Pengalaman Orchida Dianita di Taiwan;Penduduk Disiplin, Percaya Diri di Tengah Dominasi Tiongkok

BERBAGI PENGALAMAN: Orchida saat berada di Taiwan

RADARJEMBER.ID – Merasakan pengalaman menuntut ilmu di salah satu kampus terbaik dunia yang ada di Taiwan, menjadi pengalaman tersendiri bagi Orchida Dianita. Di tengah kian kuatnya dominasi Tiongkok dalam percaturan global, dia melihat warga Taiwan masih tetap percaya diri dengan jati diri bangsanya.

IKLAN

Disiplin dan maju. Dua kata itu menjadi sedikit gambaran yang mengesankan bagi Orchida Dianita tentang bangsa Taiwan. Selama setahun terakhir, gadis kelahiran Jember ini berkesempatan menuntut ilmu di salah satu universitas terbaik dunia yang ada di Taiwan.

“Budaya disiplinnya sangat tinggi, makanya tidak ada istilahnya orang yang suka menyerobot antrean. Tertib lah,” tutur alumnus SMAN 1 Jember tahun 2007 ini.

Orchida berkesempatan berkuliah di Master Degree Industrial Management di National Taiwan University of Science & Technology (NTUST) Taiwan setelah menyelesaikan Program double degree S2 Teknik Industri UGM. Sebelumnya, Orchida menyelesaikan jenjang pendidikan sarjananya di Jurusan Teknik Mesin & Industri, Program studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, UGM. Orchida mendapatkan beasiswa penuh dari NTUST Taiwan.

Kampus NTUST berada di Taipei yang merupakan ibukota Taiwan. Di jajaran kampus dunia, NTUST tahun ini menduduki peringkat 597 sebagai kampus terbaik di dunia versi Webometrics. Sebagai gambaran, kampus terbaik di Indonesia, yakni UI dan UGM masing-masing menduduki peringkat 888 dan 924 menurut versi yang sama.
Sebagaimana mahasiswa asing pada umumnya, Orchida juga sempat mengalami adaptasi kultur di Taiwan. Beruntung, orang-orang Taiwan cukup ramah terhadap warga asing. “Jadi, kalau di sana, jangan ragu untuk bertanya jika ada hal-hal yang tidak dimengerti. Pemahaman bahasa Mandarin dasar sangat berguna, misal ketika kita mau membeli makanan di jalan,” ujar Orchida.

Sebagai minoritas muslim, Orchida juga sempat merasakan sedikit kesulitan untuk mencari makanan halal di Taiwan. “Tetapi ada beberapa restoran yang sudah berlabel halal atau restoran vegetarian yang menunya aman untuk dikonsumsi,” kata putri pasangan Soetanto Abdoellah dan Denna Eriani Munandar ini.

Di Taiwan, ada kebiasaan makan di tempat umum yang berbeda dengan di Indonesia. “Mayoritas self-service. Selain kita mengambil sendiri, setelah makan, kita juga membersihkan sendiri sisa makanan kita. Ini yang mungkin beda di Indonesia, sebagian besar masih dilayani oleh pramusajinya,” cerita Orchida.

Salah satu contoh bentuk disiplin warga Taiwan tercermin ketika berada di eskalator. “Mereka selalu akan menepi ke sebelah kanan, dan memberi space di sebelah kiri untuk orang-orang yang terburu-buru atau ingin mendahului di eskalator,” ungkap Orchida.

Kebiasaan positif dari warga Taiwan adalah kegemarannya berolahraga. Bahkan, kerap kali warga yang sudah berusia lanjut masih aktif berolahraga. “Makanya, kita juga sering ketemu manula yang masih aktif dan kuat naik gunung,” tutur pecinta traveling ini.

Salah satu kesulitan yang akan dihadapi warga Indonesia saat pertama kali tiba di Taiwan adalah menyetir kendaraan. Negara yang sebagian besar wilayahnya ada di Pulau Farmosa itu menerapkan sistem kemudi di sebelah kiri. Ini berbeda dengan di Indonesia yang menerapkan sistem kemudi di sebelah kanan. “Oleh karena itu, bagi WNI memang disarankan untuk tidak langsung mengemudi dulu kalau masih awal-awal di Taiwan,” tutur gadis yang berulang tahun setiap tanggal 31 Desember ini.
Sebagai mahasiswa teknik, kemajuan sistem transportasi di Taiwan juga tidak luput dari pengamatan Orchida. Jika Indonesia baru mulai mengembangkan sistem Mass Rapid

Transportation (MRT) sebagai solusi untuk transportasi umum, berbeda halnya dengan Taiwan yang sudah lama mengembangkannya. Kemajuan MRT di Taiwan, selain didukung oleh manajemen perusahaan yang cukup baik, juga ditunjang oleh sistemnya yang terintegrasi dan teknologi modern.

“MRT di Taipei ini cukup bagus karena dirawat berkala, sehingga meminimalisasi terjadinya breakdown dan keterlambatan. Makanya, on-time performance nya nyaris 100 persen,” tutur Orchida.
Majunya manajemen MRT ini juga terlihat dari pola manajemen SDM. Karyawannya memiliki kebanggaan terhadap perusahaan yang cukup tinggi. “Turn over di perusahaan tersebut terbilang rendah. Warganya juga punya citizen pride terhadap sistem MRT ini,” jelas Orchida.

Majunya sistem MRT di Taiwan juga didukung oleh kebiasaan masyarakat setempat yang lebih senang bersepeda ketimbang menggunakan kendaraan bermotor. Mahasiswa terbiasa ngontel saat berangkat ke kampus. Ini ditunjang dengan banyaknya ruang terbuka hijau yang menambah kenyamanan kota. “Di area publik juga disediakan sepeda yang bisa disewa,” tutur bungsu dari dua bersaudara ini.

Saat awal berpisah dari Cina daratan, Taiwan yang memiliki nama resmi Republic of China ini dikenal dengan sistem pemerintahannya yang demokratis dan sistem ekonomi pasar bebas. Perpaduan dua sistem ini yang membuat Taiwan menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang cukup maju di dunia. Namun, dalam beberapa dekade terakhir,

China daratan yang juga mulai mengadopsi sistem ekonomi pasar, mulai muncul sebagai salah satu poros kekuatan ekonomi dan politik global.
“Meski demikian, dari pandangan dan interaksi saya dengan mereka, warga Taiwan masih tetap percaya diri terhadap bangsanya. Taiwan tetap bisa membuktikan nasionalismenya yang mengakar di setiap penduduk Taiwan,” ujar Orchida. Walau begitu, solusi damai tetap menjadi opsi yang populer di kalangan warga Taiwan, menyikapi hubungannya dengan China daratan. (*i

Reporter : Adi Faidzin

Fotografer : Orchida for Radarjember.id

Editor: Hadi Sumaraono

Reporter :

Fotografer :

Editor :