Ade Sidiq Permana dan Kiprahnya Mendirikan Museum Huruf Jember

Ade Sidiq Permana for Radar Jember PARTISIPASI LITERASI AKSARA: Demi berpartisipasi dalam pengentasan buta aksara, Ade Sidiq Permana bersama sekelompok anak muda Jember membentuk Museum Huruf, serta aktif mengenalkan beragam jenis aksara kepada masyarakat Jember.

RADARJEMBER.ID – Baru didirikan pada 30 Agustus 2017 silam, kehadiran Museum Huruf digadang-gadang sebagai salah satu media literasi aksara bagi masyarakat. Berbagai kegiatan untuk memberikan ilmu mengenai aksara Indonesia dan dunia digelar, salah satunya melalui kelas aksara yang digelar setiap akhir pekan. Saat ini terdapat tiga kelas yang dibuka untuk masyarakat umum, yaitu aksara Jawa, Arab Pegon, dan Jepang.

IKLAN

Kehadiran Museum Huruf tak lepas dari tangan Ade Sidiq Permana. Nama Ade Sidiq Pramana bukanlah baru didengar di sektor kebudayaan. Sebelumnya, dirinya aktif di Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Probolinggo.

Sejak 2008 silam, dirinya sudah terjun ke dalam bidang kurasi museum, termasuk membidangi kehadiran museum di Probolinggo. “Mulai yang sudah berdiri seperti Museum Probolinggo dan Museum Dr Moh Saleh, hingga yang sedang diinisiasi seperti Museum Kecap,” terang pria kelahiran 19 November 1979 tersebut.

Tak hanya itu, Ade juga aktif sebagai kurator Museum Tembakau Jember serta terjun dalam Komunitas Kawan Museum Probolinggo. Belum lama ini, dirinya juga mendirikan sebuah lembaga advokasi berjuluk Institut Museum dan Cagar Budaya Nasional. “Kami ingin menggaet semua potensi SDM untuk lebih leluasa mengadvokasi daerah-daerah yang tidak punya,” tegasnya.

Ketika masih dinas di Probolinggo, ayah dua putra dan putri ini sukses menginisiasi pembangunan museum, namun tergelitik karena belum ada museum di tempat kelahirannya. Oleh karena itu, dirinya bersama sekelompok anak muda Jember mencoba membuat konsep matang pembangunan museum.

“Awalnya kita selesaikan project proposal untuk museum Jember, semua sudah dirancang sampai ke bentuk bangunan dan koleksinya. Kami sudah serahkan pada Bupati Jember, namun hingga saat ini masih belum ada tindak lanjut. Karena tidak ada kelanjutan, saya bersama kawan-kawan menyusun konsep Museum Huruf, baik secara grafis maupun struktural,” paparnya.

Padahal, kata Ade, proyeksi dalam konsep tersebut adalah museum Jember selayaknya dikelola oleh pemerintah daerah untuk bisa memberikan ruang publik bagi masyarakat dalam bentuk museum. Sehingga, masyarakat Jember bisa mengetahui karakter daerah masing-masing masyarakatnya. “Juga bagi orang-orang dari luar Jember, ketika masuk ke Jember dan ingin tahu Jember lebih jauh, mereka bisa datang ke museum,” lanjutnya.

Jember memiliki banyak potensi wisata budaya. Oleh karena itu, Ade ingin menduplikasi apa yang dia kerjakan di Probolinggo, karena arahnya sebenarnya sama. “Kami mencoba mengawali itu lewat Museum Huruf, supaya masyarakat Jember bisa peka mengenai potensi tersebut,” ujar Ade.

Dalam manajemen Museum Huruf ini terdapat program pengoleksian, pameran, dan edukasi. Pengoleksian artinya pengumpulan koleksi, serta memamerkan koleksi, baik di luar maupun di dalam museum, dan edukasi ke masyarakat tentang museum.

Tak hanya itu, beragam replika aksara dunia disajikan dalam ruang koleksi aksara. Di fase pertama adalah masa praaksara dan aksara awal, yang menjadi pembuka dari peradaban aksara di dunia. Pengunjung bisa memperoleh informasi mengenai bagaimana aksara pertama kali digunakan, apa saja aksara yang pertama-tama muncul, termasuk legenda di balik aksara tersebut.

Ada tiga koleksi replika dalam fase ini, yaitu aksara paku dari Simeria, aksara hieroglif dari Mesir, serta aksara Hanzi dari Tiongkok. “Dari tiga aksara tersebut inilah yang akan menjadi awal dari turunan aksara-aksara yang kini dikenal di seluruh dunia,” ujar Ade Sidiq Permana, pemilik Museum Huruf.

Di fase kedua terdapat aksara yang sudah lebih dipahami. Alih-alih simbol dan gambar yang ada di fase pertama, di fase kedua ini aksara sudah digunakan secara runtut dan berbentuk tulisan dengan fonem yang jelas. Sedangkan di fase ketiga, pengelola mengklasifikasikan khusus jenis-jenis aksara yang ada di Indonesia, seperti aksara Jawa, Sunda, Bugis, dan sebagainya.

Pemahaman mengenai aksara Nusantara ini juga menjadi salah satu program pengelola museum. Ade ingin mengajak generasi penerus untuk bisa membuka jendela melalui penulisan aksara. Sebab, anyak orang Indonesia yang tidak mengetahui aksara apa saja yang ada di Indonesia.

“Ini yang agak kritis. Saat ini kita masih fokus ke penulisan aksara Nusantara. Kami masih punya banyak aksara di Indonesia yang belum dipelajari dan diketahui, salah satunya ketika pengenalan aksara melalui kelas aksara,” paparnya.

Proyeksinya adalah mengenalkan aksara, baik secara historis maupun linguistik atau pembacaannya. Jika nanti tertarik untuk mengembangkan apa yang sudah didapat dari kelas aksara, mereka terbuka untuk belajar lebih lanjut.

Apalagi, lanjut pria yang kini mengajar di SMKN 5 Jember tersebut, substansi literasi museum aksara sangatlah luas. Sebab berkaitan dengan pengentasan buta aksara yang kini tengah menjadi program pemerintah pusat maupun daerah. “Untuk literasi keaksaraan, museum kami merupakan satu-satunya yang punya deskripsi koleksi Braille. Ini adalah bentuk partisipasi kami dalam keaksaraan agar lebih bervariasi dan bisa diakses semua kalangan,” tegasnya.

Sebagai seorang praktisi museum dan heritage, Ade mencari keunikan-keunikan dan nilai jual yang bisa dia sajikan kepada masyarakat Jember dan sekitarnya. Apalagi, lokasinya cukup strategis, berada di wilayah akademis. “Bisa memberi warna untuk pendidikan di Jember,” imbuhnya.

Ade serta pengelola lainnya selalu terbuka kepada siapa pun yang mau melakukan kegiatan dalam kerangka literasi. Mereka yang ingin berkegiatan literasi, bebas disilakan untuk datang ke sana. “Ini salah satu cara kami berpartisipasi dalam pengentasan buta aksara,” pungkasnya.

Reporter : Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :