Komunitas Arus Informasi Santri (AIS) Jember: Cara Santri Gunakan Gawai dan Memanfaatkan Medsos

Bagus Supriadi/Radar Jember SANTRI MILENIAL: Para anggota komunitas digital Arus Informasi Santri (AIS) Jember yang konsen membuat konten positif di medsos

JEMBER KOTADI Pesantren, setiap santri dilarang membawa gawai. Sebab akan menganggu kegiatan belajarnya. Bahkan, mereka juga tak bisa menonton televisi. Namun,  bukan berarti santri gagap teknologi.

IKLAN

Lihat saja, santri maupun alumninya yang tergabung dalam komunitas digital  Arus Informasi Santri (AIS) Jember ini. Mereka begitu melek dengan media sosial. Tak hanya bisa mengelola akun, tetapi juga membuat konten positif.

“Kamu punya desain grafis sendiri, seorang santri,” kata Mahbub Junaidi, koordinator AIS Jember. Tak jarang, komunitas ini memberikan edukasi digital bagi para santri. Yakni melalui kegiatan sinau desain grafis di pondok pesantren.

AIS Jember masih baru berdiri, tepatnya 8 April 2018 lalu. Pengikutnya di instagram (IG) masih 783. namun, komunitas ini mengajak 30 akun instagram yang fokus tentang santri. Misal akun IG isun santri, santri Jember dan beberapa pengelola IG pesantren.

Komunitas ini tak hanya di Jember, namun ada AIS Jawa Timur hingga AIS nasional. Sabtu 7 Juli lalu, Mahbub mengikuti kegiatan Kopi Darat (Kopdar) nasional di Jawa Tengah. Membahas tentang tantangan santri di era digital.

Pria kelahiran 27 Maret 1995 ini mengatakan media sosial terus berkembang sangat pesat. Inovasi teknologi selalu muncul sehingga menimbulkan permasalahan baru. Hanya saja, Sumber Daya Manusia (SDM) belum mampu menghadapi kecanggihan teknologi itu. Akibatnya, internet tidak digunakan secara bijaksana.

“Indonesia sebagai negara berkembang tidak  akan pernah  bisa   maju   jika belum  memperbaiki kualitas SDM,” terangnya. Terutama dalam bidang teknologi. Untuk itulah, para santri itu membentuk komunitas guna meningkatkan literasi digital masyarakat, terutama santri.

Sekarang, lanjut dia, konten di media sosial sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Mulai dari  anak-anak, muda, dewasa hingga orang tua. Gawai sudah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka. “Media sosial sudah seperti kebutuhan pokok yang harus dipenuhi,” tutur mahasiswa IAIN Jember tersebut.

Prihatin dengan penyalahgunaan gawai, para santri ini bergerak untuk mengkampanyekan konten baik ala santri. Mulai dari kisah hikmah santri, quote kiai, kata bijak dan lainnya. Bahkan pesantren juga mulai memperkenalkan diri melalui media sosial.

Kehadiran Komunitas AIS menjadi oase ditengah maraknya berita bohong, tidak proporsional dan cenderung menfitnah orang lain. Para santri yang memiliki basis ilmu keislaman ini menjadi agen untuk menebarkan Islam Rahmatan lil alamin..

“Ini tidak hanya di IG, namun juga  Facebook, Twitter, Telegram, WhatsApp, Line dan  media sosial lainnya,” jelasnya. AIS nasional sudah memiliki pengikut  lebih dari tiga  juta.

Jember sendiri, kata pria asal Kecamatan Silo itu, gerakan literasi perlu terus ditingkatkan. Sebab pengguna gawai terus meningkat, mereka perlu dilatih agar bijak menggunakan media sosial. “Kami juga mengajari para santri membuat konten IG yang positif,” tambahnya.

Selain itu, anggota komunitas yang terdiri dari 30 peserta itu rajin menggelar Kopdar. Tujuannya untuk sharing tentang konten yang aka diunggah di media sosial. Tentunya, konten yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam mengelola akun media sosial, komunitas AIS Jember memiliki cara tersendiri. Mereka menentukan jadwal untuk diunggah. Misal bulan puasa lalu, konten yang mereka buat tentang puasa. Seperti keutamaah berpuasa, tarawih dan jadwal imsak.

“Tergantung momentumnya juga membuat konten,” tambahnya. Selain itu, mereka juga membuat meme yang mendidik. Setiap hari, mereka posting satu hingga tiga gambar di media sosial. Kemudian, disebarkan kepada 30 akun IG yang tergabung di AIS Jember.

Melalui komunitas itu, banyak santri dan pesantren yang mulai melek media sosial. Mereka membuat akun medsos sendiri untuk ikut mengisi konten yang positif. “Akun medsos pesantren dikelola oleh pengurus pesantren, karena santri dilarang bawa gawai,” tambahnya,

Proses pembuatan konten medsos, AIS Jember memiliki tim dengan berbagai bakat. Ada yang khusus membuat tulisan menarik dan bermanfaat. Lalu diteruskan pada desain grafis. Kemudian ada bagian yang membagikan. “Kadang kami kehabisan ide untuk membuat konten,” tuturnya. Untuk itulah, mereka sering mengadakan Kopdar untuk saling berbagi informasi. AIS Jember tak hanya menyajikan konten tentang santri.

Namun mereka juga melawan berita palsu. Ketika ada hoax, mereka menganalisa, bila konten itu palsu, langsung mengabarkan bahwa itu palsu.

Akun medsos yang mereka buat tidak untuk dikomersialkan. Mereka tidak menerima endorse. Hanya untuk menyajikan konten yang bermanfaat bagi netizen. “Untuk bisnis, santri dilatih sendiri, seperti mendirikan online shop,” pungkasnya. (ras)

Reporter :

Fotografer :

Editor :