Kopka Hartono, Tentara yang Juga Seorang Pelukis Bangga ketika Karya Bisa Dihargai Hingga Rp 5 Juta

Jumai/Radar Jember SALURKAN HOBI: Kopka Hartono, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kepatihan, anggota Koramil Kaliwates ini sudah menghasilkan ratusan lukisan berkualitas tinggi di sela-sela kedinasannya.

RADARJEMBER.ID- Jika sudah menggoreskan kuas di kanvas, sosok pria ini terlihat layaknya seniman. Apalagi jika itu dilakukan di rumahnya di daerah Tegal Besar, Kaliwates Jember. Dekorasi rumahnya memang berbeda dengan rumah di sekitarnya. Berbagai benda etnik dan antik memenuhi ruangan rumah tersebut.

IKLAN

Tentu kita akan menganggap ini adalah rumah seorang seniman atau mungkin rumah seorang dengan kecintaan seni yang tinggi. Anggapan itu tidak salah, malah sangat cocok disematkan kepada sosok Hartono. Seorang seniman dan pelukis, serta perupa yang cukup terkenal di Jember.

Namun, masyarakat yang pertama kali bertemu dengannya tidak akan pernah menyangka bahwa dirinya seorang anggota prajurit aktif. Bahkan, dia kini menjabat sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kepatihan, Koramil Kaliwates di Kodim 0824 Jember. Setiap hari juga selalu dinas layaknya seorang militer. Sebab, memang sosoknya ramah dan cuek layaknya khas seorang seniman.

Ternyata, Kopka Hartono yang asli Mumbulsari ini sudah menekuni dunia seni sejak masih kecil. “Saya sudah melukis sejak kelas 4 SD,” tutur pria kelahiran asli Jember, 17 Agustus 1976 silam ini, saat disambangi di kediamannya beberapa waktu lalu.

Dia belajar melukis secara autodidak. Saat itu, dia sempat mewakili sekolahnya SDN Suco 5 Mumbulsari dalam lomba lukis. “Saat itu mengikuti Porseni SD tingkat Jawa Timur,” terang suami Anik Nur Rahmawati ini. Kemudian, dirinya pun terus mengembangkan kemampuan melukisnya secara autodidak.

Ayah dari Anisa Putri Maharani dan Ernita Astri Salsabila ini mengatakan, dirinya mengembangkan bakat seni lukis aliran naturalis, yakni bertemakan alam. “Karena muncul dari bakat, maka berbeda dengan yang mendapatkan ilmu melukis dari pendidikan formal,” ucap lulusan Secata Magetan ini.

Kopka Hartono pun juga kadang belajar melukis aliran lainnya. Termasuk surealis dan abstrak tanpa masalah. Dirinya juga mengaku, melihat lukisan-lukisan yang terkenal di internet sebagai hal yang tidak sulit. “Cuma kan kalah ide sama nama besar,” terang Hartono.

Untuk memperkuat karya lukisnya, dia juga banyak berguru ke sejumlah pelukis terkenal seperti pelukis senior Jember HM Ketut Sugame, yang tinggal di Kebonsari, Jember. Termasuk juga ke sejumlah pelukis lainnya.

Hingga kini, ada ratusan karya yang dihasilkan Hartono. “Ada satu lukisan bebek saya sampai dihargai Rp 5 juta,” terangnya.

Kini, dirinya mengaku terus produktif berkarya membuat lukisan. Dalam sebulan bisa sampai menghasilkan dua hingga tiga lukisan. Karena memang lukisan yang dihasilkannya di sela-sela kesibukan dinasnya di TNI sebagai salah satu sarana penyalur hobi.

Dirinya juga sering menerima pesanan dari masyarakat. “Biasanya melukisnya banyak di malam hari,” tutur alumnus SMPN 1 dan SMAN 2 Mumbulsari ini.

Namun, dia mengatakan, tidak mau jika diburu dengan waktu. Sebab, Hartono memang mementingkan kualitas asalkan jadinya juga lebih baik dan bagus.

Hartono menjelaskan, dia tidak hanya mendalami seni lukis. Pria yang juga anggota Komunitas Perupa Jember (KPJ) ini termasuk seniman patung. Dirinya sejak kecil memang sudah ikut bergabung dengan sanggar milik tokoh budayawan Jember Gus Oong, Mumbulsari Jember. “Saya juga pernah bergabung di sanggar tari Kediri saat masih bertugas di sana,” terangnya.

Dirinya juga mengoleksi benda-benda kuno atau istilahnya barang antik peninggalan zaman dulu. Sampai sekarang juga masih menekuni pembuatan taman batu-batuan/tebing untuk menyalurkan hobi seninya. Bersama rekan Dewan Kesenian Jember (DKJ) juga pernah membuat drama kolosal Jendral Sudirman 2015 dan 2016, serta drama kolosal perjuangan Moh Sroedji di Alun-alun Jember pada 2016 silam.

Meskipun sudah memiliki banyak keahlian, dirinya masih memiliki mimpi. Utamanya niat untuk ikut melestarikan budaya Jember. “Baik tradisional maupun sisi budayanya,” jelasnya.

Salah satunya dengan membuat kelompok sanggar yang mengangkat budaya asli Jember, yakni Can Macanan Kadhuk. Sebab, Jember memiliki kekayaan budaya yang beragam dengan pandhalungan-nya. Oleh karena itu, ke depan dia berharap mimpi ini bisa tercapai, sehingga budaya tradisional di Jember bisa tetap lestari

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :