Sepakat Berdamai Soal STDI, Enam Poin Kesepakatan Diteken

BAGUS SUPRIYADI/RADAR JEMBER SAE GUS: Kiri ke kanan: Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, Ketua MUI Prof Abdul Halim Subahar, Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Yayasan STDI Imam Syafii M. Arifin Badri, dan kepala Kantor Kemenag Jember H Busthami usai penandatanganan kesepakatan damai, kemarin.

RADARJEMBER.ID- Pertemuan antara tokoh agama, MUI dengan yayasan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiah (STDI) Imam Syafii yang difasilitasi Polres Jember di aula Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Jember kemarin sempat memanas. Meski demikian, pertemuan itu ditutup secara happy ending dengan menghasilkan kesepakatan berdamai.

IKLAN

Pertemuan ini kemarin memang digelar tertutup. Media juga dilarang meliput langsung. Informasi radarjember.id, kedua pihak mempertahankan argumen masing-masing. Sehingga, pertemuan berlangsung alot bahkan memanas. Namun, pertemuan yang dimulai sejak pukul 10.00 itu akhirnya diakhiri pukul 13.30 dengan enam kesepakatan.

“Ada enam poin kesepakatan damai untuk saling menghargai dan menjaga situasi kondusif di Jember yang tercinta ini,” terang AKBP Kusworo Wibowo usai pertemuan kemarin. Enam kesepakatan itu adalah semangat menjaga ukhuwah islamiah, wathoniah, dan basyariah; saling menghargai dengan sikap bekerja sama pada hal-hal yang disepakati, serta toleransi pada hal-hal yang berbeda.

Tidak menyebarkan paham yang di yakini kepada pihak lain yang memiliki paham yang berbeda dalam bentuk apa pun. Mengedepankan klarifikasi tabayun tentang hal-hal yang dapat memicu konflik horizontal. Para pihak sepakat untuk tidak melakukan segala bentuk kekerasan dan intimidasi. “Apabila masing-masing pihak melanggar terhadap kesepakatan ini, maka  mendapatkan konsekuensi hukum sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku,” jelas Kusworo

Dirinya mengakui, kesepakatan ini memang sebagai tindak lanjut adanya selentingan informasi yang mengancam gangguan kamtibmas. “Makanya diadakan forum kesepakatan ini, sehingga bisa menciptakan ukhuwah islamiah agar kondisi jember aman, kondusif, dan damai,”: tegasnya.

Kusworo mengakui bahwa kesepakatan ini sempat berjalan alot. “Karena tadi ada keluh kesah dari masing-masing pihak,” jelasnya. Karena ada kesepakatan bersama, maka ke depan diharapkan jika ada perbedaan lagi, segera dilakukan komunikasi dan meningkatkan koordinasi. Jika ada aspirasi, tidak perlu unjuk rasa turun ke jalan. Antarsesepuh bisa langsung bertemu.

Sementara itu, KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua PCNU Jember mengatakan, pertemuan ini untuk meningkatkan kebersamaan antarpihak yang berbeda pandangan satu dengan yang lainnya. “Untuk pandangan agama memang tidak bisa disatukan hingga kiamat,” tegasnya. Namun, dengan pertemuan ini, setidaknya bisa menguatkan ukhuwah islamiah dan wathoniah bersama. Dia menuturkan, minimal meski tidak bisa bersama dalam kesepahaman, tapi bisa bersama dalam perbedaan paham yang ada.

Sementara itu, M. Arifin Badri selaku Ketua Yayasan STDI Imam Syafii menghormati kesepakatan tersebut. “Kami menyambut baik kesepakatan ini, karena ternyata dengan sekadar duduk bersama bisa menyelesaikan masalah,” jelas Ali, kemarin. Minimal ini bisa menjadi cambuk untuk pihaknya. Yakni jika ada perbedaan, maka diharapkan bisa mengedepankan komunikasi dan silaturahmi.

Dirinya melihat ada banyak masalah besar lainnya yang sebenarnya perlu diselesaikan bersama dengan seluruh pihak sebagai umat Islam. Di antaranya ada masalah degradasi moral di kalangan anak muda, paham liberal, dan syiah yang harus menjadi masalah dan musuh bersama, yang dapat menghancurkan agama.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari aksi massa yang turun ke jalan, beberapa waktu lalu. Aksi yang dinamakan aksi Tolak Penjajahan Ideologi (Topi) Bangsa ini berlangsung karena ketersinggungan dari kalangan masyarakat, khususnya warga Nahdiyin di Jember.

Aksi massa ini mempermasalahkan keberadaan STDI yang dianggap menyudutkan dan melarang kegiatan Maulid Nabi. Selain itu, sejumlah tokoh agama ini juga memanas karena ada tulisan dari buletin STDI yang dianggap menyamakan kiai dengan dukun

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer:Bagus Supriadi

Reporter :

Fotografer :

Editor :