Deklarasi Damai Perseteruan Antara Dua Perguruan Silat Pagar Nusa-PSHT

JUMAI/RADAR JEMBER IKRAR BERSAMA: Pimpinan PSHT Puryanto dan Pagar Nusa Muhamad Affan bersama-sama bacakan deklarasi damai di halaman Polsek Jenggawah, kemarin.

JENGGAWAH – Perseteruan antara dua perguruan silat di Kecamatan Jenggawah berakhir. Konflik yang dipicu pelemparan tugu Pagar Nusa (PN) yang diduga dilakukan oleh anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Jenggawah ini tuntas, setelah kedua pimpinan organisasi membacakan ikrar bersama, dan menandatangani deklarasi damai.

IKLAN

Ada sejumlah poin dalam deklarasi damai yang dibacakan secara bersama-sama di halaman Polsek Jenggawah tersebut. Di antaranya, kedua kelompok saling meminta maaf dan memaafkan atas peristiwa yang nyaris memicu bentrok tersebut. Selanjutnya, mereka sepakat akan merawat bersama masing-masing tugu perguruan yang menjadi simbol eksistensi organisasi.

Tak hanya itu, PN dan PSHT juga berjanji tak akan saling menyerang, serta bersedia menjaga kerukunan. Bahkan, kedua organisasi pesilat ini siap membantu aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, serta bakal memproses hukum anggota mereka jika terbukti melanggar ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan.

Ditemui usai deklarasi, Ketua Ranting PSHT Jenggawah Puryanto menampik adanya kabar yang menyebut bahwa anggotanya yang memantik perseteruan itu dengan melakukan pelemparan ke tugu Pagar Nusa. Namun menurutnya, konflik itu terjadi karena sebelumnya ada masyarakat yang mengetahui aksi pelemparan ke tugu PSHT yang berada di Desa Kertonegoro.

Setelah ditelusuri, ada salah seorang saksi yang mengatakan, pelempar tersebut memakai atribut PN. Makanya, anggota PSHT balik menyerang tugu PN, meski sebenarnya pimpinan PSHT sudah berupaya mencegah aksi balasan tersebut. “Tetapi masih ada yang lolos. Dan sebenarnya aksi pelemparan itu hanya ditujukan ke tugu PN, bukan ke orangnya,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya sepakat dengan deklarasi damai tersebut. Sebab, bisa meniadakan permusuhan antarperguruan, sekaligus sebagai ajang silaturahmi para pesilat. “Mudah-mudahan tidak ada perselisihan lagi antara PSHT dengan Pagar Nusa,” harapnya.

Sementara itu, Pembina Pagar Nusa Ranting Jenggawah Muhamad Affan tak menjelaskan secara perinci apa yang menjadi latar belakang perseteruan tersebut. Dia menyebut, konflik yang terjadi lebih disebabkan karena adanya kelompok mayoritas yang memiliki gairah lebih, sehingga menimbulkan kesalahpahaman akibat belum matangnya usia anggota dua kelompok.

Untuk itu, dia berharap, penandatanganan deklarasi damai ini tak hanya menjadi seremoni semata, tetapi juga menumbuhkan sensitivitas dari pengurus ranting maupun cabang masing-masing perguruan untuk menertibkan anggotanya.

Affan menyatakan, ketika ada anggota salah satu perguruan yang melakukan perusakan, maupun persekusi terhadap perguruan lain, maka dirinya berharap ada sanksi tegas yang diberikan oleh pengurus tingkat cabang, sehingga ke depannya peristiwa serupa tak terjadi lagi.

Affan juga optimistis, deklarasi damai ini akan membawa perbaikan terkait komunikasi dua kelompok. Dia menilai, ada keseriusan muspika untuk menuntaskan konflik ini secara damai. Oleh karenanya, pihaknya terus mendorong komitmen muspika untuk menjadikan Jenggawah sebagai daerah percontohan bagi kecamatan lain, karena Pagar Nusa dan PSHT bisa damai. “Semoga ini bisa diikuti oleh kecamatan lain di Jember,” harapnya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Jenggawah Aiptu Ahmad Rinto mengatakan, perseteruan yang dipicu pelemparan tugu tersebut nyaris menjadi ajang baku pukul. Menurutnya, masalah itu dipicu kesalahpahaman antara dua kelompok yang terjadi pada Sabtu (14/7) lalu, sekira pukul 21.30 WIB. Beruntung, polisi yang mendapat laporan segera bertindak untuk meredam amarah anggota dua kelompok yang nyaris bertikai tersebut.

Rinto menjelaskan, setelah saling berkoordinasi, polisi akhirnya berhasil meredam suasana yang sudah memanas. Kala itu, masing-masing kelompok diminta menahan diri, dan menyelesaikan masalah tersebut dengan kepala dingin. Rayuan polisi ini menuai hasil. Selanjutnya, dua organisasi pesilat ini dipertemukan di polsek untuk menyelesaikan secara musyawarah.

Namun, karena masih ada potensi peristiwa itu terulang, kemudian Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Jenggawah mempertemukan kedua kelompok ini di polsek setempat. Mereka diminta membangun kesepakatan damai, serta menjaga kondusivitas wilayah agar peristiwa serupa tak kembali terjadi. “Akhirnya, hari ini mereka sepakat berdamai, dan berjanji tidak saling menyerang, maupun menghancurkan tugu-tugu yang ada di wilayah masing-masing,” terangnya.

Bahkan, sambung dia, kedua pimpinan perguruan silat ini juga sepakat bakal saling merawat tugu yang menjadi simbol esksistensi perguruan mereka. Jika suatu ketika ada anggota dari dua organisasi ini yang nekat memancing kerusuhan dan berimplikasi pidana, maka kasus itu akan diserahkan ke polisi untuk diusut secara hukum. “Apabila ada yang melanggar, maka akan kami tindak secara hukum. Karena merupakan perbuatan pribadi, dan bukan atas nama organisasi,” jelasnya. (mg-4/jum/c2/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :