menjadi kuda wisata sebagai selingan. “Kalau saya bersama dengan teman-teman ini memiliki kesenian Jaran Kencak,” jelasnya. Jadi, kuda-kuda yang dirawatnya ini sebenarnya untuk menghibur masyarakat dengan seni tarian kuda tersebut.

Tetapi, karena memang saat ini tanggapan sedang turun, sehingga untuk mengisi waktu dan memanfaatkan kuda yang dimiliki, dia dan rekan-rekannya memanfaatkan menjadi kuda wisata ini. Terkait pendapatan, juga diakuinya lumayan, termasuk jika dibandingkan dengan tanggapan Jaran Kencak.

Untuk sekali tanggapan Jaran Kencak, sebenarnya tarifnya cukup besar, yakni sekitar Rp 800 ribu. “Tapi kan harus dibagi dengan yang lain. Termasuk pemain musik, penari, dan lainnya,” ucap Wiwitono.

Sementara, untuk kuda wisata penghasilannya untuk personal. Kecuali kudanya dititipkan kepada orang lain, maka bisa berbagi dengan yang nuntun kuda.

“Tidak mesti. Kalau sedang ramai bisa Rp 200-300 ribu sehari. Kadang juga hanya Rp 50 ribu,” paparnya. Oleh karena itu, semuanya sama-sama menyenangkan jika dilakukan dengan ikhlas. Termasuk ikhlas membersihkan kotoran kuda yang mungkin berceceran di pinggir pantai.

Dirinya mengatakan, tentu nilai tersebut tidak akan setara jika dibandingkan dengan pengorbanan perawatan kuda. Diakuinya, untuk setiap hari merawat kuda tersebut, dibutuhkan biaya Rp 30 ribu hanya untuk pakan saja. Belum lagi dengan kebutuhan lainnya. Namun, diakuinya tambahan tiap akhir pekan ini lumayan.

Selain untuk Jaran Kencak dan kuda wisata, dia mengaku bersama rekan-rekannya memiliki kesibukan lainnya. Yakni yang utama tentu jual beli kuda. “Jadi, kebanyakan memang untuk jual beli,” ucap pria yang kini memiliki tiga kuda peliharaan ini. Dia mengaku masih akan terus menggeluti kuda wisata ini setiap akhir pekan di pantai-pantai di Jember, termasuk di wilayah pantai Payangan.

Untuk kuda wisata ini, diakuinya, bukan hanya di Payangan saja. Namun, dia bersama rekan-rekannya biasanya berbagi, yakni di Payangan dan di Pancer, Puger. Sebab, kedua wisata ini, selain gratis, juga cukup ramai pengunjung setiap akhir pekan. Dirinya pun berharap bukan hanya semakin mencintai wisata saja, tetapi juga bisa mencintai lingkungan dan alam sekitarnya. (c2/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :